Rabu, 03 Juni 2020
Ilustrasi (Kevin Phillips/Pixabay)
07 April 2020 10:37 WIB

Perokok 14 Kali Lebih Rentan Terinfeksi Virus

Merusak bulu-bulu halus pembersih saluran pernapasan
Bagikan :


Jakarta, era.id - Sebuah studi yang dilakukan para peneliti di Inggris mengungkapkan para perokok lebih rentan terinfeksi virus, termasuk virus korona baru. 

Praktisi kesehatan dari Warwick Medical School, Dr James Gill, menyatakan merokok menjadi salah satu faktor risiko seseorang menderita penyakit karena infeksi virus atau bakteri.

Terdapat sejumlah faktor terkait merokok yang memengaruhi kemampuan tubuh untuk melawan infeksi. "Ada banyak faktor yang saling terkait mengapa merokok mengurangi kemampuan tubuh untuk melawan infeksi, seperti dari kemampuan untuk mendapatkan oksigen dari darah ke jaringan, hingga peningkatan kadar karbon monoksida dalam darah," jelasnya seperti dikutip dari Dailymail, Selasa (7/4/2020).

Salah satu alasan terbesar yang memungkinkan risiko infeksi pernapasan pada perokok terus meningkat adalah kerusakan pada bulu-bulu halus di saluran udara dan paru-paru yang disebut silia.


Baca Juga : Sering Lupa Nama Ingat Rasa? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Silia bertugas melapisi saluran udara paru, sehingga memiliki peran yang sangat vital dalam membersihkan lendir dan kotoran, serta menyaring partikel-partikel yang dihirup. Dengan begitu, silia berperan dalam mencegah virus dan bakteri masuk ke paru-paru.

James menjelaskan bahan kimia yang terkandung dalam rokok memiliki dua efek serius pada silia ketika dihirup. Pertama adalah mengurangi gerakan silia, yang berarti akan lebih sulit untuk mengeluarkan lendir dan kotoran agar bisa keluar dari paru-paru. Seiring waktu, asap yang dihirup dari rokok lama-kelamaan juga dapat membunuh silia, hingga akhirnya meningkatkan risiko infeksi virus secara drastis.

Riset di China membuktikan perokok 14 kali lebih rentan terinfeksi virus korona dibandingkan orang yang tak merokok. Sekitar 25 persen korban meninggal dari virus korona baru dilaporkan adalah perokok.

Karena itu, dokter mengimbau agar perokok segera berhenti merokok untuk memperbaiki fungsi silia yang tersisa. "Bahkan ketika berhenti merokok hanya dalam waktu 24 jam, dapat dilihat peningkatan besar pada fungsi silia. Semakin lama Anda berhenti merokok, maka semakin besar pemulihannya," katanya.

Selain itu, menghisap rokok membuat orang tak sengaja menyentuh bibirnya. Hal tersebut pula yang membuat seseorang rentan terinfeksi COVID-19 karena virus tersebut masuk melalui saluran mucus seperti mulut, hidung, dan mata.
Bagikan :
Topik :

Reporter : ERA.ID
Editor : Ervan Bayu Setianto
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU