Kamis, 20 Juni 2019
Ilustrasi (Abid Farhan Jihandoyo)
23 Januari 2019 12:59 WIB

Hancurnya Martabat Para Hantu di Era Informatika

Surat terbuka para hantu, tentang martabatnya yang melorot di hadapan kamera dan medsos
Bagikan :


Jakarta, era.id - Jangan sebut aku pocong. Aku adalah Mister P. Sebutlah begitu, sebab menyebut namaku secara penuh adalah sebuah kengerian serius untuk manusia. Tapi, apalah diriku kini. Jangankan menyebut namaku secara penuh, penampakanku kini tak lagi terasa mengerikan.

Perasaanku saat ini berkecamuk, aku merasa hancur, sehancur martabatku yang rusak berantakan karena ulah manusia-manusia terhadap kaumku: menyerang kami dengan ketapel atau 'daleman' perempuan. Video bullying terhadap kaumku menyebar di media sosial sialan, memeloroti martabat kami yang sejak dulu terpelihara baik sebagai horor paling menakutkan.

Kemarin malam, aku merasuk ke dalam diri seorang penulis era.id untuk membuat surat terbuka ini. Tentu saja, aku tak bisa menyentuh susunan huruf di keyboard komputer tanpa merasuk ke dalam diri penulis linglung ini. Lagipula, tanganku terbungkus kain, toh? Jadi, begitulah ceritanya hingga surat terbuka ini mulai aku tulis. 

Keresahanku bermula dari video viral yang diunggah akun YouTube Dunia Nyata. Dalam video yang diunggah pada 10 Januari 2019 lalu itu, tampak tayangan ketika kawan pocongku menampakkan diri di hadapan seorang pria yang tengah duduk di sebuah gubuk bambu. Miris bagi kami, bukannya pingsan, lari pontang-panting seperti Dorman dan Bokir dalam film Malam Satu Suro, pria itu malah mengambil ketapel di tasnya. Dan dengan kurang ajarnya, ia arahkan tembakan ketapel itu ke kawan pocongku.


Baca Juga : Pilot Sekaligus YouTuber Vincent Raditya yang 'Disentil' Kemenhub

"Teman-teman, ada pocong. Ya, kita ketapel ya teman-teman ya pocongnya ... Enggak kena, teman-teman. Gila, ketapelnya sudah begini besar," kata si pembully berwajah sensor di dalam video tersebut sebelum dan sesudah melancarkan serangan ketapel kepada teman pocongku yang malang.
 


Tak selesai di situ. Entah setan apa yang merasuki pem-bully berwajah sensor itu --sebab yang kutahu setan enggak mungkin menyakiti sesama setan, yang jelas ia nampak enggak puas. Bahkan, ketika teman pocongku yang malang tampak mundur teratur menggunakan teknik fade out, si pembully berwajah sensor itu malah mengejar, berlari ke arah teman pocongku yang malang, lengkap membawa ketapel, senter, dan kamera sialan sumber segala petaka bernama viral itu.

Jujur saja, hal ini tak hanya dirasakan kami kaum pocong. Saudara jauh kami dari spesies kuntilanak pun nyatanya mengalami bullying yang sama. Lagi-lagi, akun Dunia Nyata yang menjadi sumber petakanya. Dalam video berdurasi 14.22 menit, seorang manusia jantan --entah orang yang sama dengan pembully kawan pocongku yang malang atau bukan-- berhelm hijau melakukan hal yang lebih kurang ajar terhadap si kuntilanak malang.

Jika kawan pocongku yang malang diserang menggunakan ketapel, si kuntilanak malang malahan hampir dilempar dengan daleman perempuan, bahkan sebelum ia sempat mengeluarkan tawa khas ala film-film horor. Malang, sungguh malang. Dan kekurangajaran si pria berhelm tak bermotor itu tak juga berkurang. Si pria nampak mengejar si kuntilanak malang. Untungnya, dengan latihan rutin dan penuh ketekunan, si kuntilanak malang berhasil memeragakan teknik menghilang dengan cepat.
 



Doa setan pada Tuhan

Melihat kolom komentar video tak kalah mengerikan dari melihat konten video tersebut secara langsung. Benar saja, pesan dari video-video tersebut ditangkap dengan baik oleh para manusia, bahwa kami-kami para hantu bukanlah makhluk yang perlu ditakuti. Seperti yang mereka tulis dalam Pinned Comment, bahwa "Jangan pernah takut terhadap sesama makhluk. Setan sengaja menjelma dan mengganggu manusia supaya takut untuk menyesatkan manusia dan selama ini setan merasa menang karena pada kenyataannya saat ini manusia lebih takut setan daripada Tuhan yg Maha Esa."

Beberapa netizen dengan sembrononya bahkan menertawai kami. Akun manusia bernama Rimba Setiawan, misalnya. Dengan menyebalkannya, ia menyebut kami hantu-hantu Nusantara sebagai makhluk yang tak lagi memiliki harga diri. "Kaga ada harga dirinya lagi setan Indonesia. Muehehehe. Next, lempar petasan aja, bang!"

Atau, masih banyak akun-akun lain yang sama kurang ajarnya. Lihat saja tangkapan layar di bawah!



Sekarang, kami tak tahu lagi apa yang bisa kami lakukan di dunia ini. Ketika godaan dan gangguan dari kami malah direspons secara represif oleh pihak-pihak yang harusnya tunduk pada ketakutan terhadap keberadaan kami. Barangkali, ini saatnya kami para setan menghadap kembali kepada Tuhan dan berdoa: Ya, Tuhan, kami para setan juga makhlukmu. Ketidakadilan macam apa ini?

Baca Juga : Karir Film Mbak Kunti
Bagikan :
Topik :

Reporter : Yudhistira Dwi Putra
Editor : Yudhistira Dwi Putra
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU
Nasional
20 Juni 2019 20:15 WIB

Bambang Widjojanto dan Denny Indrayana, Kok Absen di Sidang?

Mungkin mereka lelah, ngantuk atau....
megapolitan
20 Juni 2019 20:01 WIB

Ini Rangkaian HUT DKI Jakarta ke-492

Hari jadi tahun ini akan mengusung tema ekonomi kreatif dan seni
megapolitan
20 Juni 2019 19:23 WIB

Jelang HUT DKI Jakarta, Sejumlah Lalin Bakal Dialihkan

Jangan sampai salah jalan ya sobatque~
Nasional
20 Juni 2019 17:28 WIB

Ribut-Ribut soal Temuan Amplop Saksi Paslon 02

"Tanya saksi Anda saja, bos," jawab Komisioner KPU
Nasional
20 Juni 2019 16:49 WIB

Ternyata, Situng KPU Masih Punya Kelemahan

Kelemahannya adalah belum ada pemisahan data yang valid dan invalid