Senin, 24 Februari 2020
Loybak Kerey (Irfan/era.id)
26 Januari 2020 14:19 WIB

Menjadi Objek Seni Rajah Tubuh dari Mentawai

Sore itu, kami berkesempatan merasakan seni rajah tubuh (Tato) dari Mentawai
Bagikan :


Mulut Paburutkerey dan Loybak komat-kamit membaca jampi sesaat sebelum pati'ti (kayu berbentuk melengkung dengan jarum di tengahnya) dan lilippat (kayu panjang pipih seperti tongkat) bersatu-padu menghujam tubuh kami. Sore itu, tim era.id berkesempatan menjajal seni rajah tubuh (Tato) dari Mentawai atau dalam bahasa lokal disebut ti'ti. 

"Tulu taipasesele, bujai ulau manua (Semoga semesta merestui)," begitu doa itu dibacakan kedua pemuda asal Mentawai.

Sebelum menato, Paburutkerey menggambar pola melingkar dan garis di objek yang ingin ditato. Tepatnya di kaki sebelah kiri. Tidak seperti tato pada umumnya, pola tato mentawai dibuat secara manual. Mula-mula Paburutkerey mengambil telapak tangan kami dan mengukur besar ruas-ruas jari untuk diaplikasikan pada objek tato. Kata dia, aturan tato suku Mentawai mengikuti anatomi tubuh orang yang ingin ditato.


Paburutkerey menggambar pola tato. (Irfan/era.id)

Tak butuh waktu lama untuk Sipatiti (pembuat tato) menggambar pola. Sambil mempersiapkan lilippat , pati'ti', dan tinta, Paburutkerey mempersilakan kami berbaring. Kain berwarna merah direntangkan di bagian perut hingga paha.

"Meskipun di kaki, ini musti tiduran jak (bikinnya). Karena kami menghargai perempuan, gunakan kain merah ini ya, "kata Paburutkerey.


Baca Juga : Wulan Guritno Bermain dalam Teater Musikal Pusaran Cinta

" Tulu taipasesele, bujai ulau manua ," Begitu doa itu dibacakan.

Sejurus waktu, bunyi lilippat dan pati'ti' yang beradu dengan kulit mulai terdengar, "Tik-tik-tik tak-tak-tak." Khayalan menakutkan tentang proses tato dengan teknik hand tapping akhirnya tiba. Wajah meringis menahan sakit dan keringat yang bercucuran dari pori-pori mulai berwujud di sore menjelang malam itu.


Proses tato menghabiskan waktu hingga tujuh jam. (Irfan/era.id)

Di udara, musik Mentawai dari pengeras suara portabel saling bersahutan dengan bunyi kayu yang diadu. Perlu tujuh jam bagi sipatiti menyelesaikan pekerjaannya, termasuk jeda tiga hingga empat kali untuk rehat. 

Proses tato ini berlangsung di rumah adat suku Mentawai atau biasa disebut Uma di kompleks Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Tepatnya di kompleks anjungan Sumatera Barat. Tempat ini tidak telalu luas, tapi memanjang. Di pintu dekat teras belakang, deretang tengkorak monyet bergelayutan. Menambah kesan sakral.



Dari pukul 16.30 hingga 00.30 WIB suara kayu yang beradu baru berhenti. Rasa sakit bercampur perih seketika menjalar kaki --rasa sakit juga terasa di badan. Namun, rasa sakit berganti menjadi bangga dalam dada saat melihat seni tato Mentawai melekat di tubuh. Seperti obat antinyeri, warisan nenek moyang Mentawai itu berhasil menyembuhkan perih yang dirasa selama proses tato. Seperti kami, wajah penuh kepuasan juga terlihat pada Paburutkerey dan Loybak setelah menyelesaikan ketukan tangan. "Bagus jak! "



Timbul Tenggelam Rajah Tubuh Mentawai

Dalam penelitian yang berjudul Fungsi dan Makna Tato Mentawai , Ady Rosa dari Universitas Negeri Padang mengatakan tato mulai dikenal di Mentawai sejak orang Mentawai datang pada tahun 1500 dan 500 SM.

Lebih dari tiga fungsi tato untuk orang Mentawai. Pertama, sebagai tanda kenal wilayah dan kesukuan yang terlihat dari gambar tato utama. Kedua, sebagai status profesi dan sosial, motif khusus seseorang dapat menjelaskan profesi si pemakai apakah dia seorang sikerei (tabib), pemburu, atau orang awam. Terakhir, sebagai hiasan tubuh.

Namun, akibat pelarangan tato oleh pemerintah pada era Orde Baru, tradisi tato yang masih bertahan hanya ada di sebagian besar Pulau Siberut. Padahal ada empat pulau besar yang dihuni oleh masyarakat Mentawai.

Paburutkerey menuturkan, tradisi tato di Siberut pun hanya bisa ditemui di daerah pedalaman saja. Sementara tiga pulau lainnya seperti Sipora utara dan selatan, Pagai utara dan selatan sudah lama hilang. Dia sendiri berasal dari Tuapejat, Sipora, Kabupaten Mentawai.

"Kalau sekarang untuk di daerah Sipora utara-selatan, Pagai utara-selatan, itu sudah untuk generasi bapak saya lah. Itu sudah enggak ada yang pakai tato," kata Paburutkerey.



Memudarnya adat leluhur suku Mentawai mendorong Paburutkerey dan beberapa peserta yang tergabung dalam tim Sitasimattaoi untuk kembali melestarikan tradisi tato Mentawai. Kata dia, saat ini ada 100 anak muda Mentawai yang menjadi sipatiti. "Kita fokus ke tato mentawai untuk kembali. Ya, kalau bukan kita siapa lagi," kata dia.

"Banyak orang bertanya 'sakit enggak ditato?' Ya lebih sakit kehilangan budaya daripada sakit tato." 

Paburutkerey bercerita, setelah tahu lebih banyak tentang sejarah dan tradisi sukunya sendiri, dia dan tim Sitasimattaoi belajar untuk menjadi sipatiti di pedalaman. Nyaris satu tahun mereka harus bolak-balik dari kota ke pedalaman untuk menyempurnakan teknik tato Mentawai.

Dia sendiri belajar menggoreskan tinta tato di atas batang pisang, sebelum akhirnya berani mengaplikasikannya di atas kulit manusia. "Kita belajar, setiap bulan kita wajib belajar ke pedalaman setiap minggu sampai tiga minggu ke sipatiti. Belajar tentang motif, budaya, ritual dan segala macam," kata Paburutkerey.

Dari penelitian Ady Rosa, dibahas ada 160 motif tato di Siberut. Tiap orang Mentawai, laki-laki atau perempuan, dapat memakai belasan tato di jujur. Paburutkerey menceritakan tato yang diambil berhasil dilakukan oleh sipatiti senior di pedalaman. Proses pengerjaannya pun jauh lebih menyakitkan. Penyebab, jarum tato yang digunakan berasal dari duri, tulang, atau logam kuningan yang diruncingkan.

Secara keseluruhan, kata Paburutkerey, motif-motif tato Mentawai mengisahkan tentang keseimbangan antara manusia, alam, dan sang pencipta semesta. Dalam tradisi Mentawai, ada satu ritual khusus sebelum orang menato yakni menyediakan mahar berupa satu ekor babi untuk satu motif tato untuk sipatiti. Nantinya, daging babi akan dimasak dan dimakan bersama-sama dengan seluruh penghuni uma.

Kini, demi melanjutkan tradisi leluhurnya, Paburutkerey dan timnya, Sitasimattaoi rajin berkeliling Indonesia untuk menginstal tato Mentawai. Mereka pun mengubah cara menato dengan lebih modern berdasarkan standar tato internasional.
Bagikan :
Topik :

Reporter : ERA.ID
Editor : Ahmad Sahroji , Ervan Bayu Setianto
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU
megapolitan
24 Februari 2020 13:55 WIB

Asal Muasal Asap di Gedung Nusantara III DPR

Diduga dari pantry lantai 2
Lifestyle
24 Februari 2020 12:52 WIB

Alasan Kenapa COVID-19 Menyebar Cepat di Kapal Pesiar

630 orang kena virus korona di DIamond Princess
Nasional
24 Februari 2020 12:12 WIB

DPR Kebakaran, Puan Maharani Dievakuasi

Belum diketahui penyebab terjadinya kebakaran
Ekonomi
24 Februari 2020 11:53 WIB

Kinerja Menteri Bidang Ekonomi Jadi Sorotan

Harga turun-naik, sudah dapat kerja