Selasa, 10 Desember 2019
Rizieq Shihab (Youtube Front TV)
02 Desember 2019 16:11 WIB

Sudah Dua Kali Reuni Rizieq Shihab Absen

Masih dicekal pemerintah
Bagikan :


Jakarta, era.id - Imam Besar FPI Rizieq Shihab absen dalam gelaran Reuni 212 kali ini. Tercatat sudah dua tahun, ia absen dalam ajang kumpul-kumpul alumni Aksi Bela Islam yang digelar di akhir tahun 2016 silam. Rizieq menetap di Arab Saudi sejak April 2017. Keberangkatannya ke Saudi diawali dengan umrah bersama keluarganya hingga kini tinggal di rumah sewa.

Juru Bicara Habib Rizieq Shihab (HRS) sekaligus Direktur HRS Center Abdul Chair Ramadhan menyatakan Rizieq sudah berusaha pulang menjelang pelaksaan Reuni 212. Panitia juga sudah mengupayakan kepulangan dirinya ke Indonesia demi hadir dalam gelaran acara Reuni 212 di Monumen Nasional pada Senin (2/12/2019). Namun, lantaran masih dicekal maka Rizieq batal hadir.

"Kita sudah berupaya agar yang bersangkutan dapat pulang dan menghadiri acara Reuni 212. Namun status pengasingan belum dicabut,” kata Chair kemarin.

Meski tidak bisa hadir langsung, Rizieq mengisi pidato dalam reuni di Monas melalui siaran teleconference. Dalam sambutannya, awalnya Rizieq meminta maaf kepada massa 212 karena tidak bisa hadir di Monas dengan alasan masih dicekal oleh pemerintah Arab Saudi. 


Baca Juga : Bertemu Mahfud MD, Dubes Saudi Tak Bahas Soal Rizieq Shihab

"Karena saya masih dicekal oleh pemerintah Saudi Arabia dengan alasan keamanan atas permintaan pemerintah Indonesia," kata Rizieq.

Sama seperti tuntutan Aksi Bela Islam, Rizieq Shihab juga meminta agar umat Islam selalu membela agamanya. Ia secara tidak langsung menyinggung pernyataan Sukmawati dan meminta anak dari Proklamator, Ir Soekarno itu diadili karena diduga menodai agama. 

"Ada orang yang membandingkan Rasulullah SAW dengan ayahnya. Dia merasa ayahnya lebih baik dari Rasulullah SAW. Ada lagi orang yang menggambarkan kehidupan masa kecil Nabi dengan masa kecil yang dekil, kumal, kotor, atau tidak terurus. Ada orang yang secara terang-terangan bahwa terorisme itu punya agama dan agama terorisme itu adalah Islam. Semua ini adalah penodaan agama dan masih banyak peristiwa penodaan agama yang lainnya," ucapnya.

Rizieq meminta agar orang-orang yang menodakan agama ini diadili secara hukum karena Indonesia merupakan negara hukum. "Kita punya undang-undang anti penodaan agama sesuai dengan Perpres No.1 tahun 1965 juga ada KHUP pasal 156 A, proses secara hukum sesuai undang-undang yang berlaku di Negara Kesatuan Republik Indonesia," katanya.

Tahun Lalu Minta 2019 Ganti Presiden

Pada Reuni 212 tahun lalu, ia menyerukan agar tahun 2019 ganti presiden dalam pidato di ajang reuni 212, di Monas. Rizieq awalnya menyebut Indonesia sedang dalam keadaan kacau dalam lima tahun terakhir. Dia pun menyerukan amanat perjuangan untuk perubahan.

"Jangan lupa bahwa negeri kita saat ini sedang karut-marut. Maka kita harus melakukan perubahan," kata Rizieq dalam rekaman suara pidato yang diputar dari panggung Reuni 212, Monas, Jakarta, Minggu (2/12/2018).

"Dan menurut hemat saya, menurut hemat saya, menurut hemat saya, bahwa perubahan dalam waktu dekat di depan mata saya tidak lain adalah 2019 ganti presiden," imbuh Habib Rizieq.

 
Bagikan :
Topik :

Reporter : ERA.ID
Editor : Ervan Bayu Setianto
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU
Internasional
10 Desember 2019 08:18 WIB

Arab Saudi yang Makin Longgar Soal Pemisahan Gender

Pintu masuk cafe dan restoran tak lagi dipisah
Nusantara
10 Desember 2019 07:07 WIB

Pemprov Aceh Beli 4 Pesawat Nurtanio

Untuk pesawat perintis, evakuasi medis dan kargo
megapolitan
10 Desember 2019 05:50 WIB

Nasib PKL di Jakarta: di Sana Boleh Jualan, di Sini Digusur

Akhirnya para pedagang, bingung
 
Nasional
09 Desember 2019 21:00 WIB

Polri Sebut Punya Bukti Baru Soal Kasus Novel Baswedan

"Tidak akan berapa lama lagi, Insyaallah tidak akan sampai berbulan-bulan"
Nasional
09 Desember 2019 20:11 WIB

What's On Today, 9 Desember 2019

Inilah cara asyik menikmati berita.