Sabtu, 24 Agustus 2019
Sinema Jagat Bumilangit. (Foto: Istimewa)
21 Juli 2019 11:16 WIB

Bumilangit Menatap Masa Depan dengan Jagat Sinemanya

Memperkenalkan era jawara dan era patriot hanya di era dot id~
 
Bagikan :


Jakarta, era.id - Semenjak film Gundala diumumkan akan digarap oleh sutradara kawakan Joko Anwar, semua pecinta sinema Indonesia bersorak kegirangan. Antusiasme tersebut semakin membuncah menjelang perilisan film tersebut yang recananya akan tayang kurang lebih enam minggu lagi, tepatnya 29 Agustus 2019. 

Apalagi setelah mendengar kabar bahwa Gundala akan menjadi film pertama yang mengangkat jagoan-jagoan dari Jagat Bumilangit. Akan ada banyak jagoan lainnya yang juga dipersiapkan untuk penonton sinema Indonesia mulai dari 2019 sampai 2025 mendatang. 

"Gundala akan memulainya. Dan Gundala juga yang akan jadi karakter pemersatu dengan jagoan lainnya," ucap Joko Anwar saat ditemui era.id, beberapa waktu lalu. 

Lalu apa isinya Jagat Bumilangit? 


Baca Juga : Film Bumi Manusia di Mata Partai Politik

Sebelum menguak apa saja isinya, ada baiknya berkenalan dengan Bumilangit. Bumilangit yang berdiri sejak tahun 2003 adalah sebuah perusahaan hiburan berbasis karakter terdepan di Indonesia yang mengelola pustaka karakter terbanyak, sekitar 1.000 lebih karakter ciptaan banyak komikus legendaris Indonesia. 

Nama-nama legenda seperti bapak komik Indonesia RA Kosasih, Ganes TH., Hasmi, Jan Mintaraga, Mansyur Daman, Wid NS, Nono GM, Banuarli Ambardi, Mater sampai Iwan Nazif dan Is Yuniarto merupakan original artist yang karyanya dilisensi di Bumilangit.

Bumilangit membuat benang merah dalam jagatnya sehingga antara puluhan karakter tersebut saling terkoneksi. Berdasarkan media rilis yang diterima meja redaksi era.id, Jagat Bumilangit dimulai sejak Letusan Toba 75.000 SM.

Jagat Bumilangit terbagi atas empat era yaitu era legenda, era jawara, era patriot, dan era revolusi. Namun untuk sinematiknya, Bumilangit lebih berfokus kepada dua era saja. Yaitu era jawara dan era patriot.

Era jawara adalah eranya para pendekar, mereka ada di masa kerajaan nusantara. Jagat Jawara memiliki 500 karakter dengan 50 judul komiknya yang telah diterbitkan. Di antaranya ada Si Buta dari Gua Hantu dan Mandala.

Sedangkan era patriot adalah eranya para jagoan. Mereka ada di masa saat ini. Untuk Jagat Patriot terdiri dari 700 karakter dan 110 judul komiknya, yang telah diterbitkan dan dijual. Sepanjang sejarahnya komik-komik ini telah terjual lebih dari dua juta dan dibaca oleh lebih dari sepuluh juta orang.

Karakter-karakter terkemuka yang termasuk di dalamnya adalah Gundala, Sri Asih, jagoan pertama Indonesia yang diciptakan tahun 1954, lalu Godam, Tira, Sembrani dan masih banyak lagi lainnya.

Gundala dipilih menjadii pembuka dari seluruh Jagat Sinema Bumilangit yang mewakili era patriot. Kembalinya karakter ciptaan Hasmi ke layar lebar ini diharapkan dapat memperlihatkan ke generasi baru bahwa Indonesia mempunyai karakter jagoan yang layak dibanggakan.

Setelahnya akan ada film-film lain dari karakter yang ada di Jagat Bumilangit yang diproduksi. Selain itu, ada kabar bahwa tokoh Si Buta dari Goa Hantu penggarapan yang diharapkan akan mewakili era jawaranya Jagat Sinema Bumilangit. Berikut sedikit teaser penjelasan tentang Jagat Bumilangit tentang para karakter jagoan dan dunianya. 
 
 
Bagikan :

Reporter : Maretian
Editor : Ahmad Sahroji
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU
Nasional
23 Agustus 2019 21:33 WIB

Kunjungi Festival Indonesia Maju, Megawati Nostalgia Saat Jadi Presiden

Acaranya masih ada sampai 25 Agustus, ke sana yuk mblo~
Nasional
23 Agustus 2019 21:01 WIB

OPM Diduga Tunggangi Kerusuhan di Papua

"OPM itu amat merugikan bagi masyarakat Papua itu sendiri"
Nusantara
23 Agustus 2019 20:17 WIB

Satu Anggota KKB Tewas dalam Kontak Senjata di Pasar Wamena

Polisi dan masyarakat juga ikut terluka~
megapolitan
23 Agustus 2019 19:11 WIB

Komisi Impian Tina Toon di DPRD

Tina Toon akan tempati DPRD DKI Jakarta. Apa yang ideal buat Tina?
Nasional
23 Agustus 2019 18:15 WIB

Banyak Masalah Kesenjangan di Papua yang Ditutupi

"Ada kesenjangan ekonomi, HAM, dan keamanan yang harus kita evaluasi"