Kamis, 02 Juli 2020
Kreuz (Dok. Facebook)
30 Juni 2020 16:26 WIB

Mengenal Kreuz, Seli Hand Made in Bandung

Pelesetan kareueus
Bagikan :


Bandung, era.id – Penggunaan sepeda sebagai alat transportasi atau alat olahraga di masa new normal (kenormalan baru) akhir-akhir ini semakin nge-hits. Bahkan di Bandung, seorang pengrajin sepeda kebanjiran pesanan. Pembeli harus bersabar menunggu pesanan selesai hingga dua tahun ke depan.

Adalah Kreuz, sebuah brand lokal yang dikembangkan Yudi Yudiantara dan kawan-kawan di Bandung, yang kebanjiran pesanan itu. Saat ini Yudi tengah sibuk menyiapkan frame (rangka) dan beragam suku cadang untuk memenuhi pesanan.

Pemesan datang dari berbagai kota di Indonesia. Ada yang pesan via online, ada juga yang datang langsung ke lokasi lokakaryanya di Jalan Cikutra, Bandung. Mereka yang datang karena tidak bisa memesan via online.

Di laman Facebook-nya, Yudi mengumumkan Kreuz sudah tidak lagi menerima pesanan via online maupun whatsapp.


Baca Juga : Empat Sepeda Unik, Satunya Pakai Roda dari Sepatu Utuh

“Maaf po lwt wa sy close ...,” tulis Yudi di halaman Facebook-nya 21 Juni lalu. Pengumuman itu direspons kecewa oleh calon pemesan. “Ya allah telat ya semoga cepet buka lagi PO nya kang,” demikian tulis Zain Zainal Muttaqien.

Aktivitas di Facebook Yudi Yudiantara menggambarkan betapa besar peminat Kreuz yang modelnya mirip sepeda lipat (seli) buatan Inggris, Brompton. Yudi sendiri mengakui Kreuz terinspirasi Brompton yang harganya selangit itu.

Soal harga, tentu Kreuz jauh lebih murah, yakni Rp3,5 juta untuk frame dan Rp8-10 juta untuk sepeda utuh. Yudi sengaja menargetkan pangsa pasar menengah ke bawah. Namun, ada juga yang sudah punya Brompton tapi pesan Kreuz.

Saat ini Yudi memang tak melayani pemesanan via online. Tetapi kalau ada yang serius atau sabar menunggu, calon pembeli bisa datang langsung ke tempat workshopnya. “Kita juga sekarang lagi rekrut karyawan lagi untuk memenuhi pesanan,” kata Yudi, saat dihubungi era.id, Selasa (30/6/2020).

Calon pembeli yang memesan hari ini harus mau bersabar menunggu dua tahun karena saat ini, masa inden Kreuz sudah sampai Juni 2022 atau setara 300-400 unit. Pasalnya, Yudi dan kawan-kawan hanya sanggup memproduksi 17 unit per bulannya.

Pesanan tersebut dikerjakan secara hand made oleh lebih dari 140 karyawan yang kebanyakan UMKM pengrajin sepeda. Para karyawan yang direkrut adalah korban PHK akibat pandemi virus korona. Yudi bersyukur dengan meningkatnya pesanan ia bisa memberdayakan masyarakat sekitar yang membutuhkan pekerjaan di tengah krisis ekonomi akibat pandemi.

“Kebanyakan yang bergerak UMKM korban PHK semua. Biar masyarakat sekitar dibagi-bagi pekerjaannya. Insya allah dengan Kreuz meski kita masih kecil setidaknya banyak menyerap lapangan kerja,” katanya.

Untuk mengerjakan pesanan tersebut, Yudi sudah punya sistem quality control untuk mencapai produk standar Kreuz.

Kreuz sendiri awalnya bukan brand sepeda, melainkan merek tas sepeda atau pannier yang dinilai cocok untuk seli Brompton. Namun dari aksesoris inilah Yudi mendapat inspirasi untuk bikin sepeda lipat sendiri.

Pada 2019, ia mulai membuat purnarupa seli yang mengadaptasi model Brompton. Sebulan kemudian, tepatnya Januari 2020, purnarupa ini kelar yang kemudian mendapat animo positif dari komunitas sepeda di Solo. Bahkan langsung ada yang pesan.

Tingginya peminat Kreuz membuat Yudi melakukan lelang produknya di Facebook. Dalam lelang ini, sepeda buatannya laku dalam waktu singkat. Selanjutnya ia menerima preorder via online hingga akhirnya pesanannya membludak sampai saat ini.

Meski terinspirasi seli Inggris, Yudi menjelaskan komponen Kreuz mayoritas lokal. Namun soal kualitas menurutnya tidak kalah dengan produk seli buatan luar negeri. Kelebihan Kreuz adalah desain dan teknologinya yang dipersiapkan untuk menempuh kontur jalan di Indonesia, khususnya di Bandung yang tidak rata dan naik turun.

Mengenai nama, Kreuz berasal dari bahasa Jerman yang berarti melintas. Namun Kreuz juga bentuk pelesetan dari bahasa Sunda, yaitu kareueus yang berarti 'kebanggaan'. Semoga Kreuz menjadi produk kebanggan dalam negeri yang mampu bersaing dengan produk-produk impor.
Bagikan :
Topik :

Reporter : Iman Herdiana
Editor : Ervan Bayu Setianto
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU
ide
02 Juli 2020 13:01 WIB

Jejak Kolonial di RSHS Bandung dan Julukan RS Ranca Badak dari Masyarakat

Sudah empat kali ganti nama sejak tahun 1920-an
Lifestyle
02 Juli 2020 13:00 WIB

Lelah Dihujat Warganet, YoonA SNSD Akhinya Minta Maaf

Berpikir dulu sebelum bertindak ya
Nasional
02 Juli 2020 12:50 WIB

Djoko Tjandra Diduga Ubah Nama Jadi Joko Tjandra Biar bisa Masuk Indonesia

Ganti nama di pengadilan Papua
 
Nasional
02 Juli 2020 12:32 WIB

Ini Alasan Paket Pelatihan Program Kartu Prakerja Dihentikan

Insentif diambil, pelatihannya dicuekin