Minggu, 31 Mei 2020
Rumah Tahfidz Al Kautsar
05 November 2019 14:47 WIB

SDM Unggul Bisa Dimulai dari Adab dan Akhlak

"Adab dulu, baru ilmu,"
Bagikan :


Jakarta, era.id - Tak ada kesan radikal apalagi ekstrem saat memasuki Rumah Tahfidz Al Kautsar di Kota Wisata, Cibubur. Padahal semua penghuninya adalah wanita becadar. Cadar atau nikab saat ini menjadi salah satu stigma orang radikal di Indonesia.

Seorang anak berusia tujuh tahun bernama Aurey dengan malu dan menundukkan kepala menjawab pertanyaan kami mengapa ia menggunakan nikab atau cadar. "Biar terjaga dan terlindungi," katanya.


Rumah Tahfidz Al Kautsar (era.id)

Maksud dari terjaga adalah agar mereka terjaga kehormatannya sebagai wanita. Anak yang menggunakan nikab sejak usia 6 tahun itu bilang, ia memakainya tanpa paksaan dari orangtuanya.


Baca Juga : Ini Kalender Tahun Ajaran 2020/2021 di Jakarta

Hal tersebut diamini oleh pemilik Rumah Tahfidz. "Mereka tak dipaksa untuk menggunakan nikab. Semua atas kesadaran karena sadar harus menjaga dirinya sebagai wanita," ujar Maryam Anwar, pemilik Rumah Tahfidz saat berbincang kepada era.id, akhir pekan kemarin.

Rumah Tahfidz adalah sejenis pesantren khusus untuk anak-anak yang ingin menghapal Al Qur'an, Rumah Tahfidz berada di tengah perumahan warga. Tak ada protes apalagi pengusiran. "kita di sini sudah jalan 3 tahun, tak ada protes. Warga juga wellcome," ucapnya.

Wanita asal Makassar ini mengatakan jika semua santri dan santriwatinya selalu diajarkan untuk bergaul dengan tetangga atau orang luar, karena hal itu juga merupakan ajaran agama. Bahkan rumah kontrakan yang digunakan juga punya bukan orang Islam

"Kita enggak ekslusif, karena memang kita diajarkan selalu untuk berbuat baik kepada sesama. Yang punya rumah ini juga bukan muslim. Tapi kata dia pakai saja kalau buat ngaji, salat, silakan," jelasnya.


Rumah Tahfidz Al Kautsar (era.id)

Salah satu pengajar di Rumah Tahfidz ini adalah Indadari Mindrayanti. Pendiri Niqab Squad ini berpandangan, sudah seharusnya anak diajarkan menutup aurat sedari dini. "Karena menutup aurat itu adalah perintah agama. Meski pemakaian nikab masih ada ulama yang berbeda pandangan," katanya.

Ia juga mengatakan, tak mungkin para santriwati yang berjumlah 40 anak ini melakukan aksi radikalisme, karena selalu diajarkan adab dan akhlak. "Karena adab dulu, baru ilmu kita ajarkan. Enggak mungkin kita radikal, karena kita katanya pengen punya SDM (Sumber Daya Manusia) yang unggul kan? Bagaimana mau unggul kalau enggak diajarkan adab sesama manusia," cetusnya.

Kami mendengar materi kajian dari Indadari. Saat itu, dihadapan para santriwati, ia menjelaskan pentingnya menjaga diri dengan menganalogikan Ratu Inggris. "Kita sebagai wanita harus menjaga kehormatan kita sebagaimana Allah memerintahkan. Kita wanita adalah Ratu. Kalau Ratu Elisabeth gimana? kan enggak sembarangan orang bisa ngomong sama dia, enggak sembarang orang bisa mendekati kan?" katanya.

Lalu apakah Rumah Tahfidz ini pernah dibantu pemerintah yang selalu menggaungkan misi mencetak SDM unggul? "Setahu saya tidak pernah. Disini murni swadaya dan dari para donatur," ucapnya.

 
Bagikan :
Topik :

Reporter : ERA.ID
Editor : Ervan Bayu Setianto
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU