Sabtu, 24 Agustus 2019
Ilustrasi (Mahesa/era.id)
12 Juli 2019 21:04 WIB

Silang Keyakinan Satu Nilai di 'Dapur' Akun Garis Lucu

Lewat dapur akun Garis Lucu, kita lihat bagaimana silang keyakinan jadi kekayaan
Bagikan :


Jakarta, era.id - Gerakan "Garis Lucu" dimulai 2015 oleh sebuah akun Twitter bernama @NUgarislucu. Sejak itu, akun-akun Garis Lucu lain bermunculan. Bersama-sama, mereka menciptakan iklim kehidupan yang lebih adem, toleran, dan penuh tawa tentu saja. Kami mewawancarai sejumlah admin akun Garis Lucu, melihat bagaimana gerakan ini berjalan. Nyatanya, cara kerja mereka turut merefleksikan ikatan antargolongan yang begitu kuat. Asyik!

Agus di Denpasar, ketika ia membuat akun Twitter @BuddhisGL pada Mei 2019 lalu. Dari Pulau Dewata, ia mengamati kehidupan bertoleransi di seluruh negeri, yang menurutnya mulai menyebalkan, terutama sejak Pemilu 2019 bergulir. Terinspirasi dari sepak terjang akun Twitter @NUgarislucu yang ia ikuti, Agus kemudian membuat akun @BuddhisGL sebagai representasi dari agama Buddha yang ia yakini.

Seperti @NUgarislucu yang merepresentasikan agama Islam, akun-akun lain yang muncul belakangan juga mewakili kelompok SARA dan golongan minoritas lain. Setelah @NUgarislucu, ada @BuddhisGL, @KatolikGL, @HinduGL@KonghucuGL@Jawa_GL, hingga @MuhammadiyahGL, akun terdepan yang mengikuti jejak @NUgarislucu.

Agus dan sejumlah admin akun Garis Lucu kemudian saling mengontak satu sama lain. Dari saling me-mention di tiap-tiap unggahan mereka, kemudian terbentuklah jejaring maya. Para admin --kecuali dua akun 'senior' @NUgarislucu dan @MuhammadiyahGL-- kemudian bergabung dalam sebuah grup Telegram yang mereka sebut GL Sejagat.


Baca Juga : Timpal-timpalan Kocak Akun Garis Lucu

"Pokoknya, yang akunnya muncul pada bulan Mei itu kami hampir serentak. Padahal kami tidak saling kenal, tapi jadi saling kontak," kata Agus ketika kami hubungi pekan lalu.

Dalam grup itu, para admin Garis Lucu kerap bertukar pikiran terkait konten dan narasi yang akan mereka lempar. Bukan apa-apa, meski memiliki banyak kesamaan visi, tiap-tiap akun tetap mewakili masing-masing kelompok SARA yang memiliki ajaran dan nilai yang berbeda. Diskusi jadi hal penting dalam gerakan ini. Tujuannya, untuk memastikan gagasan yang mereka lempar tak melukai keyakinan kelompok yang lain.

"Kadang, ide ringan, lalu digarap sendiri ... Kita tinggal komen dan RT (konten akun lain). Kadang juga dibahas bersama sedikit apakah ide itu menarik," tutur Agus.


Infografis (Ilham/era.id)


Kepala di balik akun

Dalam memproduksi kontennya, masing-masing akun menjalani proses yang berbeda di dalam dapur produksi mereka, termasuk jumlah kepala yang terlibat di dalam produksi konten di tiap-tiap akun. Sepanjang pengetahuan Agus, luasnya paparan akun akan memengaruhi seberapa banyak admin yang dibutuhkan.

Ia sendiri mengalami. Agus saat ini mengelola akun @BuddhisGL sendirian. Meluasnya paparan @BuddhisGL mendorong Agus untuk cari bantuan.

"Saya mau cari admin lagi sebenarnya, supaya bisa gantian," kata Agus.

Sementara itu, admin @KatolikGL nampaknya masih malu-malu. Ia menolak identitasnya disebut. Lewat fitur Direct Message Twitter, kami berbincang dengan sang admin. Ia menuturkan, saat ini akun @KatolikGL diperkuat oleh belasan orang. Rinciannya, empat admin dan tujuh sampai sepuluh orang lain yang berperan mengonsep konten.

"Di belakang kita ada tujuh sampai sepuluh orang yang kita ajak ngobrol," tuturnya.

Sang admin juga mengungkap, kebanyakan orang di dalam tubuh @KatolikGL adalah mereka yang berlatar belakang ilmu filsafat. Jika mengikuti sepak terjang @KatolikGL, kamu akan menangkap hal ini. Betapa filosofisnya konten-konten yang mereka lempar. 

"Jadi, memang yang tentunya di balik sesuatu ada sesuatu. Karena kita mainnya main-main simbol, main pemaknaan dan sebagainya," ungkap admin @KatolikGL.

Terkait target konten per hari, admin @KatolikGL mengatakan, mereka mematok lima sampai sepuluh konten yang harus diunggah setiap harinya. "Kalau untuk materi, sebenarnya terlalu banyak materi juga nanti enggak bagus, terlalu sedikit juga enggak bagus," katanya.  

Admin akun @MuhammadiyahGL yang juga meminta identitasnya dirahasiakan menjelaskan kekuatan di balik akun lewat kalimat yang menggambarkan kejenakaan mereka: Pada awalnya ada tujuh orang, sekarang ada sembilan dikurangi dua.


Silang keyakinan antar-akun

Lalu, perlukah seorang admin akun media sosial yang merepresentasikan agama-agama tertentu itu memiliki pemahaman mendalam soal agama yang mereka wakili? Jawabannya, tak selalu. Menurut admin @MuhammadiyahGL, pemahaman agama adalah hal relatif. Yang jelas, setiap kepala di balik akun @MuhammadiyahGL bertanggung jawab untuk mendiskusikan setiap konten berdasar wawasan dan pandangan mereka.

"Harus mencintai Muhammadiyah dengan segenap jiwa, raga dan kuota ... Karena, itu (pemahaman agama) tidak bisa dinilai kasat mata," katanya.

Diskusi macam yang dilakukan @MuhammadiyahGL ini nyatanya juga dilakukan orang-orang di balik akun Garis Lucu lainnya. Mereka sadar, apa yang mereka mainkan adalah hal sensitif. Salah-salah, bisa pecah. Komunikasi di dalam dan di luar --diskusi dengan akun lain-- jadi hal penting bagi mereka. Ya, seperti yang sudah di jelaskan di atas, bahwa bagaimanapun, setiap akun membawa tujuan berbeda berdasar keyakinan masing-masing.

Admin @KatolikGL, misalnya. Ia mengatakan, selain melawan sepak terjang kelompok garis keras, @KatolikGL juga ingin mengubah persepsi masyarakat terhadap umat Katolik yang terlanjur distigma kelewat formal, serius, dan kaku. "Jadi orang Katolik yang santai, ringan, lucu, dan menempatkan iman Katolik di ruang sosial dan ruang kemanusiaan," katanya.

Sementara itu, Agus @BuddhisGL mengungkapkan, tujuannya membuat akun @BuddhisGL ini adalah untuk memancing umat Buddha agar terus memperdalam pemahaman mereka tentang agama Buddha. "Semacam pemancing untuk mereka belajar kembali agama Buddha. Tapi bukan belajar di Twitter," kata Agus.

Meski begitu, Agus bilang, tak ada tujuan 'Buddhasisasi' alias menyiarkan agama Buddha untuk mengajak penganut agama lain masuk ke Buddha. Ia berani menjamin itu, sebab tak ada ajaran agama Buddha untuk mengajak orang masuk ke agama Buddha.

"Jadi, target kami sebagai umat Buddha bukan memperbanyak umat Buddha, tapi bagaimana umat Buddha yang ada, keyakinannya semakin dalam dan memiliki pengertian yang benar dari buddha ini," katanya.

Walau memiliki perbedaan keyakinan dan tujuan, seluruh akun Garis Lucu sejatinya dipersatukan oleh nilai-nilai yang mereka tumbuhkan bersama, yaitu nilai toleransi, persatuan, kedamaian, cinta, serta tawa pastinya.
Bagikan :

Reporter : Ramdan Febrian Arifin
Editor : Yudhistira Dwi Putra
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU
Nasional
23 Agustus 2019 21:33 WIB

Kunjungi Festival Indonesia Maju, Megawati Nostalgia Saat Jadi Presiden

Acaranya masih ada sampai 25 Agustus, ke sana yuk mblo~
Nasional
23 Agustus 2019 21:01 WIB

OPM Diduga Tunggangi Kerusuhan di Papua

"OPM itu amat merugikan bagi masyarakat Papua itu sendiri"
Nusantara
23 Agustus 2019 20:17 WIB

Satu Anggota KKB Tewas dalam Kontak Senjata di Pasar Wamena

Polisi dan masyarakat juga ikut terluka~
megapolitan
23 Agustus 2019 19:11 WIB

Komisi Impian Tina Toon di DPRD

Tina Toon akan tempati DPRD DKI Jakarta. Apa yang ideal buat Tina?
Nasional
23 Agustus 2019 18:15 WIB

Banyak Masalah Kesenjangan di Papua yang Ditutupi

"Ada kesenjangan ekonomi, HAM, dan keamanan yang harus kita evaluasi"