Rabu, 22 Mei 2019
Ilustrasi (Pixabay)
12 Maret 2019 18:27 WIB

Banyak Band Bagus Tapi Enggak Sadar Publikasi

Model kayak gini, banyak ditemui dari anak band yang saya wawancarai
Bagikan :


Jakarta, era.id - Saat memilih profesi sebagai jurnalis musik lebih dari 10 tahun silam, saya berjanji untuk lebih memberi ruang publikasi kepada band-band baru atau para pelaku musik berkategori 'underrated' (tidak besar tapi memiliki potensi) di media tempat saya bekerja. Bukan bermaksud menjadi pahlawan kesiangan. Tapi, lebih kepada dari mana saya berasal.

Saya lahir di sebuah desa yang jaraknya 22 km dari pusat Kota Bogor, Jawa Barat. Di mana saat masih remaja (awal '90-an) dan jadi anak band, untuk menyewa studio latihan saja harus menempuh jarak berkilo-kilo meter dengan menggunakan angkot. Bahkan tidak jarang pula ngompreng naik truk layaknya anak STM lantaran tidak punya cukup uang lagi buat pulang.

Bukan! Bukan! Ini bukan kisah Cinderella yang ayahnya meninggal dunia dan lantas dibenci ibu dan saudara-saudara tirinya, tinggal di loteng bersama tikus-tikusnya, lalu bertemu pangeran dan hidup bahagia selamanya.

Ini cuma cerita band biasa yang para personelnya berkhayal menjadi Guns N' Roses, Slank, Ugly Kid Joe, Metallica, dan Edane. Band-band idola remaja saat itu. Dan kami tidak sendiri, begitu banyak band seangkatan kami yang juga ingin seperti idolanya, membawakan lagu-lagu band favorit semirip aslinya, dan dikenal banyak orang. Tapi, untuk merealisasikan peribahasa 'banyak jalan menuju Roma' ternyata memang butuh ongkos.


Baca Juga : Kisah Dua Coblosan

Pernah suatu ketika band kami mendaftarkan diri untuk tampil di acara ajang pencarian bakat, ABG (Aneka Bakat dan Gaya) di televisi swasta TPI (sekarang MNC) sekitar tahun 1994. Ya, namanya juga band hobi, kami tidak pernah berpikir untuk mempersiapkan kelengkapan promosi seperti foto, profil dan wardrobe. Sampai saat tim program televisi itu meminta kami untuk mengisi formulir dan menyerahkan kelengkapan tadi, kelabakan! 

Selembar foto band seadanya yang terpasang di album foto pribadi milik saya kami copot. Dengan latar belakang dinding yang hanya berlapis adonan semen dan dicetak hitam putih, saat itu, sesungguhnya sudah termasuk foto golongan penuh estetika. Tapi sayangnya, wardrobe kami terlalu biasa-biasa saja dan tidak menunjukkan sebagai anak band. Kami juga menyerahkan kaset rekaman sesi latihan kami dengan kualitas ala kadarnya. Yang level tata suaranya bakal bikin gendang kuping tertusuk-tusuk. Padahal, poin-poin ini bisa menjadi pertimbangan layak tidaknya kami tampil di sana.

Singkat kata, meski produser dari program ajang pencarian bakat tersebut berasal dari daerah yang sama dengan kami, ternyata dia tetap profesional. Dan memang seperti itulah seharusnya. Kata-kata 'manis' dia yang berbunyi: 'Tunggu kabar dari kami ya, pokoknya siap-siap saja' ternyata menjelma menjadi kabar yang sama sekali tak kunjung tiba sampai kemudian 'negara api pun menyerang'. Band kami gagal masuk TV!

Detik berubah menjadi menit, menit menjadi jam, jam menjadi hari, hari menjadi pekan, pekan menjadi bulan, bulan menjadi tahun, hingga saya pun tidak lagi menjalani keseharian sebagai anak band. Jurnalis musik di salah satu media cetak independen menjadi pilihan saya berikutnya. Ibarat dendam terhadap masa lalu, saya bertekad membantu band-band daerah yang tidak diperhitungkan dan kerap dianggap jelek melalui media ini.

Tapi ternyata, kemajuan zaman tidak serta merta mengubah pola pikir manusia. Teknologi seperti barang  haram yang enggak boleh disentuh. Seperti halnya band masa remaja saya, sebagian besar band yang coba saya beri ruang publikasi ternyata tidak memperdulikan kelengkapan promosi. Hasilnya, saya harus ekstra sabar menghadapi mereka. Apalagi ketika deadline (karena saat itu media cetak yang terbit bulanan) sudah mepet.


Ilustrasi (Pixabay)

Saya kerap menghadapi ketidakmampuan para personel band dalam memberikan jawaban dari pertanyaan wawancara yang saya berikan. Ketika saya memberikan pertanyaan detail secara face to face dengan harapan si narasumber memahami apa yang saya maksud, ternyata dia hanya menjawab singkat: “Oh...iya begitu, mas.” Alhasil, saya harus menggali lebih dalam lagi maksud dari jawaban tersebut meski jawaban berikutnya masih bikin saya mengernyitkan dahi. “Pokoknya kita sih rock and roll aja mas.” Ya Tuhan, apa sih maksudnya? 

Bahkan di suatu waktu, ada satu band asal seberang pulau yang jelas-jelas memohon untuk dipublikasikan tapi memberikan jawaban super pelit di salah satu pertanyaan yang saya kirimkan melalui e-mail. “Yoi.., ” itu jawaban mereka. Bagaimana enggak gatel kepala, coba?

Tidak cuma itu. Banyak juga band yang tidak punya foto standar promosi untuk melengkapi profil wawancara mereka yang akan dipublikasikan di majalah. Ada yang cuma mengirimkan foto seadanya hasil jepretan kamera telepon genggam dengan resolusi rendah, bahkan ada pula yang memohon agar saya melakukan editing pada foto tersebut:

“Mas, tolong akal-akalin saja fotonya ya karena kami tidak punya foto yang bagus.” Sudah minta dipublikasikan, sekarang minta saya ngedit foto juga? Sudah begitu, para personel band ini juga enggak bisa dandan dan sangat jauh dari stigma anak band. Seperti saya, dulu.

Ketika media cetak satu per satu berguguran, saya hijrah ke media online. Dan ternyata, anak band era now juga tidak jauh berbeda. Baru-baru ini saya menemukan sebuah band yang bukan hanya mempersulit si pewawancara tetapi juga mempersulit diri mereka sendiri. Yup, salah satu band metal asal ujung Pulau Jawa yang sedang mempersiapkan perilisan album pertamanya saya tawari untuk 'naik' di media tempat saya bekerja. Di sini, di era.id. Tentunya gratis, seperti biasa. 

Lalu saya memberi pilihan proses wawancara kepada vokalisnya, perwakilan band itu; via telepon, pesan aplikasi WhatsApp (WA), atau e-mail? Dan dia memilih WA demi menjunjung tinggi sebuah kata yang menurut dia 'praktis'. Oke, baiklah, lalu saya mengirimkan 10 pertanyaan seputar proses kreatif album mereka.

Satu, dua, tiga jam... jawaban tidak kunjung datang. Lalu saya tanya, tanggapannya; "Nanti saya kirim, bro. Ini baru beres main di event," jawab dia. Saat itu jam 11 malam dan saya tertidur. Hingga jam 5 pagi saya menerima pesan yang berbunyi:

"Bro, ini videonya lagi jalan menuju WA ya (sambil mengirimkan tangkap layar proses pengiriman video). Resolusi videonya terlalu besar, aduh...gimana kalo besok pagi jam setengah 8 udah sampai di e-mail ya, bro. Soalnya minim jaringan (di sini) besok kita cari warung internet dulu." 

Oalah...ternyata jawaban pertanyaan wawancaranya dibikin dalam format video yang file-nya cukup besar. Kenapa dibikin ribet, ya? Bukankah dia bilang tadi pengen praktis?

Baru kali ini saya menerima jawaban wawancara melalui rekaman video. Padahal mereka sudah tahu, jaringan internet di daerahnya tidak memungkinkan untuk mengirim file yang besar melalui WA. Bukankah ini sebuah tindakan buang-buang waktu? Sangat tidak praktis, kawan!


Ilustrasi (Pixabay)

Memang, ada beberapa band yang mengaku tidak ada waktu buat mengetik jawaban pertanyaan yang saya berikan sehingga memilih untuk menjawab melalui fitur voice note. Ini masih bisa dimaafkan meskipun saya harus mentranskrip rekaman suara tersebut sebelum mengolahnya menjadi feature. Tapi seharusnya, ada semangat 'simbiosis mutualisme' di antara kedua pihak agar bisa saling menghargai dan tidak mempersulit diri masing-masing. Saya mau nanya, memang sesibuk apa sih band baru itu? 

Jujur, saya bisa saja mencopot mereka dari daftar publikasi dan mencari band lain yang lebih praktis. Tapi, demi menjaga hubungan pertemanan sekaligus menjaga nama baik media yang saya bawa, saya tetap mengerjakan PR yang diberikan band ribet ini kepada saya. Apalagi kalau ingat masa remaja saya yang susahnya minta ampun untuk masuk media.

Ada lagi band yang sepertinya ingin terlihat estetis tapi lagi-lagi bikin sulit. Pertanyaan wawancara yang saya kirim melalui e-mail, dijawab dengan tulisan dalam format JPG. Aduh... Jujur, ini enggak asik banget deh. Beneran! Banyak sih aplikasi yang bisa mengubah tulisan dalam foto menjadi note seperti Text Fairy (Text Scanner) misalnya. Eh tapi, jangan-jangan band ini penganut paham paslon parodi Dildo yang punya slogan: "Kalau ada cara yang ribet, kenapa harus cari cara yang praktis?" Ah, sudahlah. 

Selain faktor-faktor di atas, hal penting lain yang juga harus diperhatikan anak band--khususnya band independen--adalah mencantumkan nomor telepon dan e-mail aktif di akun media sosial resmi kalian. Lalu cek e-mail secara rutin jika alamat surat elektronik itu dijadikan penampung segala hal yang berhubungan dengan kebutuhan band. Jangan sampai ketika para 'kuli tinta' mengirimkan pesan yang isinya meminta jadwal wawancara, baru kita balas sepekan, dua pekan atau bahkan sebulan kemudian ketika momentum berita yang akan dipublikasikan sudah tenggelam ditelan tawuran massal para pendukung paslon presiden dan wakil presiden di dunia maya.

Intinya, apapun niat awal kita saat membentuk band. Mau itu karena ikut-ikutan teman, cuma pengen kayak Motley Crue, ataupun sekadar hobi--apalagi jika kita punya kemampuan menulis lagu dan skill mumpuni--kita tidak pernah tahu rejeki apa yang akan menghampiri di masa depan. Sadar publikasilah kalian wahai anak band! Berlatih menjawab wawancara dan siapkan segala kelengkapan promosi dari sekarang agar enggak kelabakan saat kami menekan nomor telepon kalian atau mengirimkan pesan melalui surat elektronik.


Riki Noviana (Mahesa/era.id)


Era ide adalah kumpulan tulisan dari para pemikir negeri ini. Kami mau era ide bisa memberikan pemahaman baru bagi pembaca media ini. Jika ada opini kamu mengenai sebuah peristiwa politik, hukum atau apa pun, silakan kirim tulisan ke redaksi@era.id.
 
Bagikan :
Topik :

Reporter : Riki Noviana
Editor : Riki Noviana
KOMENTAR
Ide
Selasa, 16 April 2019 WIB

Kisah Dua Coblosan

Ide
Selasa, 08 Mei 2018 WIB

Cemas Menanti 12 Mei

Ide
Selasa, 01 Mei 2018 WIB

Soeharto Bapak Tenaga Kerja Asing

GRAFIS
BERITA TERBARU
megapolitan
22 Mei 2019 12:15 WIB

TNI-Polri Sterilkan Kawasan KS Tubun-Petamburan

Titik ini jadi lokasi pedemo sejak pagi tadi
Peristiwa
22 Mei 2019 11:58 WIB

KPU: Cari Keadilan Bukan di Jalan Tapi Lewat MK

Karena lewat jalur ini, dugaan kecurangan bisa dibuktikan
Ekonomi
22 Mei 2019 11:55 WIB

Maaf, Layanan Penukaran Uang Dihentikan Dulu

Soalnya Jakarta lagi gak asyik
Nasional
22 Mei 2019 11:38 WIB

Kata Anies, Enam Orang Meninggal Akibat Bentrok

Ada juga 200 korban yang dibawa ke sejumlah rumah sakit di Jakarta
Olahraga
22 Mei 2019 11:32 WIB

Simeone Komitmen dan Siap Bangun Kembali Atletico

Ditinggal para pemain kunci memang bencana. Tapi, Simeone tak akan menyerah