Senin, 24 Februari 2020
Museum Taman Prasasti Jakarta. (Twitter @MuseumPrasasti)
16 Desember 2019 12:12 WIB

Menapaki Jejak Kompeni Hingga Keberadaan Freemason di Jakarta

Makam bangsawan Belanda ini mengungkap fakta dan informasi tentang sejarah Indonesia
Bagikan :


Jakarta, era.id - Lanskap batu nisan bergaya Neo Gothic dan pohon-pohon rindang langsung memenuhi mata saat memasuki gerbang utama Museum Taman Prasasti, Jakarta Pusat. Tempat yang semula kompleks pemakaman itu juga tampak sunyi dari hingar-bingar pengunjung. Di sebelah kiri dekat gerbang utama, sebuah tiang lonceng tak terlalu besar berdiri menyambut. 

"Dring.." demikian suara lonceng berdentang, begitu sakral dan menghipnotis kami untuk segera mencari tahu destinasi historis ini. 

Menurut pemandu wisata meseum, Eko Wahyudi, lonceng kematian ini dulunya dibunyikan sebanyak tiga kali sebagai penanda kedatangan jenazah di Kota Batavia --sekarang Jakarta. "Tahun 1915, lonceng (yang asli) ini dipindahkan ke Gereja Katedral," ujar Eko membuka ceritanya kepada era.id, Minggu (16/11).


Area pemakaman di Museum Taman Prasasti(Gabriella/era.id)


Baca Juga : Menikmati Senja di Oud Batavia

Eko mengisahkan dulunya mesuem ini bernama kompleks pemakaman Kebon Jahe Kober (Koeboeran Bersama) yang dibangun pada tahun 1795. Luas awalnya mencapai 5,5 hektare yang dikhususkan untuk orang Belanda ataupun orang kaya di era Hindia Belanda.

Namun, seiring dengan berjalananya waktu, pemakaman itu semakin padat. Gubernur DKI Jakarta kala itu, Ali Sadikin, pun memerintahkan agar tak ada lagi yang dimakamankan di sana. Ali Sadikin akhirnya menutup kawasan itu sebagai pemakaman. Pada tahun 1977, dia mengubah wajah Pemakaman Kebon Jahe dan meresmikannya sebagai Museum Taman Prasasti.

Banyak nisan dari abad ke-17 yang memenuhi pekuburan tersebut. Kebanyakan mereka yang disemayamkan adalah orang-orang Belanda. Tak heran jika Museum Taman Prasasti mendapat predikat sebagai salah satu pemakaman umum modern pertama di dunia. Bahkan lebih tua ketimbang pemakaman Fort Canning Park (1926) di Singapura, Gore Hill Cemetery (1868) di Sydney, La Chaise Cemetery (1803) di Paris, Mount Auburn Cemetery (1831) di Cambridge, Massachusetts, dan Arlington National Cementery (1864) di Washinton DC.

Setelah menjadi Museum Taman Prasasti, kini luas pemakaman tersebut menyusut menjadi 1,2 hektare. Di bekas tanah pemakaman itu saat ini berdiri gedung pemerintahan yaitu Kantor Wali Kota Jakarta Pusat.

"80 persen di sini hanya nisan saja, sudah enggak ada jenazahnya. Prasasti nisan yang ada di sini impor langsung dari Italia, jenisnya batu marmer carara," kata Eko.


Kereta pembawa jenazah. (Twitter @MuseumPrasasti)

Di sisi kiri kompleks terparkir sebuah kereta pembawa jenazah. Konon katanya, dahulu kala kereta ini ditarik oleh beberapa ekor kuda sesuai dengan kelas sosial orang yang meninggal. Selain itu, juga terlihat dua buah peti jenazah di dalam kaca. Kata Eko, kedua peti ini pernah digunakan oleh Proklamator Indonesia Soekarno dan Mohammad Hatta.

Masih di sisi kiri depan, pengunjung akan langsung melihat sebuah patung perempuan yang terlihat sedang menelungkup menangis. Eko mengatakan, sosok perempuan itu adalah seorang istri yang teramat sedih atas kematian suaminya akibat penyakit kronis.

"Akibat tidak bisa menahan sedih, perempuan ini akhirnya mati bunuh diri. Nah orang tuanya membuat patung ini sebagai pengingat. Kita namakan ini The Crying Woman," kata Eko.


Patung The Crying Woman di Museum Taman Prasasti. (Gabriella/era.id)

Tak jauh dari situ, di sisi kanan teredapat moesoleum atau tempat untuk menyimpan jenazah. Makam berbentuk rumah itu dulunya merupakan makam keluarga A. J. W. Van Delden. Dia adalah seorang juru tulis di Indonesia Timur dan pernah menjabat sebagai ketua perdagangan VOC.

Berjalan sedikit ke arah kiri dari moesoleum keluarga Van Delden, terdapat makam istri Thomas Stamford Raffles, Olivia Mariamne Raffles. Batu nisannya terbuat dari batu andesit. "Dia memiliki wasiat untuk dimakamkan dekat sahabatnya yang bernama John Casferleyden. Sekarang batu nisan mereka pun letaknya bersebelahan," ucap Eko.

Dari Pendiri Stovia Hingga Penyelamat Negarakertagama

Selain prasasti nisan milik keluarga bangsawan Belanda, Meseum Taman Prasati juga memiliki koleksi nisan orang Belanda yang banyak berjasa terhadap Indonesia. Salah satunya adalah makam H.F. Roll. Dia adalah orang yang mendirikan sekolah kedokteran bernama Stovia.

Perjuangannya menghadirkan sekolah dokter terbaik di Hindia Belanda rupanya menjadi salah satu titik kebangkitan para intelektual Indonesia yang muak dengan penjajahan Belanda. Kelak dari Stovia, kita mengenal nama-nama besar seperti dr. Wahidin Sudirohusodo dan dr. Tjipto Mangunkusumo. "Secara enggak langsung H.F Roll ini melahirkan cikal bakal Boedi Oetomo," kata Eko.


H.F Roll Roll, tokoh yang mencetuskan pendirian STOVIA. (Twitter @MuseumPrasasti)

Berjalan lebih jauh di sisi sebelah kanan meseum, pengunjung akan dikagetkan dengan nisan berbentuk mirip candi. Inilah prasasti makam Dr. Jan Laurens Andries Brandes. Dia adalah filolog yang terkenal karena menemukan manuskrip Kakawin Nagarakretagama di Puri Cakranegara Lombok pada 1894, dan penerjemahan Serat Pararaton beserta ulasannya.

"Jadi kita harus berterima kasih sama Jan Laurens karena sudah menyelamatkan Kitab Negarakertagama," kata Eko.

Selain berbentuk candi, di atas makam Jan Laurens terdapat tiang Yoni tak utuh. Eko mengatakan, simbol ini bermakna bahwa  orang yang meninggal masih memiliki keinginan yang belum tercapai.

Sedangkan orang Indonesia yang turut dikebumikan di sana adalah aktris tahun 1930-an, Miss Riboet atau terkenal dengan panggilan Miss Tjitjih. Selain itu, juga terdapat prasasti seorang aktivis pergerakan mahasiswa era 1960-an yang terkenal, Soe Hok Gie.

Jejak Freemason

Freemason dan Iluminati kabarnya telah ada sejak berabad-abad lalu dan memiliki anggota yang tersebar ke berbagai belahan dunia. Siapa sangka jika jejak organisasi fenomenal ini juga ada di Indonesia. Tim era.id menemukan beberapa jejak Freemason di Museum Taman Prasasti.

Tepat di depan gerbang masuk museum, kami menemukan simbol tangan menggenggam palu pada nisan salah satu petinggi VOC. Simbol ini menggambarkan wewenang seorang Grand Master Masonik atas sebuah pemondokan, termasuk seluruh murid-muridnya.



Berjalan mendekati gerbang utama, kami juga melihat simbol masonik yang paling terkenal yaitu simbol berupa kompas. Simbol kompas biasanya disandingkan dengan lambang 'mata-yang-selalu-mengawasi', konsep khas Mason tentang kemampuan Tuhan mengawasi semua mahkluknya setiap saat.

Eko juga mengatakan Istri A. J. W. Van Delden, Maria Magdalena Christina Doornik juga diduga sebagai salah satu anggota Freemason di Indonesia.

Menapaki lebih dalam, Eko membawa kami ke makam milik petinggi Hindia Belanda yaitu Dirk Anthonius Varkervisser. Makamnya berupa tugu dari besi, di sisi kirinya terdapat simbol Ouroboros —ular atau naga yang memakan ekornya sendiri— melambangkan lingkaran abadi alam, kreasi yang muncul dari desktruksi, kehidupan yang menyingsing dari kematian. Sementara di bagian puncak makam ada simbol holy grail.

Terkakhir, Eko membawa kami ke salah satu makam dengan simbol masonik yang juga terkenal yaitu gambat tengkorak dan tulang bersilang. "Ini juga katanya lambang freemason," sebut dia..

Simbol tengkorak dan tulang bersilang itu dipercaya dari konsep Memento Mori (Pesan Ingat kematian) dalam ajaran Freemansory. Namun ada pula yang berpendapat simbol ini bermakna penting. Hanya seorang Grand Master dan anggota Freemason level atas yang makamnya diberi kehormatan simbol seperti itu.

"Di atasnya juga ada simbol kupu-kupu, konon menggambarkan metamorfosis," kata Eko. "Kami sendiri tak terlalu paham dengan lambang kupu-kupu tersebut. Tapi kami menemukan ada dia nisan yang memiliki sombol tengkorak di Meseum Taman Prasasti."

Bagikan :
Topik :

Reporter : Gabriella Thesa Widiari
Editor : Ahmad Sahroji
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU
megapolitan
24 Februari 2020 13:55 WIB

Asal Muasal Asap di Gedung Nusantara III DPR

Diduga dari pantry lantai 2
Lifestyle
24 Februari 2020 12:52 WIB

Alasan Kenapa COVID-19 Menyebar Cepat di Kapal Pesiar

630 orang kena virus korona di DIamond Princess
Nasional
24 Februari 2020 12:12 WIB

DPR Kebakaran, Puan Maharani Dievakuasi

Belum diketahui penyebab terjadinya kebakaran
Ekonomi
24 Februari 2020 11:53 WIB

Kinerja Menteri Bidang Ekonomi Jadi Sorotan

Harga turun-naik, sudah dapat kerja