Senin, 14 Oktober 2019
Wakil Ketua Habibie Center Dewi Fortuna (Tsa Tsia/era.id)
15 September 2019 20:31 WIB

Wawancara: Masa Depan Perjuangan Habibie Center

Bagaimana Habibie Center melanjutkan perjuangan selepas kepergian Habibie?
Bagikan :


Jakarta, era.id - Presiden ke-3 RI Bachruddin Jusuf (BJ) Habibie meninggal dunia di usia 83 tahun akibat kesehatannya yang menurun. Tapi, sebelum dia meninggal, ternyata dia sudah menitipkan pesan kepada The Habibie Center untuk tetap eksis untuk memajukan demokrasi di Indonesia.

Hal ini disampaikan oleh Wakil Ketua The Habibie Center, Dewi Fortuna Anwar saat tim era.id mengunjungi kantornya pada Jumat (13/9/2019). Meski Dewi tengah sibuk saat itu, namun, dia bersedia meluangkan waktunya untuk menceritakan soal The Habibie Center yang resmi terbentuk pada 10 November 1999.

Di ruangan kantornya yang tidak terlalu besar, Dewi kemudian mengatakan The Habibie Center merasa sangat kehilangan sosok Presiden ke-3 RI tersebut. Sehingga, dia bilang, organisasi yang dibentuk Habibie untuk memajukan demokrasi di Indonesia ini belum memikirkan langkah apa yang akan mereka ambil ke depan.

Namun, organisasi non-pemerintahan ini, kata Dewi akan tetap berjuang untuk menjalankan pesan dari suami Ainun Besari tersebut. "Ini pesan Pak Habibie juga, bahwa The Habibie Center harus tetap eksis. Selama Indonesia ada, katanya, The Habibie Center juga harus tetap ada," kata Dewi saat ditemui di kantornya di kawasan Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan.


Baca Juga : Habibie: Bapak Teknologi Penggila Diskusi

Ilmuwan berusia 61 tahun ini kemudian mengatakan, sebelum Habibie meninggal, Wakil Presiden pendamping Soeharto ini sempat melakukan reorganisasi yang bertujuan untuk menyegarkan The Habibie Center dan memperkuat institusi ini. Hal ini, dilakukan sekitar tahun 2017 saat itu. "The Habibie Center ini kan kiprahnya sudah banyak ke luar, tapi yang beliau ingin, The Habibie Center ini lebih kuat secara organisasi," ungkapnya.

Dari penyegaran inilah, akhirnya Dewi masuk sebagai Wakil Ketua The Habibie Center pada tahun tersebut. Padahal sebelumnya, organisasi ini tidak memiliki Wakil Ketua. "Pada pertengahan 2017, saya sedang di Singapura kemudian diberitahu Pak Habibie ingin ada penguatan dan ada akte baru yang membuat struktur dimana tidak hanya ada ketua tapi ada wakil ketua," ujar dia.

Beberapa kegelisahan Habibie terkait masalah bangsa juga diceritakan oleh Dewi kepada kami. Termasuk, bagaimana mantan Menteri Riset dan Teknologi Kabinet Pembangunan era Soeharto ini resah dengan adanya gerakan yang dengan sengaja mempolitisir agama untuk kepentingan mereka di dalam pemilu.

Sebab, menurut Habibie, demokrasi dan kompetisi ibarat dua sisi mata uang. Hanya saja, tak boleh sampai terjadi keributan karena pemilu. Tak sampai di situ, Habibie juga resah karena masuknya politik identitas saat penyelenggaraan pemilu. Padahal, dia sangat menginginkan iklim demokrasi di Indonesia seperti saat ini, yaitu seluruh masyarakat bebas memilih pilihannya.

"Ini beliau benar-benar menyayangkan hal ini terjadi dan mengkritisi," ujar Dewi.

Sehingga, selama pemilu yaitu Pilkada DKI Jakarta 2017 dan Pilpres 2019, Habibie selalu berusaha menempatkan dirinya sebagai penengah. Caranya, dia menerima semua paslon yang saat itu tengah berkontestasi yang tentunya berdampak dengan kesehatannya.

Menurut Dewi, Habibie juga sempat kelelahan karena semua pihak yang berkontestasi dalam pemilu, khususnya saat Pilpres 2019, menginginkan untuk bertemu dan berdialog secara khusus dengan dirinya.


Debat Pilpres 2019 (Instagram/b.jhabibie)


Habibie juga sempat menegaskan sikapnya jika Indonesia bukanlah negara berbasis agama. Menurut Dewi, meski Habibie pernah menjabat sebagai Ketua Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) dan ingin Indonesia menjadi bangsa yang relijius, tapi, dia juga tidak ingin Indonesia hanya berbasis pada satu agama saja.

"Tidak pernah juga beliau ingin Indonesia jadi negara dengan basis agama tertentu. Kita agama melaksanakan, ajaran agama jadi tuntutan tapi beliau sangat tegas mengatakan Indonesia bukan negara agama. Ini posisi yang tegas dari beliau. Karena di Indonesia itu, agama dan demokrasi itu sejalan. Jangan dipertentangkan," tegas dia mengulang pemikiran Habibie.

Dalam pengelolaan The Habibie Center, kata Dewi, pihaknya juga selalu menjunjung sikap egaliter seperti yang dicontohkan Habibie. Salah satunya, adalah dengan mengajak anak muda untuk turut serta dalam pengembangan organisasi ini. Hal ini juga lumrah terjadi, kata Dewi di beberapa organisasi berbasis keilmuan.

"Itu yang kemudian membuat kita dikelola secara kekeluargaan dan tidak hierarkis. Jadi semua bisa memberikan masukan dari yang paling senior sampai junior. ... Semua lembaga keilmuan begitu, yang dituntut jangan asal bunyi. Semua bisa bicara kalau yang ingin disampaikan, tapi tentu tidak asal bicara," jelas wanita kelahiran Bandung ini.

Ke depan, meski Habibie telah tiada tapi masih ada keluarga lainnya yang bisa menjadi tempat untuk saling bertukar pendapat. Apalagi, The Habibie Center ini merupakan organisasi yang juga dibangun oleh keluarga Presiden ke-3 RI tersebut.

Meski begitu, pihaknya baru bakal bicara soal kelanjutan The Habibie Center bersama dengan keluarga setelah 40 hari meninggalnya Habibie. Apalagi, sebelum meninggal, Habibie sempat berujar agar keluarganya terus menjaga warisan darinya, salah satunya ada The Habibie Center. Dewi yakin keluarga Habibie tentu akan menjalankan hal tersebut.


Sempat dituding kendaraan politik

Dalam kesempatan itu, Dewi juga menceritakan dibentuknya The Habibie Center ini, sebenarnya juga mencontoh The Carter Center. Organisasi bentukan Presiden Amerika Serikat Jimmy Carter pada tahun 1982 ini, juga bergerak di bidang kemajuan demokrasi.

Dia bercerita, ide dibentuknya The Habibie Center ini tercetus saat dirinya yang saat itu menjabat sebagai Juru Bicara Presiden bidang Luar Negeri dan Asisten Mensesneg, Presiden Habibie, dan Sekretaris Wakil Presiden Ahmad Watik Pratiknya saat itu tengah makan siang di Istana Merdeka pada tahun 1999.

Saat itu, Habibie yang merasa kiprahnya masih sedikit di bidang demokrasi Indonesia tiba-tiba ingin terus belajar dan memperjuangkan demokrasi. Kemudian, saat melihat The Carter Center yang saat itu melakukan asistensi terhadap pemilu pertama di Indonesia saat era reformasi pada 1999, Habibie kemudian tercetus sebuah ide membuat organisasi yang sama.


BJ Habibie (Instagram/B.JHabibie)

"Jadi ide itu sudah muncul untuk meneruskan perjuangan Pak Habibie dalam memperkokoh demokrasi di Indonesia. Karena beliau yakin, hali itu tidak akan selesai dalam masa kepemimpinannya," ungkap Dewi.

Dia juga, mengatakan diawal terbentuknya The Habibie Center banyak pihak yang memberikan pandangan sinis terhadap organisasi ini. Sebab organisasi yang dibentuk dengan dana pribadi Habibie ini, dianggap sebagai kendaraan politik Habibie untuk kembali sebagai Presiden RI setelah pertanggungjawaban dirinya sebagai Presiden ditolak oleh MPR pada tahun 1999.

Apalagi, saat itu, tidak ada lembaga non-pemerintah yang menggunakan nama tokoh seperti The Habibie Center.

"Ini enggak biasa. Apalagi ada nama Habibie di situ. Sehingga banyak yang curiga dan enggan bekerjasama dengan The Habibie Center karena dianggap sebagai kendaraan comebacknya Pak Habibie," ujar Dewi.

Meski ada tudingan miring saat itu, namun, mereka yang tergabung di The Habibie Center ogah mengganti nama organisasi itu. Sebab mereka yakin, ke depan, Habibie bakal dikenal sebagai tokoh demokrasi di Indonesia.

"Yang penting kita membuktikan Pak Habibie tidak menggunakan The Habibie Center sebagai kendaraan untuk kembali berkuasa. Beliau juga tidak ingin terlibat dalam politik praktis, tidak ingin jadi penguasa di balik layar," tutupnya.
Bagikan :

Reporter : Wardhany Tsa Tsia
Editor : Yudhistira Dwi Putra
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU
Internasional
14 Oktober 2019 13:11 WIB

Mereka yang Tergerak Usai Jepang Dihabisi Topan Hagibis

Hats off to all volunteers!
Lifestyle
14 Oktober 2019 13:03 WIB

Melihat Gaya Alay Lora Fadil dan 3 Istrinya Main Tik Tok

Jangan bilang habis ini mau jadi YouTuber ya Mas
megapolitan
14 Oktober 2019 12:41 WIB

Hari Ini, Pengamanan di Sekitar Kompleks Parlemen Menurun

Tapi jalanan di depan kompleks parlemen, ditutup
Lifestyle
14 Oktober 2019 12:27 WIB

Mengenal Somantri Ahmad, Bapak-bapak dengan Lawakan yang Khas

Lawakannya sempat viral di sejumlah media sosial
Internasional
14 Oktober 2019 12:05 WIB

Mal di Hong Kong Jadi Arena Bentrokan Aparat Vs Demonstran

Orang-orang yang sedang berbelanja berteriak-teriak ketakutan dan beberapa luka-luka