Jumat, 21 Februari 2020
BJ Habibie (Instagram/B.JHAbibie)
15 September 2019 16:39 WIB

Habibie: Bapak Teknologi Penggila Diskusi

Wawancara kami dengan Wakil Ketua Habibie Center
Bagikan :


Jakarta, era.id - Presiden ke-3 RI Bachruddin Jusuf (BJ) Habibie meninggal dunia setelah sempat dirawat di Paviliun Kartika RSPAD Gatot Subroto, Jakarta Pusat akibat kesehatannya menurun. Namun cerita kehidupannya akan selalu menarik untuk dikulik.

Salah satu cerita menarik adalah semasa hidupnya, Habibie merupakan orang yang gemar berdiskusi. Bahkan, sesi diskusi yang harusnya dilakukan sebentar saja bisa menjadi sesi diskusi panjang jika Habibie ikut serta didalamnya.

Hal ini diceritakan oleh Wakil Ketua The Habibie Center Dewi Fortunata. Kepada era.id Dewi menceritakan pengalamannya selama bekerjasama dengan Habibie.

Menurutnya, Habibie memang seringkali berdiskusi dengan dirinya dan orang-orang yang memang terlibat di organisasi The Habibie Center.


Baca Juga : Wawancara: Masa Depan Perjuangan Habibie Center

The Habibie Center ini merupakan organisasi non-pemerintah dan bergerak memajukan nilai demokrasi di Indonesia dan merupakan buah pemikiran dari Habibie sendiri. Organisasi ini lahir pada 10 November 1999 di Jakarta.

"Ketika kita mendirikan The Habibie Center dan beliau terlibat aktif di dalamnya, kami sering bertemu dalam kelompok kecil. Beliau bisa berdiskusi panjang lebar," kata Dewi saat ditemui di kantornya di kawasan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jumat (13/9/2019) sore.

Di ruang kantornya yang tidak begitu luas dan bernuansa cat warna putih itu, dia bercerita, diskusi bersama Habibie pasti bisa membuat semua pesertanya menjadi lupa waktu. "Kalau bertemu dengan Pak Habibie walau diagendakannya (diskusi) hanya sebentar tapi nyatanya bisa lama," ungkapnya.

Selain itu, senangnya Habibie berdiskusi juga membuat dirinya menjadi deg-degan ketika ditunjuk sebagai moderator. Sebab, ketika Habibie mendapatkan kesempatan sebagai pembicara utama dan menyampaikan pandangannya, waktu yang diberikan hanya 30 menit bisa mendadak bertambah menjadi dua jam.

Hal ini juga bisa terjadi semisal Habibie datang hanya sebagai peserta diskusi. Sehingga, sebagai moderator, sudah tugasnya untuk memotong pembicaraan Habibie yang tengah menyampaikan pemikirannya.

"Misal Pak Habibie duduk di floor gitu. Ketika ada diskusi panel beliau bertanya dan memberi tanggapan, kadang saya bisikin, 'pak, bisa diperpendek tidak?' terus beliau menjawab 'ya Dewi, sebentar'. Atau saat sedang bicara di podium, tidak banyak yang berani menyetop Pak Habibie. Jadi, biasanya saya yang kasih kode. Itu yang mengesankan," ungkapnya diselingi tawa.

Saking gemarnya Habibie menyampaikan buah pikirannya, Dewi mengatakan, terlalu berisiko bagi penyelenggara acara menempatkan suami Ainun Besari itu untuk berbicara di awal acara.

Sebab, bisa dipastikan acara yang sedianya tepat waktu jadi molor. Bukan karena Habibie telat, tapi waktu yang dia gunakan untuk menyampaikan buah pikirannya dalam sebuah pidato bisa lebih panjang.

"Berisiko kalau Pak Habibie ditaruh paling awal tapi agenda masih panjang. Itu organizer acaranya jadi kalang kabut karena jamnya molor. Jadi lebih baik ditaruh di akhir," ujar wanita berusia 61 tahun itu sambil tersenyum.


Wakil Ketua Habibie Center Dewi Fortuna


Bagai ayah

Ilmuwan kelahiran Bandung ini juga sudah menganggap Habibie seperti ayahnya sendiri. Sebab, melihat sosok Habibie dia menjadi ingat dengan ayahnya yaitu Khaidir Anwar yang merupakan seorang dosen.

Sehingga, dia merasa ada kemiripan antara ayahnya dan Habibie yang sudah dikenalnya sejak tahun 1992 saat dirinya masih bergabung di CIDES atau Center for Information and Development Studies yang merupakan lembaga kajian yang dibentuk oleh Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI).

"Ada karakteristik yang agak mirip begitu, yang suka berdiskusi, banyak ide, argumentatif atau suka berargumen begitu," kata dia.

"Dalam banyak kesempatan, Pak Habibie mengatakan, 'Dewi is my daughter'. Jadi dia punya dua putra (Ilham Akbar Habibie dan Thareq Kemal Habibie) tapi dari segi kedekatan intelektual saya melihat, Pak Habibie seperti ayah buat saya," imbuhnya.

Sebelumnya, Habibie meninggal pada Rabu (11/9/2019) pada pukul 18.05 WIB di Paviliun Kartika RSPAD Gatot Subroto. Habibie meninggal pada usia 83 tahun akibat menurunnya kesehatannya setelah dirawat selama sepekan dan diawasi oleh Tim Dokter Kepresidenan.

Wakil Presiden era Presiden Soeharto ini kemudian dikebumikan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta Jakarta Selatan pada Kamis (12/9/2019) dengan diawali upacara kemiliteran terlebih dahulu.

Dalam upacara itu, Presiden Joko Widodo kemudian bertindak begai Inspektur Upacara. Habibie dimakamkan tepat di sebelah pusara istrinya yaitu, Ainun Besari dan dia menjadi presiden pertama yang dimakamkan di TMP Kalibata.

Bagikan :

Reporter : Wardhany Tsa Tsia
Editor : Yudhistira Dwi Putra
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU
Nasional
20 Februari 2020 22:22 WIB

What's On Today, 20 Februari 2020

Podcast berita Indonesia terkini yang disajikan dengan cara berbeda
Nusantara
20 Februari 2020 21:08 WIB

Tak Bisa ke Indonesia, Mahasiswa Unpad Asal China Kuliah Online

Gara-gara COVID-19
Lifestyle
20 Februari 2020 20:32 WIB

Riki Rhino, Film Animasi Karya Anak Bangsa

Ridwan Kamil 'jadi' Elang Jawa
Lifestyle
20 Februari 2020 19:38 WIB

Eddies Adelia yang Belum Siap Berhijab Syar'i

Yang penting tertutup dulu