Rabu, 12 Desember 2018
Via Vallen (Sumber: Instagram/@viavallen)
14 November 2018 18:12 WIB

Mereformasi Koplo dari 'Cover' Jadi Industri Mencipta

Sejak dulu koplo memang begitu. Semoga kasus Via Vallen dan Jerinx jadi titik balik
Bagikan :


Jakarta, era.id - Dari dulu, musik koplo memang selalu begitu. Pembajakan, publikasi tak tahu tuan, serta perilaku lain yang melukai nilai luhur penciptaan karya intelektual. Mungkin saja ini bukan semata kesalahan para musisi koplo. Barangkali, ini waktu yang paling pas buat musik koplo mereformasi diri. Menjadi industri musik sungguhan yang enggak cuma doyan meng-cover, tapi juga produktif mencipta karya.

Perseteruan antara Jerinx dan Via Vallen adalah titik balik penggugah keresahan ini. Jerinx geram betul pada Via yang dianggap enggak meminta izin untuk membawakan lagu Sunset di Tanah Anarki milik Superman is Dead di sejumlah penampilan off-air. Penampilan Via itu banyak beredar dalam bentuk DVD bajakan. Selain permasalahan izin, Jerinx juga menyebut Via telah merusak 'ruh' dari lagu Sunset di Tanah Anarki.

Kemarahan Jerinx beralasan. Meski Via enggak bisa juga ditempatkan jadi sasaran tunggal kemarahan. Via --lewat postingan Instagram di akun @viavallen-- telah menjawab tudingan Jerinx. Dia menilai tudingan Jerinx salah alamat. Tak sepeser pun Via pernah menerima uang dari hasil penjualan DVD bajakan yang beredar. Proses perekaman pun jauh di luar kuasanya. Terkait izin dan makna lagu yang menurut Jerinx rusak, Via meminta maaf.

Soal peredaran DVD bajakan, hal ini sejatinya telah lama jadi momok kontradiktif perkembangan musik koplo dengan perkembangan industri musik nasional secara umum. Barakatak, grup musik bergenre funkot (funky kota) yang disebut-sebut sebagai salah satu akar musik koplo modern di Indonesia mengakui lekatnya industri musik koplo dengan pembajakan karya cipta. Dalam wawancara dengan Whiteboard Journal, Barakatak menyebut budaya pembajakan sebagai mesin yang mendorong popularitas mereka sejak dulu kala.


Baca Juga : Kenapa Harus Iklan Blackpink?

"Kalau untuk produser, pembajakan jelas merugikan karena pasar terganggu. Tapi kalau untuk artisnya sendiri, itu adalah bentuk promosi tidak langsung. Karena masyarakat akan mudah membelinya, jauh lebih murah daripada versi original. Tapi, pembajak tidak akan membajak kalau materinya tidak bagus. Bahkan sampai sekarang, artis-artis yang sudah beken di Bandung sengaja membayar para pembajak untuk membajak karya mereka," ditulis dalam kutipan wawancara Whiteboard Journal.

Tentu saja, yang disampaikan Barakatak bukan sebuah bingkai persalahan ataupun pembenaran. Dan tentu, Barakatak enggak bisa diseret dalam konteks budaya cover para musisi koplo saat ini. Sebab, mereka berada di deretan para pencipta karya. Tapi, begitulah faktanya. Pertalian kuat antara musik koplo dan industri gelap pembajakan sudah kepalang kuat. Tumbuh subur, menenggelamkan gairah mencipta para musisi di dalamnya.

Rhoma Irama juga sempat dibuat geram oleh kasus serupa. Tahun 2012 silam, Polrestabes Surabaya menangani kasus pembajakan lagu sang raja dangdut. Kala itu, Soneta Fans Club Indonesia (SFCI) yang telah mendapat kuasa Rhoma untuk berdiri mewakilinya dalam kasus itu menjelaskan, seenggaknya ada 115 lagu Rhoma yang telah dibajak oleh berbagai pihak tertentu.

Modusnya, para pembajak merekam berbagai aksi panggung musisi dangdut dan koplo yang membawakan lagu-lagu Rhoma dan memperjual-belikannya dalam bentuk DVD bajakan. Buat Rhoma, aksi pembajakan bukan hanya merugikan dirinya secara materi, tapi juga merusak industri musik secara keseluruhan. Biar bagaimanapun, pembajakan adalah pelanggaran terhadap hak-hak para pencipta karya yang harus segera disudahi.

"Tidak ada izin sama sekali dan itu jelas sangat merugikan, baik secara meteri maupun nonmateri. Secara materi kerugiannya di atas Rp1 miliar, sedangkan nonmateri kerugiannya bisa merusak industri musik dangdut karena dibajak. Kami harap pelakunya mendapat hukuman setimpal," tutur Surya Aka yang berbicara untuk Rhoma dan SFCI, sebagaimana ditulis Kapanlagi.
 


Menciptalah!

Selain ruang abu-abu yang terlalu berbahaya, para musisi --koplo khususnya-- harus segera keluar dari zona nyaman nan pragmatis khas industri kapitalis. Sebab, musik selalu lebih dari perkara uang dan popularitas. Ingin rasanya mengamini pernyataan Jerinx soal ruh dalam lagu Sunset di Tanah Anarki yang menurutnya amat sakral, meski enggan juga rasanya menyalahkan Via seorang. Maka, sebutlah segala kesalahan ada di bahu setiap orang yang terlibat dalam industri musik nasional.

Sembari mempelajari berbagai mekanisme yang diatur dalam ketentuan terkait permasalahan ini, ada baiknya para pelaku industri musik koplo mulai menciptakan karya-karya orisinil. Bukan apa-apa, untuk Via misalnya. Berdasar penelusuran tim riset kami, nyatanya cukup banyak juga lagu yang mengangkat nama Via, yang ternyata adalah hasil cover.

Lagu berjudul Karena Ku Sayang, misalnya. Lagu ciptaan Near yang juga dinyanyikan oleh Dian Sorowea ini cukup melambungkan nama Via. Video penampilan Via menyanyikan lagu ini telah ditonton 15.447.400 kali oleh pengguna YouTube hingga sore ini, Rabu (14/11/2018). Selain itu, lagu berjudul Bukti yang telah ditonton oleh 1.390.147 nyatanya adalah ciptaan Virgoun. Tembang andalan Via, Sayang pun nyatanya begitu. Lagu yang membuat nama Via meroket itu adalah lagu milik NDS AKA, band beraliran hip hop dangdut asal Yogyakarta.

Tapi, begitulah industri koplo berjalan. Pembenahan tentu perlu dilakukan. Seperti kata pentolan Endank Soekamti, Erix. Perseteruan antara Jerinx dan Via harus jadi pembelajaran serius seluruh pihak yang terlibat dalam industri. Erix melihat masih begitu banyak pelaku industri yang enggak paham betul soal music publishing, soal bagaimana proses administrasi dalam setiap pertunjukan diurus dengan benar, atau soal eksploitasi karya dan hak cipta dari seorang musisi.

"Tapi ada positifnya juga dengan hal ini orang jadi notif. Ini momen yang bagus untuk mengedukasi. Ini kesempatan kami yang terlibat dalam music publishing bisa mengedukasi teman-teman musisi dan penikmat musik ... Aku berterima kasih dengan adanya kejadian ini. Musisi itu jadi notice. Karena tidak semua musisi sadar dengan music publishing," tutur Erix diberitakan Kompas.
Bagikan :
Topik :

Reporter : Yudhistira Dwi Putra
Editor : Yudhistira Dwi Putra
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU
Review
12 Desember 2018 08:49 WIB

Berapa Harga ROG Phone di Indonesia?

Harganya mencapai belasaan juta
Lifestyle
12 Desember 2018 07:46 WIB

VIDEO: One Direction Bakal Reuni Besar

Ada kemungkinan mereka reuni saat liburan Natal
Lifestyle
12 Desember 2018 07:05 WIB

Instagram Saring Komentar Otomatis dalam Bahasa Indonesia

Bye bye bully dan hate speech~~
Lifestyle
12 Desember 2018 06:27 WIB

Samsung Kembangkan Jaringan 5G untuk Mobil Terhubung

Kerja sama ini dilakukan dengan Otoritas Keselamatan Transportasi Korea (KOTSA)
Lifestyle
11 Desember 2018 21:21 WIB

Kenapa Harus Iklan Blackpink?

Haruskan muncul petisi, atau hanya sekedar nasihat yang tak diinginkan warganet?