Kamis, 21 November 2019
Ilustrasi (Foto: Istimewa)
14 Oktober 2019 11:35 WIB

Kebangkitan Club Eighties dalam Cahaya

Tetap dengan pop synthesizer yang dibalut gaya sound kekinian
Bagikan :


Jakarta, era.id - Terhitung sudah hampir sepuluh tahun band Club Eighties tidak merilis karya. Mereka seolah tenggelam setelah Vincent Rompies dan Desta Mahendra keluar dari band tersebut. Karya terakhir mereka yang bertajuk  80 Kembali di tahun 2009 menjadi album terakhir yang keluar sebelum mereka akhirnya menghilang

Kini mereka kembali. Mencoba bangkit kembali dan beradaptasi dengan kondisi industri musik saat ini. Para personil yang tersisa seperti Cliffton Jesse Rompies (gitar), Lembu Wiworojati (vokal) dan Yton (keyboard, synth) akhirnya merilis single bertajuk Cahaya yang rencananya menjadi gerbang pembuka dari mini album terbaru mereka.

Saat dihubungi era.id, Cliffton mengakui, setelah ditinggal Vincent dan Desta, membuat Club Eighties seperti kehilangan jiwanya, meski mereka punya banyak stok lagu semenjak album terakhir mereka.

“Terpikir membuat lagu sudah dari 2009 setelah kita launch album terakhir kita 80 Kembali dan setelah ditinggal kedua personil Vincent dan Desta. Hanya saja enggak pernah menemukan nyawanya lagi. Berat memang ditinggal pemain drum dan bas meski biasanya yang membuat kerangka lagu gue dan Yton,“ ucap Cliffton kepada era.id via aplikasi WhatsApp.


Baca Juga : Black Flag Susul Slipknot ke Hammersonic

Belakangan, kegiatan bermusik mereka berkurang dan akhirnya masing-masing personil sibuk mengurusi hal-hal lain. Lembu misalnya, yang berkarya di salah satu perusahaan unicorn Indonesia. Sementara Yton berkarya di audio production untuk program-program musik. Sementara Cliffton bertindak sebagai audio video production di salah satu pusat cultural center di Jakarta. Ide kembalinya Club Eighties tercetus ketika Cliffton bertemu dengan Lembu dan membicarakan kebangkitan mereka beserta calon single terbarunya. 

“Untuk single terbaru Club Eighties ini tercipta setelah gue ngobrol dengan Lembu setelah kita manggung akustik di Alam Sutera. Lembu ngajak gue untuk buat apa saja, yang penting keluarga ini (Club Eighties-red) punya karya lagi setelah sepuluh tahun enggak buat apa-apa.”


Club Eighties (Foto: Istimewa)

Untuk lagu Cahaya, Cliffton dan personil lainnya mencoba konsep yang sederhana dan tidak terlalu berat. Mereka hanya berfokus pada musik dan lirik yang sederhana. Namun semuanya tetap dibungkus dengan sound ala Club Eighties.

“Konsep lagu kami untuk single ini enggak banyak sih. Kita hanya mencari lagu yang simple secara lrik dan musiknya. Yang susah itu membuat lagu ini terdengar seperti Club Eighties. Karena semakin kami tumbuh tua dan rentang waktu yang terbilang lama album terakhir dan single ini,“ jelas Cliffton.

Lagu ini menceritakan tentang manusia saat menemukan satu pengalaman baru yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Dalam hal ini cinta.

Saat manusia jatuh cinta ada perasaan luar biasa hebat yang muncul. Saat itulah energi positif muncul. Energi positif itu seolah menjadi zat adiktif yang memicu rasa bahagia untuk terus bereaksi terhadap sekeliling. Begitulah kira-kira isi dari lirik yang disuguhkan dalam lagu ini.

Tentunya setelah vakum lama dan perubahan industri musik saat ini, Cliffton dan personil Club Eighties lainnya harus beradaptasi. Khususnya ketika mereka merilis album ini secara independen. Tentu segala tetek bengek produksi dan promosi harus mereka kerjakan sendiri. Seperti yang Cliffton katakan, kembali ke jalur indie dengan semangat do it yourself.

“Kami benar-benar sendirian, bertiga lebih tepatnya. Mengurus semua, dari permodalan yang kita ambil dari kasnya Club Eighties yang kita sisihkan setiap perform untuk produksi ini. Mikirin target promosinya, jalan sendiri menghubungi MD-MD Radio Jakarta dan daerah, mencari publisher, dan yah semuanya kita kerjain sendiri,“ ujar Cliffton.

Seraya beradaptasi dengan industri musik kali ini, Club Eighties merilis album dalam bentuk digital yang sudah tersedia di berbagai platform musik streaming yang ada. Lagu Cahaya rencananya akan menjadi lagu pembuka untuk mini album mereka yang diberi nama September 1985.
Bagikan :
Topik :

Reporter : Maretian
Editor : Bagus Santosa
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU
Ekonomi
21 November 2019 12:12 WIB

Kursi Buat Ahok di BUMN: 'Dikepret' Rizal Ramli, Dibela Menteri

"Kayanya hidup gue ditolak melulu,"
Nusantara
21 November 2019 11:43 WIB

Menyegarkan Kembali Ingatan Anak Muda Tentang Pembunuhan Munir

"Munir-Munir itu ada, dan Munir itu kalian,"
Internasional
21 November 2019 10:38 WIB

Rumah Kelahiran Hitler 'Disulap' Jadi Kantor Polisi

Cara pemerintah Austria cegah ziarah kelompok Neo-Nazi
megapolitan
21 November 2019 10:08 WIB

Mahasiswa BEM SI Geruduk Kantor Kemenkes Siang Ini

Tolak kenaikan iuran BPJS
megapolitan
21 November 2019 09:10 WIB

Teka-Teki Penyebab Kopilot Wings Air Bunuh Diri

Diduga karena depresi kena…