Jumat, 21 Februari 2020
Istana Alwatzikoebillah. (Foto: Wikipedia)
26 Desember 2019 16:01 WIB

Menikmati Liburan Berfaedah di Istana Alwatzikoebillah

Istana dengan warna kuning ini merupakan bukti sejarah hadirnya Kabupaten Sambas
Bagikan :


Sambas, era.id - Jika kamu berkunjung ke Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, jangan lupa untuk singgah di Istana Alwatzikoebillah. Istana dengan warna kuning ini merupakan bukti sejarah hadirnya Kabupaten Sambas, yang berbatasan langsung dengan wilayah Sarawak, Malaysia.

Di momen liburan panjang Natal dan Tahun Baru 2020, biasanya Istana Alwatzikhoebillah selalu ramai dikunjungi wisatawan, baik lokal dari Sambas maupun di luar negeri.

"Saya dan keluarga sengaja ke sini untuk melihat istana kebanggaan Sambas. Kita ingin mengenalkan sejarah Sambas kepada anak-anak," ujar seorang pengunjung, Winarzi di Sambas, seperti dikutip Antara, Kamis (26/12/2019).

Sementara itu, Ketua Generasi Pesona Indonesia (Genpi) Sambas, Dina Herewina mengemukakan bahwa letak Istana Alwatzikhoebillah tepat berada di Kota Sambas atau di persimpangan "muare ula'kan" Sungai Sambas di Desa Dalam Kaum, menjadi daya tarik tersendiri.


Baca Juga : Menikmati Senja di Oud Batavia



"Istana Alwatzikhoebillah selain menjadi obyek wisata sejarah juga sekaligus obyek wisata religi karena peradaban Islam tidak terlepas dari pengaruh kerajaan tersebut," tambah dia.

Ia menyebutkan, setiap orang yang ke Sambas, sebagian besar selalu menyempatkan diri ke Istana Alwatzikhoebillah.

"Kembali, dengan lokasinya di pusat kota dan dengan bangunan istana dan komplek masjid raja yang masih asli menjadi daya tarik menarik untuk dikunjungi masyarakat," lanjut dia.

Untuk memasuki Istana Alwatzikoebillah Sambas wisatawan harus melalui dua gapura, yaitu gapura pembatas antara alun-alun dengan jalan raya dan gapura pembatas antara alun-alun dan istana.

Istana memiliki alun alun yang luas dan di gapura untuk menuju istana terdapat tiang bendera. Tiang bendera tersebut seperti tiang kapal yang dikelilingi oleh tiga buah meriam dan disangga oleh empat tiang. Dari berbagai sumber berikut makna filosofis dari benda-benda tersebut.



Tiga meriam melambangkan tiga buah sungai yang terdapat di sekitar istana yang harus selalu dijaga. Meriam-meriam tersebut adalah pemberian dari tentara Inggris pada tahun 1813 yang salah satunya diberi nama Si Gantar Alam.

Di area ini pula, salah satu pahlawan Sambas, Tabrani Ahmad, gugur ditembak peluru tentara Belanda saat mempertahankan merah putih.

Empat tiang penyangga, melambangkan empat menteri sebagai pembantu sultan yang disebut wazir. Dua tiang penyangga pada sisi kiri dan kanan tiang, melambangkan bahwa dalam menjalankan roda pemerintahannya sultan selalu didampingi oleh ulama dan khatib.
 
Bagikan :
Topik :

Reporter : ERA.ID
Editor : Ahmad Sahroji
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU
Lifestyle
21 Februari 2020 21:07 WIB

Kim Go Eun Sumbang Rp1,1 Miliar untuk Wabah COVID-19

Sudah cantik, baik lagi
Lifestyle
21 Februari 2020 20:58 WIB

Podcast Eradotid x Wregas Bhanuteja

Wregas Bhanuteja bocorkan pengalaman dan proyek film yang masih tertunda
Lifestyle
21 Februari 2020 20:02 WIB

Seungri Tetapkan Tanggal Wajib Militer

Hal ini karena persidangan jangka panjang di pengadilan bisa menghambat wajib militer
Nusantara
21 Februari 2020 19:24 WIB

Enam Anggota Pramuka Hanyut Saat Banjir

Empat korban sudah ditemukan
megapolitan
21 Februari 2020 18:57 WIB

Arkeolog Tolak Gelaran Formula E di Monas

Karena cagar budaya