Jumat, 05 Juni 2020
Achmad Yurianto (Dok. BNPB)
22 Mei 2020 16:51 WIB

Lima Provinsi Nihil Kasus COVID-19 Hari Ini

5.000 orang sembuh
 
Bagikan :


Jakarta, era.id - Pemerintah Indonesia melalui Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 mencatat jumlah penambahan kasus terkonfirmasi positif COVID-19 per hari ini Jumat (22/5/2020) pukul 12.00 WIB bertambah 634 orang sehingga totalnya menjadi 20.796 kasus. 

"Sedangkan pasien yang meninggal sebanyak 1.326 orang. Untuk jumlah pasien dalam pengawasan (PDP) yang masih berjalan sebanyak 11.028 orang dan orang dalam pemantauan (ODP) yang masih berjalan sebanyak 47.150 orang," kata Juru Bicara Pemerntah untuk Penanganan COVID-19, Achmad Yurianto dalam jumpa pers di Graha BNPB yang dipantau di Jakarta, Jumat (22/5/2020).

Persebarannya cukup bervariasi. Ada wilayah yang melaporkan banyak kasus baru, ada juga yang sama sekali tidak ada kasus. Jakarta masih menempati urutan pertama jumlah penularan harian dengan jumlah kasus mencapai 6.400, disusul Jawa Timur mencapai 3.128, dan Jawa Barat dengan 1.962.

Sedangkan provinsi yang melaporkan tidak adanya penambahan kasus baru pada hari ini adalah sebagai Bangka Belitung, Bengkulu, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, dan Nusa Tenggara Timur.


Baca Juga : Langgar Protokol Kesehatan, Izin 59 Industri di Jabar Dicabut

Secara keseluruhan, pemerintah telah melakukan pemeriksaan usapan rongga mulut dengan berbagai jenis spesimen mencapai 229.334 spesimen. Hasil uji spesimen tersebut dengan menggunakan metode Real Time Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) dan Tes Cepat Molekuler (TCM).

Secara umum, saat ini telah dimanfaatkan sebanyak 69 laboratorium RT-PCR dan 35 laboratorium TCM yang aktif di Tanah Air. Khusus untuk hari ini, dilakukan pemeriksaan spesimen dan validasi data untuk kepentingan tracing sebanyak 9.359 spesimen.


Infografik (Dok. BNPB)

Terkait data perkembangan kasus COVID-19 tersebut, ia mengatakan hal itu menggambarkan bahwa penularan masih terjadi, bahwa di luar masih ada sumber penularannya dan di luar masih ada kelompok masyarakat yang rentan tertular serta memungkinkan terjadinya penularan disebabkan tidak mentaati protokol kesehatan yang ada.

"Lebih dari ratusan ribu spesimen diperiksa, puluhan ribu orang kemudian terinfeksi disebabkan dinamika pergerakan manusia karena pergerakan aktivitas sosialnya," ujar dia.

 
Bagikan :

Reporter : ERA.ID
Editor : Ervan Bayu Setianto
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU