Senin, 20 Januari 2020
Stasiun Manggarai. (Gabriella Thesa/era.id)
08 Desember 2019 18:41 WIB

Menapaki Jejak Kenangan di Lima Stasiun Ibu Kota

Kami ikut walking tour bertajuk 'Jelajah Stasiun Kereta Legendaris', selamat membaca~
Bagikan :


Jakarta, era.id - Konon katanya stasiun kereta api adalah tempat paling romantis bagi pasangan yang sedang kasmaran. Ada banyak cerita, mulai dari kenangan hingga sejarah yang tertinggal di sana. Jakarta misalnya. Beberapa stasiun kereta apinya punya cerita menarik dengan nilai historis tinggi. Bahkan salah satu satunya menjadi inspirasi lagu keroncong romantis era awal kemerdekaan Indonesia.

Penasaran dengan itu, era.id mencoba menyusuri jejak lima stasiun bersejarah di ibu kota yang hingga menjadi cagar budaya, setelah mendapat surat Keputusan Gubernur DKI Nomor 475 Tahun 1993. Kami lantas mendaftarkan diri ke sebuah acara walking tour bertajuk Jelajah Stasiun Kereta Legendaris yang diadakan oleh Wisata Kreatif Jakarta.

Perjalanan kami dimulai dari Stasiun Jakarta Kota tepat pukul 09:15 WIB, tak banyak peserta yang ikut, total hanya ada 4 orang termasuk pemandu wisata bernama Yuli. Seluruh perjalanan hari ini akan kami tempuh dengan menupang commuter line atau kereta api listrik.

"Selamat datang semunya, kita small group aja ya ini. Hari ini kita akan keliling ke lima stasiun bersejarah yang rata-rata bangunannya Art Deco seperti Stasiun Jakarta Kota ini," sapa Yuli di Jakarta, Minggu (8/12/2019).


Baca Juga : Bakal Ada Ruang Memorabilia Peristiwa Cikini di Gedung Baru Percik

Stasiun Beos

Meski hanya empat orang, hal itu rupanya tak menyurutkan semangat Yuli untuk bercerita. Stasiun Jakarta Kota atau dikenal sebagai Stat Beos singkatan dari Bataviasche Ooster Spoorweg Maatschappij (Maskapai angkutan KA Batavia Timur) yang merupakan perusahaan swasta yang mengelola stasiun tersebut merupakan stasiun kereta api tertua di Jakarta.

Namun ada pula yang menyebut Beos itu singkatan dari Batavia En Omstreken atau Batavia dan sekitarnya. Stasiun ini dibangun pada tahun 1820 dan selesai dibangun pada tahun 1827. Pada tahun 1926, stasiun ini sempat ditutup untuk renovasi dan jalur kereta dialihkan menuju stasiun Batavia Noord atau utara yang letaknya di sebelah selatan Museum Sejarah Jakarta saat ini.


Stasiun Jakarta Kota. (Gabriella Thesa/era.id)

Renovasi stasiun Beos selesai pada abad ke-20, tepatnya pada 8 Oktober 1929. Peresmiannya dilakukan secara besar-besaran. Bahkan Gubernur Jenderal A.C.D. de Graeff --yang berkuasa pada zaman Hindia Belanda tahun 1926-1931-- mengubur dua kepala kerbau saat peresmian, yaitu di tanah lapang antara jam dan pintu masuk utama, dan satu lagi di belakang bangunan baru.

"Ini dipercaya dapat memberi keselamatan di masa yang akan datang," kata Yuli.

Bangunan Stasiun Jakarta Kota seluruhnya menggunakan rangka besi yang merupakan karya besar arsitek Belanda kelahiran Tulungagung, 8 September 1882 yaitu Frans Johan Louwrens Ghijsels. Saat ini Stasiun Jakarta Kota memiliki 12 jalur dan hanya melayani kereta api commuter line dalam kota.  "Dulu bisa buat kereta dari luar daerah kayak sekarang itu (Stasiun) Gambir dan Senen," katanya.


Stasiun Jakarta Kota tahun 1929. (Foto: Commons Wikimedia)

Stadela, stasiun tertua kedua di Ibu Kota

Selanjutnya perjalanan perkeretaapian dalam kota kami pun berlanjut ke Stasiun Depok Lama atau yang intim disebut Stadela. Stasiun ini dibangun tahun 1830 dan menjadi stasiun tertua ke dua setelah Beos.

Pembangunan Stadela digagas oleh pemerintah Hindia Belanda yang membuat jalur kereta Batavia-Buitenzorg atau Jakarta – Bogor sepanjang 58.509 Kilometer. Fungsinya dulu untuk mengangkut berbagai macam hasil bumi seperti Palawija, kacang, dan lain sebagainya.

"Depok itu dulu termasuk daerah terisolasi makanya dibangun stasiun ini dengan satu catatan setiap kali melewati Depok harus berhenti supaya ada interaksi dengan warga lokal di sini," papar Yuli.

Tak banyak sejarah era kolonial yang tersimpan di Stadela, tapi kami sedikit tertarik saat Yuli menyebutkan adanya terowongan bawah tanah. Ekspektasi kami pastilah terowongan tersebut dibangun oleh Belanda untuk digunakan sebagai tempat pelarian.

Namun ternyata, terowongan tersebut dibuat oleh pemerintah Indonesia sekitar tahun 2000an awal, karena banyaknya kecelakaaan kendaraan bermotor yang melanggar perlintasan kereta.


Stasiun Depok Lama tempo dulu. (Foto: Istimewa)

De Nabang

Sekitar pukul 12:00 WIB kami sudah berpindah tempat ke Stasiun tersibuk dan terpadat saat ini, yaitu Stasiun Tanah Abang. Nama stasiun ini bukan karena daerah tersebut memiliki tanah berwaran merah atau tanah milik kakak laki-laki, tapi dari nama pohon Nabang atau pohon palem.

"Orang Belanda kan ngomongnya De Nabang, jadilah sama orang kita disebutnya Tanah Abang," kata Yuli.

Stasiun Kereta Tanah Abang dibangun pada tahun 1889 karena adanya pemukiman dan pasar yang padat. Sama seperti Stasiun Depok Lama, tak banyak sejarah zaman Hindia Belanda yang bisa diceritakan oleh Yuli.  Namun ternyata Stasiun Tanah Abang dinobatkan sebagai stasiun yang paling sering mengalami kecelakaan kereta api.



Letak Stasiun Tanah Abang yang berdekatan dengan pintu banjir kanal timur, kerap menggenani bahkan merendam sebagain jalur rel kereta. "Makanya beberapa kali kejadian kereta ambles karena jalurnya itu jadi empuk terendam air, padahal kan kereta ditambah penumpang dan barang itu jadinya berat," kata Yuli.

Bicara soal kecelakaan kereta, di salah satu sudut Stasiun Tanah Abang juga terdapat prasasti peringatan atas jasa tiga orang pegawai PT KAI yang gugur saat kecelakaan kereta api listik nomor KA 1131 pada tanggal 9 Desember 2013 di perlintasan kereta api Pondok Bitung, Bintaro. Berkat mereka, ratusan penumpang KRL saat itu selamat dari kecelakaan maut dan menimbulkan sedikit korban jiwa.

Stasiun Manggarai

Dari Stasiun Tanah Abang yang penuh sesak oleh orang juga barang bawaan, kami kembali bergerak menuju stasiun selanjutnya yaitu Stasiun Manggarai. Pembangunan Stasiun Manggarai dilakukan oleh arsitek Belanda bernama Van Gendt dan dibuka pasa tanggal 1 Mei 1918. Stasiun ini juga merupakan satu-satunya yang tidak dibangun menggunakan rangka besi melainkan kayu jati karena kurangnya pasokan besi baja pada masa Perang Dunia I.

Saat ini masih ada tiga peron asli berbahan kayu yang masih nampak. Tak hanya itu, lantai stasiun pun sengaja dinaikin tanpa menghilangkan lantai asli, jadi kita masih bisa melihat lantai aslinya dari lantai kaca transparan yang terdepat tak jauh dari pintu keluar.

Stasiun Manggarai, menurut kami, adalah satu-satunya stasiun kereta dengan cerita sejarah yang paling menarik. Kenapa? Karena Hari Kereta Api Nasional yang diperingati setiap tanggal 28 September bermula di sini saat pegawai kereta api pada tahun 1945 melakukan long march untuk kembali merebut stasiun Manggarai.



Stasiun Manggarai pernah menjadi saksi bisu perjalanan orang-orang penting negeri ini yaitu Presiden RI dan Wakil Presiden RI pertama, Soekarno-Mohammad Hatta beserta keluarga masing-masing, para menteri dan keluarganya pasca kemerdekaan Indonesia tahun 1946.

Saat itu ada persiapan rahasia untuk perjalanan Kereta Luar Biasa (KLB) pemindahan ibu kota negara dari Jakarta ke Yogyakarta.

"Dulu itu, ada banyak gerbong barang sengaja ditaruh berderet di sepanjang jalur 1 untuk melancarkan aksi Presiden Soekarno. Lalu pukul tujuh malam KLB bebas melintas dari arah Pegangsaan melalui jalur 4," papar Yuli.

Saat ini, Stasiun Manggarai merupakan stasiun transit tersibuk karena hampir semua destinasi dari Jakarta ke Depok hingga Bogor akan berhenti di sini. Di tambah masuknya kereta cepat menuju bandara pun sudah mulai beroprasi.

Saking menariknya Stasiun Manggarai, Yuli tak hanya mengajak kami melihat isi Stasiun Manggarai saja, tapi juga mengajak mencicipi pisang goreng tanduk legendaris di Manggarai. Pas sekali dengan perut yang belum terisi sejak pagi tadi. Dengan penuh semangat dan liur yang nyaris menetes, kami pun menyeberang jalan menuju Warung Pisang Goreng Tanduk Mpok Nur.



Sayangnya, kami tak beruntung, Mpok Nur tutup di hari Minggu. Jadilah kami cukup puas melihat deretan pisang tanduk yang menggantung. 

Stasiun Jatinegara

Menjelang pulul 14:00 WIB, kami tiba di destinasi terakhir yaitu Stasiun Jatinegara. Setiap kali ada yang menyebut namanya, pikiran langsung teringat pada satu lagu ciptaan Ismail Marzuki berjudul Juwita Malam. Kami menduga stasiun ini pernah menjadi lokasi romantis antara tentara Indonesia yang berpisah dengan kekasihnya atau tempat flirting para tentara zaman dulu.

Eh tapi bukan itu yang diceritakan oleh Yuli sang pemandu wisata. Melainkan kisah Pangeran Jayakarta yang saat masa Hindia Belanda dijadikan tempat pelarian. "Ini namanya Jatinegara karena konon katanya selain banyak pohon jati juga banyak keturunan Pangeran Jayakarta," kata Yuli.

Secara keseluruhan, kata Yuli, bangunan Stasiun Jatinegara tidak berbeda jauh dengan empat stasiun sebelumnya yang bergaya Art Deco. Saat ini, Jatinegara sedang disibukan dengan pembangunan lantai dua.

Selain KRL, Stasiun Jatinegara juga melayani pemberhentian KA luar kota baik kelas Ekonomi maupun eksekutif boleh menurunkan penumpang di sini, tapi tidak bisa menaikkan penumpang.

Ternyata cukup menarik melihat-lihat stasiun yang berstatus cagar budaya di Jakarta. Sayangnya, pemandangan eksotik bangunan lama banyak yang tak lagi terlihat karena proses pembangunan jalur kereta maupun renovasi.

Tapi, kami bisa membayangkan kok bagaimana stasiun zaman dulu begitu dibutuhkan demi kemajuan suatu peradaban. Dan soal sisi romatis di stasiun kereta api, atmosfernya juga masih terasa walaupun samar-samar.
Bagikan :
Topik :

Reporter : Gabriella Thesa Widiari
Editor : Ahmad Sahroji
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU
Nasional
19 Januari 2020 19:05 WIB

Investor Jiwasraya akan Suntikan Dana Mencapai Rp3 Triliun

"(Investor) ada yang dari lokal, dari asing"
Lifestyle
19 Januari 2020 18:09 WIB

Tempat Nongkrong Seru ala Anak Jaksel

Ada yang udah pernah ke tempat-tempat ini?
Lifestyle
19 Januari 2020 17:05 WIB

Eminem Kejutkan Penggemar Lewat Album Music to be Murdered By

"Guess who's back? Back again. Shandy's back, tell a friend!"
Lifestyle
19 Januari 2020 16:36 WIB

Definisi Cantik Menurut Agnes Mo

Karena cantik adalah relatif, tergantung jenis kamera~
Wisata
19 Januari 2020 16:17 WIB

Berburu Croissant Paling Enak di Kota Kembang

"Enak, enak, enak," kata Upin Ipin