Rabu, 08 Juli 2020
Achmad Yurianto (Dok. BNPB)
23 April 2020 19:24 WIB

Achmad Yurianto, Antara Kemeja dan Masker Batik

Selalu matching
Bagikan :


Jakarta,era.id - Penampilannya selalu ditungu-tunggu tiap sore sejak pemerintah mengumumkan kasus perdana penularan COVID-19 di Indonesia sejak 2 Maret Silam. Sejak ditunjuk sebagai Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19, dr Achmad Yurianto tak pernah absen mengabarkan jumlah peningkatan kasus positif COVID-19.

Pria yang akrab disapa Yuri ini setia mengabarkan mengabarkan perkembangan terkini penanganan virus korona di Indonesia. Penampilannya yang kerap mengenakan kemeja batik dengan berbagai corak yang selaras dengan masker kain yang dipakainya tak jarang mengundang komentar warga terutama di dunia maya.

Banyak warganet yang memuji penampilan Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes ini karena 'melek' fesyen. 

Motif atau corak Parang, adalah corak yang sering dipakai Yuri. Motif batik tertua di Indonesia ini memiliki bentuk mirip huruf S yang diadaptasi dari bentuk ombak lautan, menggambarkan semangat yang tak padam.


Baca Juga : Gelar Tedak Siten, Kebaya Menantu Bule Bambang Trihatmodjo Jadi Sorotan

Motif yang sudah ada sejak zaman keraton Mataram Kartasura (Solo) ini memiliki bentuk yang saling berkesinambungan, menggambarkan jalinan hidup yang tidak pernah putus, selalu konsisten dalam upaya untuk memperbaiki diri, memperjuangkan kesejahteraan, maupun dalam menjaga hubungan antara manusia dengan alam, manusia dengan manusia dan manusia dengan Tuhannya.


Achmad Yurianto (Dok. BNPB)

Selain itu, Yuri juga pernah memakai batik motif Bunga. Motif ini bermakna Wahyu Tuhan telah memberikan seseorang suatu penghargaan dengan kehidupan baik. Jadi mungkin motif ini cocok untuk kita yang sedang naik pangkat, menang lomba, atau berhasil meraih suatu tujuan atau cita-cita.  Lalu apakah Yuri mempersiapkan penampilannya?

"Saya enggak pernah milih-milih pakai baju," ujarnya kepada era.id, Kamis (23/4/2020).

Ia mengaku tak memiliki waktu untuk memilih kemeja yang dikenakannya sejak sibuk menjadi jubir pemerintah. Saban hari, ia sudah berangkat dari rumahnya di Bogor pada jam 05.30 menuju kantornya di Kemenkes, Kuningan. Sorenya, ia harus ke Graha BNPB, untuk mengumumkan perkembangan COVID-19. Setelah itu, ia kembali ke kantor dan baru pulang sekitar jam 21.00.

Ada alasan tersendiri mengapa ia suka pakai kemeja batik. "Kemeja batik itu murah kok," ujar pria berlatar belakang militer ini.

Ia mengaku tak hapal berapa koleksi kemeja batiknya, yang jelas harganya murah. "Saya beli Rp100.000-an di pasar," jelasnya.

Selain itu, pria berusia 58 tahun tersebut juga tak memilih corak batik yang akan dipakainya yang penting serasi dengan masker yang dipakainya hari itu. "Enggak, pokoknya enggak pilih-pilih, asal serasi saja," ucapnya.

Yuri memulai karir di dunia militer sebagai Perwira Utama Kesehatan Daerah Militer V Brawijaya pada tahun 1987. Ia cukup lama malang melintang sebagai dokter anggota militer sebelum akhirnya bergabung di Kemenkes pada tahun 2015 sebagai Kepala Pusat Krisis Kesehatan.





 
Bagikan :
Topik :

Reporter : Adelia Hutasoit
Editor : Ervan Bayu Setianto
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU
Ekonomi
07 Juli 2020 22:24 WIB

Survei: 74,8 Persen Responden Percaya Ekonomi Memburuk Karena COVID-19

"Semua sektor bisnis harus dibuka kembali,"
Lifestyle
07 Juli 2020 21:35 WIB

Daftar Makanan yang Bisa Memperbesar Payudara: Jadi Kencang dan Berisi

Buat yang rata enggak usah minder
Lifestyle
07 Juli 2020 20:05 WIB

Internasional Kissing Day: Yuk Ketahui 5 Manfaat Berciuman

Baik untuk kesehatan