Kamis, 18 April 2019
Ilustrasi (era.id)
01 April 2019 16:33 WIB

Pemilu Kita Lebih 'Tipu-tipu' dari April Mop

Catatan Mafindo tunjukkan betapa penuh tipu dayanya pemilu ini. Maka, lupakanlah April Mop
Bagikan :


Jakarta, era.id - Sejak dulu, 1 April selalu diperingati sebagai April Mop. Pada tanggal itu, semua orang berbahagia merayakan lelucon. Ya, meski diwarnai tipu-tipu. Tapi, buat masyarakat Indonesia, mungkin ini saatnya melupakan April Mop. Sebab, belakangan, setiap hari kok terasa seperti April Mop, ya. Tebak saja, apalagi pemicunya kalau bukan pemilu. Siapa yang salah, kalau pesta demokrasi yang harusnya asyik dan bermartabat malah terasa bau kentut?

Eits, ingat ya, kami enggak pernah asal ngomong. Nyatanya, hoaks memang makin banyak bertebaran jelang pemilu. Data yang dihimpun Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) sepanjang 2018 hingga Januari 2019 menunjukkan peningkatan tersebut. Dan benar saja, menurut data itu, sebaran hoaks didominasi oleh isu politik terkait pemilu.

Sepanjang 2018, isu yang berhasil didata dan terverifikasi sebagai hoaks mencapai 997 isu, di mana 49,94 persen atau 488 isu di antaranya bertemakan politik. Belum selesai. Pada Januari 2019, Mafindo mencatat 109 hoaks yang tersebar, di mana 58 di antaranya bertema politik. Bayangkan, seluruh hoaks itu disebar dalam kurun waktu satu bulan. Sekarang, kita memasuki bulan keempat 2019. Sebanyak apa kira-kira hoaksnya?

Kekhawatiran terkait sebaran hoaks dalam pesta demokrasi ini diungkap secara gamblang oleh Ketua Presidium Mafindo, Septiaji Eko Nugroho. Menurutnya, hoaks politik jelang pemilu ini bukan hanya merusak kualitas pesta demokrasi lima tahunan kita semua, tapi juga merusak kerukunan masyarakat yang ujung-ujungnya adalah disintegrasi kebangsaan.

“Berpotensi mengancam kualitas pesta demokrasi terbesar dalam sejarah bangsa Indonesia. Ia (hoaks) tak hanya akan merusak akal sehat calon pemilih, namun juga mendelegitimasi proses penyelenggaraan pemilu, dan lebih parahnya mampu merusak kerukunan masyarakat yang mengarah ke disintegrasi bangsa,” kata Aji dikutip dari situs resmi Mafindo, Senin (1/4/2019).

Dalam dampak yang lebih luas, hoaks-hoaks politik jelang pemilu ini enggak cuma berdampak pada berbagai hal terkait demokrasi dan tetek bengeknya, tapi juga berpotensi menciptakan generasi-generasi bodoh.

Menurut Aji, budaya politik omong kosong yang dipraktikkan dua kubu pasangan calon bakal menumbuhkan budaya debat kosong dengan topik hoaks di tengah masyarakat  ketimbang debat penuh argumen yang lebih berisi.

“Angka kenaikan jumlah hoaks tersebut seharusnya menyadarkan kita bersama, bahwa hoaks ini masih menjadi masalah bersama yang akan merugikan semua pihak. Hanya jika kita menjadi masyarakat sadar fakta maka kita bisa melanjutkan kehidupan demokrasi dengan baik. Kami juga memohon para elit politik untuk tidak menggunakan atau membiarkan hoaks untuk kepentingan elektoral."


Infografis Hoaks Jelang Pemilu (Ilham/era.id)


Baca Juga : Waspadai Hoaks Exit Poll Luar Negeri


Omong kosong macam apa?!

Nah, lalu omong kosong macam apa yang tersebar di musim pemilu ini? Masih merujuk data yang sama, nih. Sepanjang Juli hingga Desember 2018, 75 hoaks tercatat sebagai kabar palsu yang ditujukan untuk menyerang pasangan calon 01. Tipis di bawah Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin, pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno jadi sasaran dari 54 penyebaran hoaks.

Terkait jenis konten hoaks, Mafindo mencatat, pada semester dua tahun 2018, konten berbentuk foto beserta narasi mendominasi dengan persentase 45,25 persen. Setelahnya, konten berupa narasi mengikuti dengan 30,63 persen. Terakhir, konten video beserta narasi jadi yang paling sedikit dengan angka 14,22 persen. Nah, jika itu catatan bulan Juli hingga Desember 2018, pada Januari polanya tampak berubah.

“Namun kita melihat pada bulan Januari 2019, komposisinya sedikit berubah dengan 34,86% berupa narasi saja, kemudian gabungan foto/narasi sebanyak 28.44% dan video/narasi sebanyak 17.43%. Kenaikan jumlah hoaks berbentuk video, mengindikasikan kian canggihnya bentuk hoaks yang beredar di masyarakat,” tutur Santi Indra Astuti, Ketua Komite Litbang Mafindo.

Masih merujuk data yang sama. Mafindo menandai Facebook sebagai platform yang paling rentan penyebaran hoaks. Sepanjang Juli-Desember 2018, Facebook mencatat persentase penyebaran hoaks hingga 47,43 persen. Persentase itu meningkat pada bulan Januari 2019, yaitu 49,54 persen.

Selain Facebook, WhatsApp juga jadi platform yang paling banyak digunakan untuk sebar hoaks dengan catatan 10,87 persen (Juli-Desember 2018) dan 11,92 persen (Januari 2019). Kemudian, Twitter mencatatkan persentase 8,90 persen lalu lintas hoaks di sepanjang Juli-Desember 2018, yang kemudian juga meningkat pada Januari 2019 dengan persentase 12,84 persen.


Makin parah jelang pemilu

Potensi serangan hoaks ini nyatanya juga terdeteksi oleh pemerintah. Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) bahkan menyatakan potensi serangan hoaks akan semakin meningkat jelang perhelatan pemilu. Pola ini, sejatinya telah terlihat lewat monitoring yang dilakukan Kominfo.

Berkaca pada pendataan yang dilakukan pada Desember 2018 hingga Januari 2019, data Kominfo menunjukkan peningkatan jumlah hoaks hingga seratus konten. Dari 75 konten hingga 175 konten hoaks terhitung hingga akhir Januari.

Kemudian, pada Februari, jumlah hoaks terdeteksi meningkat tajam hingga menyentuh angka 353 konten. Terkait ini, Menteri Kominfo, Rudiantara mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. Bukan hanya dalam menerima informasi, tapi juga dalam menyebar informasi.

Bukan apa-apa, biar bagaimanapun, penyebaran hoaks sadar ataupun enggak sadar juga banyak dilakukan masyarakat. "Hoaks adalah musuh kita bersama," kata Rudiantara, ditulis Antara.

Dalam penangan hoaks ini, Kementerian Kominfo membuat pusat aduan yang dapat diakses masyarakat. Jadi, bagi masyarakat yang mendapati hoaks, segeralah melapor ke aduankonten@kominfo.go.id atau melalui akun Twitter @aduankonten.

Bagikan :
Topik :

Reporter : Yudhistira Dwi Putra
Editor : Yudhistira Dwi Putra
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU
Peristiwa
18 April 2019 19:19 WIB

Prabowo Bantah Bertemu Utusan Jokowi

Utusan presiden QC bertemu presiden RC BPN, bingung kan shay~
Nasional
18 April 2019 19:07 WIB

BPN Desak KPU Cabut Izin Quick Count Lembaga Survei

BPN sebut sejumlah kejanggalan dalam quick count
Peristiwa
18 April 2019 19:01 WIB

Prabowo Klaim Kemenangannya Ditemani Sandiaga

Dua capres ngaku menang, biar adil bikin dua shift aja kali yak~
Peristiwa
18 April 2019 18:09 WIB

Alasan Jokowi Kembali Kumpulkan Koalisinya di Plataran Resto

Karena Platara Resto adalah koentji~
Analisa
18 April 2019 18:03 WIB

Psikolog: Caleg Stres karena Terlalu Ngarep Menang

Sabar ya leg, emang nasibnya begitu~