Rabu, 03 Juni 2020
01 April 2020 11:05 WIB

Cerita dari Wei Guxian, si Penjual Udang yang Diduga 'Pasien Nol' Virus Korona

Dari sini virus yang menulari ratusan ribu orang itu dimulai
Bagikan :


Jakarta, era.id - Pada 10 Desember 2019, Wei Guxian mengaku terserang flu. Perempuan berusia 57 tahun itu pun kemudian pergi ke klinik terdekat untuk berobat. Wei mungkin tidak pernah membayangkan bahwa flu yang diidapnya bukan penyakit sembarangan, melainkan sebuah pandemi global --kelak dinamakan COVID-19-- yang per hari ini telah menewaskan 42.043 orang dan menularkan 854.608 jiwa.

Setelah diberi obat dari klinik, Wei kembali menjalankan aktivitasnya sebagai pedagang udang di Pasar Seafood Huanan di Wuhan. Namun, setelah seminggu berlalu, sakit yang diderita Wei kian parah. 

Ia pun memutuskan untuk pergi ke Eleventh Hospital di Wuhan untuk mendapatkan perawatan. Sayangnya, pihak dokter tak mampu mendeskripsikan penyakit yang dideritanya, sehingga mereka hanya memberi Wei obat berupa pil. 

Tepatnya pada 16 Desember 2019, Wei merasa kondisi kesehatannya kian memburuk. Ia lantas pergi ke rumah sakit terbesar di kota, Wuhan Union Hospital.


Baca Juga : Kemen PPPA Tegaskan New Normal di Satuan Pendidikan Harus Utamakan Anak

"Saya tidak nyaman. Rasanya seperti tidak punya tenaga," kata Wei, seperti dikutip New Indian Express.



Sesampainya di rumah sakit tersebut, Wei diberi tahu oleh pihak medis, saat ini dia tengah mengidap penyakit "kejam". Pihak rumah sakit pun menceritakan bahwa banyak pasien dari pasar Huanan yang mengalami gejala yang sama saat berobat ke Wuhan Union Hospital. 

Walhasil, Wei pun dikarantina oleh pihak kesehatan. Para dokter menemukan adanya hubungan antara virus dengan pasar. Temuan dari studi review menyimpulkan bahwa virus korona kemungkinan menjadi virus endemik kelima pada manusia. 

Wei mendapatkan kembali kesehatannya pada bulan Januari 2020. Banyak yang menduga ia terjangkit COVID-19 dari toilet yang ia pergunakan di pasar. Ia mengatakan bahwa toilet itu digunakan bersama-sama oleh penjual daging atau pengguna lain di pasar.



Dia bercerita bahwa beberapa orang yang berdagang di dekatnya juga menderita penyakit yang sama. Komisi Kesehatan Kota Wuhan mengonfirmasi Wei termasuk di antara 27 pasien pertama yang dites positif COVID-19 dan satu dari 24 kasus yang berhubungan langsung dengan pasar.

Meskipun diidentifikasi sebagai 'pasien nol', Wei mungkin bukan orang pertama yang terkena virus korona di Tiongkok. Sebuah studi jurnal medis menyebut orang pertama yang didiagnosis dengan COVID-19 teridentifikasi pada 1 Desember.

Sebelumnya, Pemerintah China menutup akses kota Wuhan dan Provinsi Hubei, pada pertengahan Februari lalu. Warga Provinsi Hubei dilarang keluar rumah dan meninggalkan kota hingga hampir dua bulan lamanya. 

Kini pemerintah China sudah membuka kembali provinsi Wuhan karena tak lagi menemukan kasus penularan virus korona. Aktivitas warga sehari-hari mulai menggeliat, jalan-jalan mulai ramai, dan kegiatan jual beli di pasar mulai bergerak.
 

Pasar Huanan atau Huanan Seafood market pun sudah buka kembali. Padahal virus korona baru pertama kali ditemukan di pasar yang memperdagangkan hewan-hewan langka untuk dikonsumsi manusia. Hal itulah yang menyebabkan virus yang biasa menyerang binatang itu akhirnya menulari manusia.

"Pasar telah kembali beroperasi dengan cara yang persis sama seperti yang mereka lakukan sebelum adanya virus korona," ujar seorang koresponden ketika mengunjungi pasar, seperti dilansir Dailymercury, Selasa (31/3).

Namun, nampaknya para pedagang mulai buka secara ilegal karena pemerintah China sudah melarang penjualan hewan liar di pasar tersebut pada Februari lalu. "Satu-satunya perbedaan adalah penjaga keamanan mencoba menghentikan siapa pun untuk mencoba memotret keadaan pasar." lanjutnya.
Bagikan :
Topik :

Reporter : Adelia Hutasoit
Editor : Ahmad Sahroji
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU