Senin, 22 Juli 2019
Ilustrasi (Ilham/era.id)
11 Juli 2019 15:38 WIB

Belajar Falling in Love With People We Can't Have dari Prabowo

Ilmu psikologi melihat kesamaan Prabowo dan penyintas FILWPWCH. Mari petik pelajaran
Bagikan :


Jakarta, era.id - Perjuangan kubu Prabowo Subianto-Sandiaga Uno memenangi pemilu belum berakhir. Setelah gugatannya ditolak di Mahkamah Konstitusi (MK), mereka kini menempuh (lagi) langkah hukum lewat Mahkamah Agung (MA). Banyak pihak menyebut langkah ini sia-sia. Setidaknya kita bisa belajar dari kubu 02, terutama Prabowo, tentang perasaan “falling in love with people we can't have,” atau dalam hal ini adalah: falling in love with something we can't get.

Kemarin, kami menemui Arsul Sani, Wakil Ketua Umum Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin. Arsul menyebut langkah tim hukum 02 mengajukan kasasi ke MA sia-sia. Langkah hukum ini dinilai mundur. Gugatan terkait kecurangan pemilu yang terstruktur, sistematis, dan masif ini telah diketuk di meja hakim konstitusi. Artinya putusan tadi bersifat final dan mengikat.

"Kalau menurut saya, (langkah hukum) sia-sia, karena tidak memenuhi syarat-syarat formal, bahwa sebuah perkara kalau sudah dikasasi tidak bisa dikasasi kembali. Tapi, karena putusannya NO tidak dapat diterima. Kalaupun mau mengupayakan langkah hukum, ya harus diulang lagi dari awal,” kata Arsul kepada reporter kami, Mery Handayani, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta Selatan, Rabu (11/7).

Dari kubu 02 sendiri, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Sufmi Dasco menyatakan pesimismenya. Dengan pendapat senada Arsul, Dasco menilai langkah hukum ini tiada guna sebab MK telah melegitimasi kemenangan Jokowi-Ma'ruf dalam pemilu. "Ya, (atas nama Prabowo-Sandi) tapi kedaluwarsa. Karena sudah lewat masa waktu," tuturnya saat dikonfirmasi.


Baca Juga : Pertemuan Lanjutan Prabowo-Jokowi Berpeluang Terjadi

Pernyataan Dasco mengindikasikan adanya misscommunication antara tim kuasa hukum dan para politikus pendukung Prabowo-Sandi yang tergabung dalam Badan Pemenangan Nasional (BPN). Dasco juga mengakui ini. Dia bilang, tim kuasa hukum tak pernah mengomunikasikan langkah pengajuan kasasi ini pada BPN.

“Ini proses kasasi, sebelum MK, yang belum diterima oleh MK karena ada syarat formil yang belum terpenuhi. Rupanya, tim lawyer perbaiki dan enggak bilang lagi, tidak koordinasi lalu daftar ulang,” terang Dasco.

Terkait ini, Nicholay Aprilindo, anggota tim kuasa hukum kubu 02 mengklarifikasi. Menurutnya, yang mereka ajukan ke MA bukan kasasi, melainkan permohonan pelanggaran administratif pemilu (PAP). Nicholay juga membantah jika langkah hukum ini dilakukan tanpa sepengetahuan kubu Prabowo-Sandi. Dan pengajuan ini, menurut Nicholay adalah yang kedua, setelah sebelumnya ditolak MA. Jadi, dalam permohonannya ini, mereka ingin MA kembali memeriksa dugaan kecurangan pemilu.

“Merupakan permohonan kepada Mahkamah Agung RI untuk memeriksa Pelanggaran Administratif Pemilu secara TSM Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden atas Putusan Pendahuluan Bawaslu Nomor : No.01/LP/PP/ADM.TSM/RI/00.00/V/2019, tanggal 15 Mei 2019,” kata saat dikonfirmasi, Kamis (11/7/2019).

“Hal tersebut di atas untuk meluruskan pemberitaan yang keliru yang menyatakan bahwa permohonan PAP yang kedua pada Mahkamah Agung RI tanpa sepengetahuan Prabowo-Sandi,” tuturnya.


Sidang MK perselisihan hasil pemilu (Anto/era.id)


Belajar dari Prabowo

Entah apa yang tengah terjadi antara tim kuasa hukum Prabowo-Sandi dan para politikus BPN. Yang jelas, mari kita ambil hikmah dari keruwetan ini. Kita belajar dari Prabowo soal perasaan “falling in love with people we can't have,” atau dalam hal ini adalah: falling in love with something he can't get. 

Ya, biar bagaimanapun, Prabowo telah menempuh langkah yang amat panjang untuk menduduki kursi presiden. Psikolog Politik Universitas Indonesia (UI), Hamdi Muluk melihat ada kesamaan nasib antara Prabowo dengan para penyintas perasaan falling in love with people we can't have.

"Istilahnya, dia memiliki need of power yang tinggi. Maksudnya, dia akan menggunakan segala cara untuk memenuhi keinginan berkuasa," kata Hamdi saat dihubungi reporter kami, Diah Ayu Wardhani, Rabu (10/7).

Studi yang dilakukan Laboratorium Psikologi UI dan Universitas Padjadjaran (UNPAD), Bandung pada tahun 2014 juga pernah mengungkap kepribadian Prabowo. Studi itu membandingkan jiwa kepemimpinan antara Prabowo dan Jokowi. Hasilnya, Prabowo mendapatkan nilai lebih tinggi dalam dimensi motivasi untuk berkuasa. Dalam skala 1-10, Prabowo mendapat angka 8,64, sedang Jokowi 6,36.

"Kepribadian dia (Prabowo) yang menonjol adalah ambisius, kebutuhan kekuasaan tinggi, stabilitas emosi rendah, sering tidak bisa menerima realitas, dan suka menganggap dirinya orang besar," tambah Hamdi.

Menurut Hamdi, segala yang nampak dari Prabowo --terutama dalam konteks pemilu-- nyatanya memang mirip dengan yang terjadi pada para penyintas perasaan falling in love with people we can't have. “Bisa juga (kemiripan). (Secara dampak) semacam frustrasi dan dendam juga. Kasihan sebenarnya, cuma dia jadi semangat karena dikipas-kipasin dan dikasih harapan palsu sama orang sekelilingnya," tutur Hamdi.

Prabowo memang telah lama menginginkan kursi presiden. Sekitar 15 tahun lalu, Prabowo memulai semua langkah itu. Pemilu 2004 jadi kali pertama Prabowo mencoba peruntungan menjadi presiden. Saat itu, Prabowo maju dalam konvensi calon presiden dari Partai Golkar. Di percobaan pertamanya itu, Prabowo tak benar-benar maju ke tengah kontestasi, sebab Golkar akhirnya mengusung Wiranto yang berpasangan dengan Salahuddin Wahid. Pemilu saat itu dimenangi oleh pasangan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Jusuf Kalla (JK).

Pemilu 2009, Prabowo kembali maju dengan kendaraannya sendiri, Partai Gerindra. Saat itu, Prabowo menggandeng Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN), Soetrisno Bachir sebagai wakil presiden. Sayang, pasangan itu urung maju karena tak sanggup memenuhi persyaratan kursi dukungan. Prabowo akhirnya berkompromi. Ia mundur dari bursa capres dan maju sebagai cawapres bersama Megawati. Dalam pemilu itu, Prabowo kembali kalah, dan SBY --saat itu menggandeng Boediono-- kembali menang.

Lima tahun kemudian, pemilu kembali digelar, tanpa SBY dalam bursa. Prabowo yang pada pemilu sebelumnya maju bersama Megawati dan PDI Perjuangan (PDIP), justru mengambil sisi berlawanan. Saat itu 2009, kursi Partai Gerindra meningkat pesat, dari semula 26 menjadi 73 kursi. Prabowo memiliki daya tawar kuat saat itu. Menghadapi pasangan Jokowi-JK. Pemilu itu berakhir identik bagi Prabowo. Ia kalah dalam perbandingan suara 46,84 melawan 53,13 persen.

Di Pemilu 2019, Prabowo kembali tancap gas. Menggandeng pengusaha yang ketika itu menjabat Wakil Gubernur DKI Jakarta, Sandiaga Uno, Prabowo memasang optimisme. Dalam pemilu ini, Prabowo yang didukung Gerindra, PAN, dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) kembali berhadapan dengan Jokowi yang kali ini menggandeng tokoh Islam, Ma'ruf Amin sebagai wakilnya.

Dalam pencoblosan, Prabowo-Sandi dinyatakan kalah dengan perbandingan 44,50 persen atau 68.650.239 suara melawan 55,50 persen (85.607.362 suara). Berbagai langkah dilakukan Prabowo usai penetapan yang dilakukan Komisi Pemilihan Umum (KPU), mulai dari laporan ke Bawaslu, menggugat ke MK, hingga dugaan pengerahan massa yang disebut-sebut banyak melibatkan orang-orang di lingkaran Prabowo maupun BPN.

Bagikan :

Reporter : Diah Ayu Wardani , Mery Handayani
Editor : Yudhistira Dwi Putra
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU
Nasional
22 Juli 2019 18:40 WIB

Bos Go-Jek Nadiem Makarim Gabung ke PDIP?

Setelah mengganti logo, apakah gojek juga akan merubah warna seragamnya jadi merah?
Nasional
22 Juli 2019 17:24 WIB

VIDEO: SPG Cantik Jualan Hewan Qurban

Kalau yang jaga begini sih rela lama-lama di kandang sapi mblo~
Lifestyle
22 Juli 2019 17:24 WIB

Matt Groening Singgung Sekuel The Simpsons Movie di Comic-Con

Sang pencipta bersuara soal karya epiknya
Nasional
22 Juli 2019 16:30 WIB

PDIP Tolak Rencana Super Holding Bentukan Rini Soemarno

"Mereka yang berpikir membentuk super holding, harus belajar dari krisis ekonomi di AS"
Lifestyle
22 Juli 2019 16:18 WIB

Moskow Merayakan Konser Ed Sheeran Lewat Sebuah Patung

Sebuah perayaan...