Kamis, 24 Januari 2019
Mesin simulasi Advanced Orientation Trainer (Wardhany/era.id)
13 Desember 2018 20:46 WIB

Merasakan Sensasi Latihan Pilot di Mesin Simulasi AOT

Mesin simulasi canggih untuk meminimalisir kecelakaan pesawat
Bagikan :


Jakarta, era.id - Mungkin kita sering bertanya, bagimana rasanya jadi pilot? Atau yang paling ekstrem mungkin kita pernah bertanya, bagimana ya caranya pilot menghadapi masalah mesin pesawat dari dalam kokpitnya.

Nah, kali ini era.id berkesempatan mengunjungi Lembaga Kesehatan Penerbangan dan Ruang Angkasa (Lakespra) dr. Saryanto dan menjajal mesin simulasi canggih yang namanya Advanced Orientation Trainer (AoT). 

Kita boleh bangga karena alat canggih ini baru digunakan di 15 negara dan salah satunya ada di Indonesia. Mesin simulasi ini, sebenarnya berfungsi untuk melatih pilot maupun co-pilot untuk bisa menghadapi situasi krisis dalam penerbangan, terutama pada saat disorientasi arah dan ketinggian atau disorientasi dispatial.

"Rata-rata (disorientasi dispatial) terjadi di atas ketinggian 5.000 sih karena udah masuk ke awan. Kalau misal cuaca jelek, kurang dari 5.000 juga bisa terjadi," kata Kepala Seleksi Pendidikan dan Pengembangan Lakespra, Wardaya saat ditemui di kantornya, MT Haryono, Jakarta Selatan, Kamis (13/12/2018).


Baca Juga : VIDEO: Terlibat Kecelakaan, Yukie PAS Band Patah Tulang Kaki

Menurut Wardaya, kecelakaan yang selama ini terjadi sering tak disadari karena pilot mengalami disorientasi dispatial. Dalam kondisi itu, pilot akan merasa bingung bahkan ilusi ketika terbang dalam kumpulan awan.

Ia menjelaskan ada sejumlah efek samping yang ditimbulkan dari disorientasi dispatial. Pertama adalah visual illusion atau ilusi yang dilihat oleh mata. 

"Biasanya apa yang dilihat oleh pilot tidak sesuai dengan kenyataan. Kedua adalah vestibullar. Gangguan ini biasanya mengenai cairan yang ada telinga dan biasanya berguna untuk menjaga keseimbangan. Jika cairan ini terganggu, maka bisa menyebabkan disorientasi," jelasnya.


Mesin simulasi atau Advanced Orientation Trainer. (Wardhany/era.id)

Ketiga adalah proioceptor. Ilusi ini berkaitan dengan kulit, saraf, dan persendian seseorang. Ketika muncul sensasi semacam tertarik atau terombang-ambing di pesawat ini lah seorang pilot atau co-pilot tak lagi bisa mengendalikan kemudinya. 

Hal itulah yang kami rasakan, ketika mesin simulasi ini bergerak berputar-putar tak menentu arahnya. Alat bernama Airfox ini bergerak dengan bantuan tenaga hidrolik dan arahan pada kontrol kendali pilot yang melakukan simulasi di dalamnya.

"Kan terkadang saat sedang terbang orang-orang tidak menyadari 'kalau saya itu miring atau gini', karena kenyataan di ketinggian itu 3 dimensi, enggak terasa, di atas baru menyadari kalau melihat instrumen, makanya kita menyebutnya percaya pada instrumen, supaya kita menyadari," papar Wardaya.

Menurutnya alat ini sangat penting bagi para pilot, terlebih didesai dengan sudut pandang medis sehingga dapat meminimalisir pilot agar lebih berhati-hati saat mengopersikan pesawat di udara.


Mesin simulasi atau Advanced Orientation Trainer. (Wardhany/era.id)

Pengalaman Jadi Pilot Sehari

Kalau masuk ke dalam kokpit pesawat sungguhan sudah pasti dilarang, tapi dalam kesempatan ini era.id bisa merasakan sensasinya untuk duduk di kursi pilot. Di dalam ruang kabin yang tak begitu besar itu, berisikan panel-panel instrumen lengkap dengan layar navigasi layaknya sebuah kokpit pesawat sungguhan. 

Pada percobaan terbang pertama kalinya, saya masih bingung apa yang harus dilakukan. Ternyata untuk menerbangkan sebuah pesawat begitu sulit, belum lagi panel digital serta tombol-tombol navigasi yang belum saya tahu fungsinya.

Saya pun harus memegang joystik untuk mengontrol kendali naik dan turun pesawat. Sementara kedua kaki saya dihadapkan pada pedal gas yang berfungsi untuk mengarahkan pesawat ke kiri dan kanan. Karena belum terbiasa, pesawat yang saya kemudikan langsung jatuh.

Dalam percobaan kedua, Pak Wardaya mengambil kendali pesawat dan mengajak saya terbang hingga ketinggian 3.000 kaki. Dalam posisi itu kokpit pesawat seakan terangkat dan berputar-putar tak menentu arahnya, alhasil kepala saya pusing tak karuan seperti mengidap penyakit vertigo.

"Kerasa miring enggak? Enggak kan? Padahal ini miring ke kanan. Ini disorientasi. Makanya kita harus percaya panel instrumen," ungkap Wardaya.


Tampilan layar mesin simulasi atau Advanced Orientation Trainer. (Wardhany/era.id)

Pada kondisi seperti itu, saya ditantang untuk mendaratkan pesawat secara normal. Namun karena sudah mengalami disorientasi visual, pesawat yang saya kendalikan lagi-lagi harus crash sebelum mendarat di runway.

"Tadi jatuh, karena menganggap runway sudah dekat. Padahal masih jauh, sehingga daya terbang hilang dan crash. Itu namanya visual illusion," jelas Wardaya sambil menyudahi simulasi penerbangan itu.
Bagikan :

Reporter : Wardhany Tsa Tsia
Editor : Aditya Fajar
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU
Nasional
24 Januari 2019 08:41 WIB

Mencari Tahu Makanan Kesukaan Ahok

Pisang, ayam ketumbar, dan mie goreng seafood Bangka adalah makanan favorit…
Nasional
24 Januari 2019 07:20 WIB

Hottest Issue Kamis Pagi, 24 Januari 2019

Kabar pagi untuk pengantar minum kopi kalian
Nasional
24 Januari 2019 06:34 WIB

Ahok dan Segudang Pernyataan Kontroversialnya

 "Kamu mau cepat benerin Jakarta. Bakar setengahnya Jakarta!" kata Ahok
Nasional
23 Januari 2019 22:24 WIB

Ahok Jadi Amunisi Baru Dukungan Jokowi-Ma'ruf

Ahok memberikan pengaruh yang kuat