Rabu, 26 Juni 2019
presskon di Media Center Kemenko Polhukam (Diah/era.id)
11 Juni 2019 19:29 WIB

Pengakuan Tersangka Eksekutor Empat Jenderal

Para tersangka juga mengincar nyawa pimpinan lembaga survei Charta Politika
Bagikan :
Jakarta, era.id - Polda Metro Jaya telah menetapkan enam tersangka perencana pembunuhan terhadap empat tokoh nasional dan satu pimpinan lembaga survei saat kerusuhan 21-22 Mei di depan gedung Bawaslu dan beberapa titik lain.

Penjelasan ini diungkap oleh Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Muhammad Iqbal, Wadirkrimum Polda Metro Jaya AKBP Ade Hary, dan Wadir Direktorat Reskrimum Polda Metro AKBP Arie dalam konferensi pers di Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta Pusat, Selasa (11/6/1019).

"Adanya persesuaian keterangan saksi 1 dan lain dan persesuaian keterangan saksi dan barang bukti, persesuaian keterangan tersangka dan barang bukti, mereka ini bermufakat melakukan kejahatan pembunuhan berencana terhadap 4 tokoh nasional dan 1 Direktur Eksekutif Charta Politika, lembaga survei," papar Ade. 

Dari sini, polisi memperlihatkan kesaksian tiga tersangka lewat rekaman video untuk membunuh sejumlah tokoh. Para tersangka berbagi peran sebagai leader, pencari eksekutor, eksekutor, pencari senjata api, dan orang yang menjual senjata api ilegal.

Adapun 4 tokoh nasional yang nyawanya ditargetkan ialah Menko Polhukam Wiranto, Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan, KaBIN Budi Gunawan, dan Gories Mere. Tak hanya itu, para pelaku juga mengincar nyawa Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya.

Salah satu tersangka bernama H Kurniawan alias Iwan yang mengungkap peran Kivlan Zen. Mantan Kepala Staf Kostrad Mayjen (purn) Kivlan Zen yang juga jadi tersangka makar itu disebut memberi perintah para pelaku dalam rencana pembunuhan empat tokoh nasional itu. 

"Peran Kivlan memberi perintah kepada tersangka HK untuk mencari eksekutor pembunuh," kata Ade.

Menurutnya, Kivlan juga memberi uang Rp150 juta kepada tersangka HK untuk membeli senjata api yang akan digunakan saat mengeksekusi atau membunuh empat tokoh nasional serta satu orang pimpinan lembaga survei. 

Kivlan juga menyerahkan uang Rp5 juta kepada tersangka lainnya, yakni IT, untuk melakukan pengintaian terhadap satu orang pemimpin lembaga survei yang juga digadang-gadang untuk dibunuh. 

Pemaparan polisi kembali diperkuat dengan kesaksian Iwan terkait kejadian pada 21 dan 22 Mei. Di mana Iwan mengaku diperintahkan oleh Kivlan untuk membeli senpi pada Maret di sekitar Kelapa Gading, Jakarta Utara. 

"Saya diamankan pada 21 Mei terkait ujaran kebencian, kepemilikan senpi, dan ada kaitan dengan Mayjend Kivlan Zen. Sekitar Maret dipanggil ke Kelapa Gading. Saya diberi uang 150 juta untuk beli senjata laras pendek dua pucuk," katanya dalam rekaman video yang diputar polisi.



Video pengakuan HK alias Iwan (Diah/era.id)

Saat ditangkap, Iwan kedapatan memegang senjata revolver kaliber 38 magnum dan peluru sekitar 100 butir untuk dibawa ke lokasi demo pada 21 Mei. "Dan tanggal 21 itu adalah aksi pemanasan demo di KPU, cuma karena memang massanya belum ramai saya segera kembali ke pangkalan yaitu di Jalan Proklamasi Nomor 36," tutur Iwan. 

HK mengatakan senjata yang dimiliki didapat dari seorang ibu yang masih termasuk keluarga besar TNI. Senjata itu berhasil dia dapatkan dengan menjaminkan uang Rp50 juta.

"Sedangkan senjata mayer kaliber 22 dan ladies gun kaliber 22 saya dapat dari saudara Adnil. Yang mayer saya percayakan kepada saudara Armi, pengawal, ajudan, bapak Kivlan Zen dan satu lagi ladies gun saya percayakan kepada saudara Udin," kata Iwan.

Tak hanya Iwan, polisi juga memutar rekaman kesaksian eksekutor lainnya, IR alias Irfansyah. Dalam kesaksiannya Irfan mengaku mendapat perintah untuk mengeksekusi pimpinan lembaga survei Charta Politika Yunarto Wijaya. 

Kivlan disebut Irfan memberikan alamat dan memintanya untuk mengintai kediaman Yunarto. "Lalu beliau bilang 'saya kasih uang operasional Rp5 juta cukuplah untuk bensin, makan, dan uang kendaraan lalu saya jawab siap. Beliau bilang lagi 'kalau ada yang bisa eksekusi saya jamin anak istrinya dan liburan kemanapun'," ucap Irfan mengutip percakapan dengan Kivlan. 



Aliran dana

Hal selanjutnya yang diungkap polisi adalah penangkapan seorang politikus PPP Habil Marati alias HM. Ia disebut sebagai donatur pembelian senjata ilegal yang akan digunakan Kivlan Zen untuk membunuh empat tokoh nasional dan pimpinan lembaga survei itu.

"Dia adalah seorang laki-laki yang tinggal di Kebayoran Lama Jakarta Selatan. Tersangka HM ditangkap di rumahnya Rabu 29 Mei 2019. Tersangka HM berperan memberikan uang, yang diterima dari KZ berasal dari HM maksud ya untuk beli senjata api," kata Wadirkrimum Polda Metro Jaya AKBP Ade Hary. 

Dalam rencana pembunuhan terhadap 4 tokoh nasional itu, Habil Marati berperan sebagai pemberi uang sebanyak SGD 15 ribu (sekitar Rp150 juta) kepada Kivlan Zen. Selain itu dia juga memberikan uang Rp60 juta untuk biaya operasional kepada tersangka HK alias Iwan.

"Tersangka HM ini juga beri uang Rp 60 juta kepada tersangka KZ. Untuk operasional dan beli senpi. Dari HM kami sita HP untuk komunikasi dan juga sebuah print out rek bank milik tersangka HM," jelas Ade Hary.
Bagikan :
Topik :

Reporter : Diah Ayu Wardani
Editor : Aditya Fajar
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU
megapolitan
25 Juni 2019 21:57 WIB

Mungkin ini Penyebab LRT Velodrome-Kelapa Gading Belum Beroperasi

Ada bau yang tak sedap sepertinya...
 
Nasional
25 Juni 2019 19:15 WIB

TKN Gelar Nobar Putusan Sidang Gugatan Prabowo

Daripada turun ke jalanan dan demo mending nonton di TV
Nasional
25 Juni 2019 18:48 WIB

Bakal Ada Demo di MK, Wiranto: Apa yang Diperjuangkan?

Apa yang kalian cari, wahai ferguso?
Nasional
25 Juni 2019 18:10 WIB

Ahok yang Terseret Kala Denny Indrayana Sindir Eddy Hiariej

Semua karena Ahok....
Nasional
25 Juni 2019 18:05 WIB

VIDEO: Palsukan Ijazah, Pelawak Qomar Ditahan

Qomar telah ditahan sejak Senin malam