Jumat, 05 Juni 2020
Ilustrasi (Anto/era.id)
15 Mei 2020 22:05 WIB

Hukum, Tata Cara, dan Syarat Pelaksanaan Salat Idulfitri di Rumah

Salat Idulfitri sendirian di rumah diperbolehkan, asalkan...
Bagikan :


Bandung, era.id – Salat Idulfitri bisa dilaksanakan di rumah secara berjemaah dengan keluarga maupun sendiri-sendiri. Cara ini bisa dilakukan oleh umat Islam yang berada di wilayah pandemi COVID-19, kata Ketua MUI Jabar KH Rahmat Syafei.

Bagaimana tata cara pelaksanaan salat Idulfitri di rumah? 

Rahmat Syafei bilang, salat Id boleh dilaksanakan di rumah masing-masing bagi orang-orang yang berada di wilayah yang kasus COVID-19-nya belum terkendali. Untuk menentukan suatu wilayah terkendali atau tidak, tentu harus berdasarkan kajian para ahli kesehatan.

"Salat Id boleh dilaksanakan di rumah bersama anggota keluarga atau secara munfarid (salat yang dikerjakan sendiri) terutama yang berada di kawasan penyebaran COVID-19 yang belum terkendali. Jadi di wilayah tak terkendali tetap saja di rumah,” kata Rahmat Syafei, dalam jumpa pers di Bandung, Kamis (15/5).


Baca Juga : BCL Unggah Foto Noah dan Bingkai Ashraf Sinclair Saat Lebaran

Cara pelaksanaan salat Id secara berjemaah di rumah minimal dilakukan 4 orang yang terdiri dari 1 imam dan 3 makmum. Tata caranya sama dengan salat Id berjemaah di masjid atau di lapangan, yakni diawali niat untuk melaksanakan salat Id, kemudian diawali takbir 7 kali pada rakaat pertama, dan 5 kali takbir pada rakaat kedua.


Ilustrasi salat Idulfitri di rumah. (Rudolf Langer/Pixabay)

“Tapi kalau kurang dari 4 orang, maka salat Id dilakukan secara munfarid saja, sendirian, tidak berjemaah,” katanya. “Kalau sudah munfarid, sendiri, tidak harus ada khutbah Id. Kemudian bacaannya tidak harus dikeraskan.”

Begitu juga dengan takbiran yang bisa dilaksanakan di rumah, tanpa harus datang ke masjid. Takbiran dimulai setelah magrib sampai keesokan harinya menjelang pelaksanaan salat Id.

Rahmat Syafei menjelaskan, ketentuan salat Idulfitri maupun takbiran yang dilakukan di rumah telah dituangkan dalam panduan ibadah di masa pandemi COVID-19 yang dikeluarkan MUI.

Salat Id sendiri hukumnya sunah, bukan wajib. Meski demikian, salat Id dinilai punya makna syiar agama yang sangat besar. Sehingga para ulama ada yang menyatakan salat Id sebagai fardu kifayah --status hukum dari sebuah aktivitas dalam Islam yang wajib dilakukan, tetapi bila sudah dilakukan oleh muslim yang lain maka kewajiban ini gugur.

Namun, dalam kondisi pandemi, pelaksanaan salat Id pun menyesuaikan. Penyesuaian harus mengacu pada hasil kajian para ahli kesehatan. Jika pakar kesehatan menyatakan COVID-19-nya terkendali, maka salat Id bisa dilaksanakan sebagaimana tahun-tahun sebelumnya dengan cara berjemaah di masjid atau di lapangan.

“Di kawasan sudah terkendali, ditandai angka kecenderungan menurun dan pelonggaran aktivitas sosial yang memungkinkan terjadinya kerumunan berdasarkan ahli yang kredibel dan amanah,” katanya.

Tetapi kalau ahli kesehatan bilang bahwa COVID-19 belum terkendali, maka pelaksanaan salat Id harus menyesuaikan, salah satunya dengan melaksanakannya di rumah masing-masing. “Mudah sekali kita menjawab salat Jumat saja dibolehkan untuk diganti salat zuhur apabila di wilayah tidak terkendali, terlebih salat sunah,” katanya.

Karena itu MUI Jabar meminta pemerintah daerah melalui kajian para ahli untuk mengkaji daerah mana saja yang persebaran COVID-19-nya terkendali dan yang tidak. Dari hasil kajian tersebut bisa diketahui daerah mana saja yang bisa melaksanakan Idulfitri di rumah maupun di luar rumah.
Bagikan :
Topik :

Reporter : Iman Herdiana
Editor : Ahmad Sahroji
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU