Minggu, 31 Mei 2020
Ilustrasi (pixabay)
08 November 2019 17:17 WIB

Yukyu Joka: Ritual Mengenang Jatah Cuti yang Tak Diambil

Kerja, kerja, kerja~
Bagikan :


Jakarta, era.id - Tak dapat dipungkiri, Jepang memang dikenal sebagai negara dengan penduduknya yang gila kerja. Hak pekerja seperti cuti pun jarang diambil oleh para pekerja di Negeri Sakura itu. Hal ini kemudian memicu lahirnya sebuah ritual penghormatan kepada jatah cuti yang tak terpakai. 

Budaya gila kerja di Jepang bahkan memiliki satu istilah tersendiri, yakni karoshi alias mati karena kelelahan akibat bekerja. Bahkan tak jarang media internasional menyoroti kematian akibat workaholic di negeri itu.

Gara-gara keseringan bekerja dan adanya tekanan lingkungan supaya tidak terkesan malas, pekerja di Jepang jarang sekali memanfaatkan jatah cuti tahunan yang diberikan oleh perusahaan.

Berdasarkan Kementerian Kesehatan, Perburuhan, dan Kesejahteraan Jepang, hanya 51,1 persen dari total populasi karyawan dari berbagai sektor yang memanfaatkan hak cutinya sepanjang tahun 2017. Ini adalah angka terendah di antara 15 negara yang diteliti terkait jumlah pekerja yang bersedia memanfaatkan jatah cuti mereka.


Baca Juga : Jepang Bersiap Hadapi Gelombang Kedua dan Ketiga Virus Korona

Dilansir Japan Today, Jumat (8/11/2019), situasi yang dianggap tidak sehat ini membuat pemerintah Jepang sampai mengeluarkan Undang-Undang Reformasi Gaya Kerja pada tahun 2018, yang membuat amendemen penting terhadap Undang-Undang Ketenagakerjaan. Ini bertujuan untuk mereformasi kebiasaan kerja dan mengurangi jam kerja. 

Selain menerapkan aturan itu, upaya lain untuk mengajak para pekerja mengambil hak cuti mereka adalah dengan kampanye. Salah satunya dengan upacara keagamaan yang digelar pada 23 November mendatang, tepat pada Hari Buruh.

Ritual ini diberinama Yukyu Joka yang secara harfiah memiliki arti penyucian jatah cuti. Dalam ritual Buddhis ini, para pekerja diajak mengenang dan mendoakan jatah cuti yang belum sempat terpakai selama mereka bekerja. Acara ini diselenggarakan oleh perusahaan Ningen Co Ltd yang bekerja sama dengan kuil Buddha di Tokyo. Dalam sekte Buddha yang berkembang di Jepang, ada satu upacara khusus bernama Kuyo.



Baca Juga: Mengenal Tiga Jenis Plat Nomor Kendaraan di Jepang

Ritual Yukyu Joka ini adalah cara untuk menghormati dan menyucikan jiwa yang tak mengambil cuti dengan berbagai benda mati yang tak terpakai lagi. Jatah cuti di sini dianggap sebagai barang-barang tak terpakai seperti boneka atau baju bekas yang dianggap memiliki jiwanya sendiri, yang kecewa karena tak berguna semasa di dunia. Maka dari itu, timbul asumsi bahwa jiwa-jiwa mereka tak tenang dan harus disucikan lewat ritual ini. 

Dalam acara Yukyu Joka mendatang, peserta diminta untuk datang saja dan mengikuti ritual. Mereka kemudian diminta untuk merenungkan pentingnya mengambil jatah cuti tahunan. Panitia juga menyiapkan 300 lentera yang dilengkapi dengan pesan-pesan singkat terkait penyesalan tentang jatah cuti yang tak pernah digunakan.

Peserta juga dipersilahkan untuk menuliskan penyesalannya karena tak sempat menggunakan hak liburnya. Panitia akan memilih pesan-pesan dari kumpulan pengajuan yang dapat diajukan di situs web resmi mereka hingga 15 November.

Sudah banyak para pekerja yang mengirimkan pesan-pesan penyesalannya. Salah satunya ditulis oleh seorang wanita berusia 30 tahun. "Aku baru merayakan ulang tahun anakku yang masih Paud. Seharunya pada Mei, namun menjadi Desember karena aku mementingkan pekerjaan. Dia menangis saat aku mengatakan tak bisa pesta ulang tahun di tanggal yang seharusnya."

Pesan lain datang dari pria yang berusia 30 tahun juga. Ia mengatakan, "Anak pertama saya lahir ketika saya sedang dinas kantor di Amerika Serikat."

Tak hanya itu, dalam ritual Yukyu Joka ini nantinya bakal ada satu lentera besar di atas panggung. Lentera besar ini berisi pesan soal penyesalan karena lebih mementingkan pekerjaan dibandingkan hak pribadi para pekerja. 

Rata-rata pekerja di Jepang bekerja lembur lebih dari 80 jam selama sebulan. Akibatnya, banyak orang merasa terbebani hingga berujung pada gangguan kesehatan sampai keinginan bunuh diri. Sejak Agustus lalu, Microsoft Jepang memberlakukan kebijakan kerja empat hari seminggu. Hasilnya positif sebab rata-rata produktivitas pekerja justru meningkat 40 persen.
Bagikan :
Topik :

Reporter : Noor Pratiwi
Editor : Ahmad Sahroji
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU