Rabu, 08 Juli 2020
Rapid Test di Bandung (Arie Nugraha/era.id)
04 Juni 2020 13:31 WIB

Mau Rapid Test, Warga Bandung Bisa ke Puskesmas

11 ribu orang sudah dites
 
Bagikan :


Bandung, era.id - Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung terus berupaya melakukan pelacakan dan pemetaan penyakit COVID-19 melalui rapid test secara masif. Selain terus meningkatkan pengawasan saat relaksasi pada Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) proporsional yang tengah berlangsung.

Menurut Ketua Harian Gugus Tugas COVID-19 Kota Bandung, Ema Sumarna, Pemkot Bandung sudah menggelar rapid test terhadap 11 ribu orang. Ema mengatakan target rapid test di Kota Bandung yaitu 30 ribu orang.

“Sekarang rapid test bertambah terus kita di angka 11.000-an. Kita punya target di angka 25.000-30.000 atau sekitar 0,6 persen dari jumlah penduduk Kota Bandung. Kalau berbicara populasi administrasi di angka 24.000-25.000 tapi untuk seluruh warga yang tinggal di bandung sepertinya di angka 30.000,” kata Ema dalam keterangan resminya ditulis Bandung, Kamis (4/6/2020).

Ema menuturkan, upaya pelacakan kini semakin spesifik dijangkau hingga ke level kewilayahan oleh Puskesmas. Sehingga penanganan bisa tepat sasaran.


Baca Juga : Survei: 74,8 Persen Responden Percaya Ekonomi Memburuk Karena COVID-19

Ema menjelaskan seluruh rangkaian rapid test itu, seluruhnya dilakukan oleh Puskesmas. Alasan Ema, hanya Puskesmas yang memiliki peta sebaran terhadap warga yang bestatus menjadi orang dalam pemantauan (ODP) atau yang harus dilakukan rapid test.

"Mereka yang punya peta mereka sekarang mengejar orang-orang yang ODP atau siapa yang harus sekarang dilakukan rapid,” ungkap Ema.

Selain itu Ema menjelaskan, soal penugasan aparatur sipil negara (ASN) yang dikerahkan untuk ikut mengawasi pelaksanaan PSBB proporsional di Kota Bandung. Ema menuturkan, ASN sudah mulai dimaksimalkan mengawal beberapa sektor yang diberi kelonggaran.

Meski dioptimalkan dengan mencabut kebijakan Work From Home (WFH), namun Ema memastikan ASN yang ditugaskan ke lapangan juga tetap memerhatikan standarisasi kesehatan dan keamanan dari ASN.

“Yang jelas orang sakit tidak mungkin. Pokoknya yang masih sehat dan bugar, kemudian yang memang secara fisik masih layak dan tidak rentan,” kata Ema.
 
Bagikan :

Reporter : Arie Nugraha
Editor : Ervan Bayu Setianto
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU
Ekonomi
07 Juli 2020 22:24 WIB

Survei: 74,8 Persen Responden Percaya Ekonomi Memburuk Karena COVID-19

"Semua sektor bisnis harus dibuka kembali,"
Lifestyle
07 Juli 2020 21:35 WIB

Daftar Makanan yang Bisa Memperbesar Payudara: Jadi Kencang dan Berisi

Buat yang rata enggak usah minder
Lifestyle
07 Juli 2020 20:05 WIB

Internasional Kissing Day: Yuk Ketahui 5 Manfaat Berciuman

Baik untuk kesehatan