Rabu, 12 Desember 2018
Konferensi pers hasil jajak pendapat Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA. (Diah/era.id)
06 Desember 2018 15:43 WIB

LSI: Isu di Media Sosial Pengaruhi Elektabilitas Capres-Cawapres

Salah satunya hoaks Ratna Sarumpaet dan pembakaran bendera tauhid di Garut
Bagikan :


Jakarta, era.id - Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA merilis hasil jajak pendapat terkait isu yang berkembang di media sosial dan media daring (online). Dari hasil survei, isu tersebut ternyata memiliki dampak elektoral terhadap pasangan calon presiden dan wakil presiden pada Pemilu 2019.

Isu nomor satu yang paling meramaikan peramban internet tersebut adalah kasus hoaks yang dibuat oleh aktivis Ratna Sarumpaet. Kalau diingat kembali, kasus ini bermula ketika Ratna mengaku menjadi korban penganiayaan sehingga mukanya lebam.

Narasi penganiayan ini pun disebarluaskan oleh sejumlah tokoh nasional, terutama pihak Badan Pemenangan Nasional (BPN) pasangan calon presiden dan wakil presiden Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Nyatanya, itu cuma khayalan Ratna saja yang malu karena operasi sedot lemak di RS Bina Estetika, Menteng, tidak berjalan seperti biasanya. 


Ilustrasi (Mahesa/era.id)


Baca Juga : BPN Pindah Markas, PKB: Jateng Masih Basis Jokowi

Atas kasus ini, mantan juru bicara tim pemenangan Prabowo-Sandiaga ini pun ditangkap polisi untuk dimintai pertanggunjawabannya. Ratna dijerat Pasal 14 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana dan Pasal 28 UU Informasi dan Transaksi Elektronik.

"Kasus hoaks Ratna Sarumpaet menyita frekuensi di media sosial dan media online sebanyak 17.440 berita. Hal ini menimbulkan sentimen positif ke Jokowi-Ma'ruf sebesar 65 persen dan sentimen negatif sebesar 35 persen," tutur Peneliti LSI Rully Akbar di Kantor LSI, Rawamangun, Jakarta Timur, Kamis (6/12/2018).

"Kasus hoaks Ratna juga menimbulkan sentimen positif ke Prabowo-Sandiaga sebesar 8 persen dan sentimen negatif sebesar 92 persen," tambah dia.

Jika sebelumnya lebih memiliki sentimen positif kepada Jokowi-Ma'ruf, isu terbesar kedua ini lebih menguntungkan Prabowo-Sandi, yaitu kasus pembakaran bendera tauhid oleh oknum Banser di Garut, Jawa Barat.

Kasus pembakaran bendera tauhid itu pun berdampak dengan turunnya sejumlah aksi dengan tuntutan agar pihak berwajib mengusut tuntas peristawa pembakaran yang dianggap berafiliasi ke ormas terlarang Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).
 

"Kasus pembakaran bendera menyita frekuensi di media sosial dan media online sebanyak 12.140 berita. Hal ini menimbulkan sentimen positif ke Jokowi-Ma'ruf sebesar 46 persen dan sentimen negatif sebesar 54 persen," kata Rully.

"Kasus ini juga menimbulkan sentimen positif ke Prabowo-Sandiaga sebesar 75 persen dan sentimen negatif sebesar 25 persen," tambahnya.

Selain itu, isu lain yang ramai di media sosial dan media daring yang menguntungkan Jokowi-Ma'ruf adalah isu tampang Boyolali dengan frekuensi berita 3.920, 4 tahun kepemimpinan Jokowi sebanyak 1.680, "Games of Thrones" Jokowi sebanyak 800, Sandiaga lompati makam sebanyak 608, dan Jokowi Gratiskan Suramadu sebanyak 500 frekuensi berita.
 

Sementara, isu lain yang ramai di media sosial dan media daring sebagai isu yang menguntungkan Prabowo-Sandi adalah politik sontoloyo sebanyak 3.920 frekuensi berita, politik genderuwo sebanyak 1.840, dan janji mobil esemka sebanyak 1.380.

Survei ini menggunakan metode multistage random sampling dengan margin of error sebesar +/- 2,9 persen, dilakukan dengan wawancara tatap muka kepada 1.200 respoden seluruh Indonesia dalam rentang waktu 10-19 November 2018.
Bagikan :

Reporter : Diah Ayu Wardani
Editor : Ahmad Sahroji
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU
Review
12 Desember 2018 08:49 WIB

Berapa Harga ROG Phone di Indonesia?

Harganya mencapai belasaan juta
Lifestyle
12 Desember 2018 07:46 WIB

VIDEO: One Direction Bakal Reuni Besar

Ada kemungkinan mereka reuni saat liburan Natal
Lifestyle
12 Desember 2018 07:05 WIB

Instagram Saring Komentar Otomatis dalam Bahasa Indonesia

Bye bye bully dan hate speech~~
Lifestyle
12 Desember 2018 06:27 WIB

Samsung Kembangkan Jaringan 5G untuk Mobil Terhubung

Kerja sama ini dilakukan dengan Otoritas Keselamatan Transportasi Korea (KOTSA)
Lifestyle
11 Desember 2018 21:21 WIB

Kenapa Harus Iklan Blackpink?

Haruskan muncul petisi, atau hanya sekedar nasihat yang tak diinginkan warganet?