Minggu, 21 Oktober 2018
Ilustrasi tambang (Sumber: Pixabay)
15 April 2018 17:27 WIB

Menguji Pernyataan Eggi Sudjana soal Miskinnya Indonesia

Betul kah kita bangsa miskin? Semiskin pemikiran tanpa landasan data?
Bagikan :


Jakarta, era.id - Politisi Partai Amanat Nasional (PAN), Eggi Sudjana menyebut Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebagai sumber penderitaan rakyat. Menurut Eggi, Jokowi telah membuat kemiskinan bangsa semakin jadi dengan kebijakan-kebijakan pengelolaan sumber daya alam (SDA) yang keblinger.

Dalam pandangan Eggi, Tuhan telah memberi bangsa ini kekayaan yang berlimpah. Karenanya, kemiskinan seharusnya jadi hal yang mustahil. Kecuali, ya jika kekayaan itu dikelola dengan keliru. Intinya, Eggi mempertanyakan, siapa yang membuat bangsa ini miskin, Tuhan atau presiden?

"Tapi, kenapa kita mendapatkan (emas) 10 persen, kan perintah UU untuk rakyat Indonesia bukan rakyat Amerika. Dengan kondisi seperti ini siapa yang membuat miskin, Allah atau presiden?" tutur Eggi dalam ceramahnya di Masjid Dzarratul Muthmainnah, Tangerang Selatan, Minggu (15/4).

"Padahal kita dikasih minyak, emas, gas dan kelapa sawit, kaya raya Indonesia, dulu rempah-rempah kita diperebutkan," tambahnya.


Baca Juga : Sandi Bela Prabowo soal Pengelolaan SDA

Kita bisa saja sepakat dengan Eggi soal SDA yang seharusnya dapat memperkaya anak-anak bangsa, pun soal kasih sayang Tuhan yang sudah sangat bermurah hati melimpahkan berbagai kekayaan SDA kepada bangsa ini. Tapi, boleh kah kita bersepakat dengan Eggi soal pengelolaan SDA yang keliru dan kemiskinan yang makin menjadi-jadi?

Soal ini, pihak Istana telah memberikan tanggapan. Menurut Juru Bicara Kepresidenan, Johan Budi, kondisi kesejahteraan masyarakat Indonesia mulai membaik. Berbagai indikator, baik secara ekonomi atau pun sosial, dikatakan Johan Budi tengah melaju ke arah yang lebih baik.

Eggi atau pun Istana boleh saja saling klaim sebagai yang paling benar, pun dengan kami yang ingin mengulik kebenaran soal hal ini. Karenanya, kami menelusuri sejumlah data terkait pertumbuhan ekonomi bangsa buat menjawab, apa betul kita bangsa yang miskin seperti kata Eggi? Atau sebaliknya, sebagaimana klaim Istana?


Presiden Jokowi dan Ibu Irana di Asmat (Foto: Setkab)

Data bicara

Berdasar data International Monetary Fund per Oktober 2017, Indonesia menempati posisi lima sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi terbesar di seluruh Asia Tenggara. Dengan pendapatan sebesar 13.120 USD, Indonesia memang masih kalah dari Thailand dengan 18.730 USD, Malaysia (40.430 USD), Brunei Darussalam (77.700 USD), dan Singapura yang ada di posisi puncak dengan pendapaatan 93.680 USD.

Indonesia masih tertinggal dari bangsa-bangsa lain memang. Suka enggak suka, kita harus kerja keras buat mengejar ketertinggalan itu. Lalu, sudah kah kita bekerja keras?

Baca: Sri Mulyani Angkat Bicara soal Utang Indonesia

Pertumbuhan ekonomi Indonesia sendiri sejatinya mengalami peningkatan. Pada tahun 2016, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat sebesar 5,02 persen, lebih tinggi dari tahun 2015 yang berada di angka 4,8 persen.

Dalam nominal, pendapatan per kapita Indonesia pada 2016 adalah Rp47,96 juta per tahun, lebih tinggi dari 2015 yang tercatat di angka Rp45,14 juta per tahun. Selain itu, tingkat inflasi pun tercatat turun. Dari 3,35 persen di tahun 2015 menjadi 3,02 persen di tahun 2016. Angka inflasi itu tercatat sebagai angka inflasi paling rendah sejak tahun 2010.

Belum selesai. Masih dalam kurun waktu yang sama, tingkat pengangguran tercatat menurun, dari 6,2 persen di tahun 2015 hingga 5,6 persen di tahun 2016. Tren positif pertumbuhan ekonomi bangsa pun turut menekan angka kemiskinan, dari 11,2 persen di tahun 2015 menjadi 5,6 persen di tahun 2016.

Selain itu, nilai tukar rupiah atas dolar Amerika Serikat (AS) pun tercatat menguat di kisaran angka Rp13.307 per USD. Capaian ini dianggap cukup baik di tengah kecenderungan penguatan dolar AS sebagai dampak cabutnya Inggris dari Uni Erupa plus terpilihnya Donald Trump sebagai pemimpin Negeri Paman Sam.


Infografis "Pertumbuhan Ekonomi Indonesia (Rachmad Bagus/era.id)


Politis kah?

Pertanyaan soal ada kah muatan politis dalam pernyataan Eggi mungkin saja enggak akan pernah terjawab. Toh, cuma Eggi dan Tuhan yang tahu alasan dan landasan yang mendasari pernyataannya itu. Yang jelas, dalam ceramah tersebut, Eggi sempat menyinggung soal wacana pergantian presiden di tahun 2019.

Kata Eggy, "Nah kalau presiden buat kita miskin jangan pilih presiden yang enggak benar. Maka, ada gerakan 2019 ganti presiden, kalau tidak membuat rakyat sejahtera," ucap Eggi.

Lagi-lagi, kita bisa saja sepakat dengan Eggi. Buat apa juga memilih pemimpin yang jelas-jelas bakal bikin kita susah?! Tapi, sejauh mana akurasi pernyataan Eggi soal pemerintahan Jokowi yang membuat bangsa ini jadi bangsa blangsak bin melarat?!

Pada 13 April lalu, Moody's Investor Service (Moody's) meningkatkan peringkat Sovereign Credit Rating (SCR) Indonesia dari Baa3 (Outlook Positif) menjadi Baa2 (Outlook Stabil). Menurut kajian yang dilakukan Moody's, faktor kunci yang mendongkrak peringkat SCR Indonesia adalah keberhasilan pemerintah membangun kebijakan kredibel dan efektif yang membawa kondusivitas bagi stabilitas ekonomi makro.


Moody's Investor Service (Foto: Setkab)

"Peningkatan cadangan devisa dan penerapan kebijakan fiskal dan moneter yang berhati-hati tersebut memperkuat ketahanan dan kapasitas Indonesia dalam menghadapi gejolak eksternal,” terimbuh dalam siaran pers Moody’s, Jumat (13/4).

Di sisi keuangan, Moody's menilai pememrintah mampu menjaga defisit fiskal di bawah batas tiga persen sejak diberlakukan pada tahun 2003. Faktor rendahnya level defisit dan dukungan pembiayaan bersifat jangka panjang menjadikan beban utang Indonesia tetap rendah, seingga mengurangi kebutuhan dan risiko pembiayaan.

Di sisi moneter, kebijakan nilai tukar yang cenderung fleksibel serta pola koordinasi kebijakan yang lebih efektif antara seluruh pemangku kepentingan, mulai dari Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah dan Bank Indonesia (BI) telah berhasil menjaga inflasi di level yang cukup rendah dan stabil.

Menurut Gubernur BI, Agus Martowardjojo, peningkatan rating Moody's dari Baa3 menjadi Baa2 kali ini merupakan yang tertinggi yang pernah dicapai Indonesia. Hal ini, menurut Agus telah mengangkat nama Indonesia sebagai bangsa yang sukses mengumpulkan empat pengakuan dari berbagai lembaga pemeringkatan internasional.

“Pencapaian ini merupakan suatu prestasi besar ditengah masih berlanjutnya ketidakpastian ekonomi global yang mempengaruhi perkembangan ekonomi di kawasan,” ujar Agus.

Tentu saja, bangsa ini masih perlu kerja keras. Tapi, saling menyalahkan tentu bukan solusi, sebab pembangunan harus dilakukan secara bersama-sama. Dan tren pertumbuhan ekonomi yang sejauh ini terlihat seharusnya dapat melecut semangat kita buat bersatu membangun bangsa.

Sebab, sesedikit apa pun kemajuan, ia tetap lah kemajuan.
Bagikan :

Reporter : Taufan Zasya
Editor : Yudhistira Dwi Putra
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU
Nasional
21 Oktober 2018 12:03 WIB

Panduan Menghayati Hari Santri buat Milenial

Hari Santri punya makna mendalam soal perjuangan dan persatuan bangsa, gimana ceritanya?
Lifestyle
21 Oktober 2018 11:23 WIB

Melihat Lebih Dekat Produksi FTV Azab

Dari aktor yang lupa nama karakter sendiri hingga mengorek pandangan sang sutradara
Lifestyle
21 Oktober 2018 11:03 WIB

Mimpi Dwi Sasono Ajak Keluarga Keliling Jawa

Mobil, Pulau Jawa, pemandangan, dan budaya Indonesia
Olahraga
21 Oktober 2018 10:07 WIB

Alhamdulilah, Pecah Juga 'Telur' Salah

Dalam laga lawan Huddersfield Town, salah akhiri paceklik gol di empat laga berturut
Lifestyle
21 Oktober 2018 09:34 WIB

Zayn Malik Luncurkan Single Kelima

Album kedua tinggal menghitung hari