Rabu, 08 Juli 2020
Kucing-kucing tersebut didapat dari jalanan di Ibu Kota Jakarta. (Wardhany/era.id)
17 Agustus 2019 19:11 WIB

Steril untuk Kemerdekaan Kucing Liar

"Ini sumbangsih kita kepada negara dalam bentuk steril kucing (liar) gratis"
Bagikan :


Jakarta, era.id - Puluhan kandang plastik kecil berukuran 30 cm x 20 cm yang berisi kucing berderet di lantai Petlove Center, Kebayoran Baru, Jakarta Barat. Satu kandang kecil ini berisi satu kucing liar yang bakal dikebiri atau disteril.

Kucing liar ini menggemaskan. Mereka ada yang mengeong dengan suara keras maupun pelan, ada juga yang meronta ingin keluar dari kandangnya tapi ada juga yang tertidur menunggu giliran untuk dibius sebelum dioperasi. Semua kucing ini berasal dari jalanan dan sengaja ditangkap untuk disteril agar tidak bisa berkembang biak. 

Kepada era.id, Carolina Fajar yang merupakan koordinator acara 'Steril Bareng' ini menceritakan awal mula, dia bersama enam komunitas penggiat steril kucing di wilayah Jabodetabek melaksanakan kegiatan ini.

"Jadi kami masing-masing komunitas penggiat steril kucing ini sudah sering melakukan kegiatan steril. Hanya saja dilakukan sendiri-sendiri," kata dia yang juga pendiri Let's Adopt Indonesia di sela acara, Sabtu (17/8/2019).


Baca Juga : Sedih, Rubble si Kucing Tertua di Dunia Mati di Umur 31 Tahun

Carolina mengatakan, karena menginginkan steril kucing berdampak lebih besar lagi, maka tujuh komunitas penggiat steril yaitu Let's Adopt Indonesia, Rumah Steril, Straytogether, Soulcare, Steril Donk!!, Ayo Steril, dan Steril Malabar Bogor akhirnya sepakat mengadakan acara ini.



Dia menjelaskan, untuk steril yang dilakukan saat ini merupakan kegiatan pertama yang sengaja mengambil momentum di Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang jatuh pada 17 Agustus. Apalagi, tujuan mereka melakukan acara ini adalah untuk membantu pemerintah menekan angka populasi kucing liar.

"Ini adalah sumbangsih atau kontribusi kita kepada negara dalam bentuk steril kucing (liar) gratis. Jadi kita pilih tanggal ini," ungkapnya.

Sebagai penggiat steril kucing, dia menilai kegiatan semacam ini sebenarnya perlu dilakukan. Sebab, kucing adalah hewan yang mudah berkembang biak apalagi jika kucing ini liar. "Ini bisa jadi overpopulasi lama-lama. Satu kucing betina ini bisa punya anak dalam jarak yang berdekatan," jelas dia.

Apalagi, selama ini, kata Carolina, kucing liar sering mendapat perlakuan kasar dari masyarakat karena menganggap hewan ini sebagai pengganggu. "Jadi tidak ada complain lagi soal ada yang pipis sembarangan atau ketakutan menyebarkan penyakit tokso itu yang mau kita cegah juga," tegas dia.

Wanita berusia 43 tahun ini juga mengatakan, kucing yang disteril sebenarnya lebih sehat dan membuat kucing lebih tenang karena mereka sudah tidak punya keinginan untuk kawin. 

Pernyataan Carolina soal kucing lebih sehat setelah disteril atau dikebiri ini juga diamini oleh drh. Fitri Yanti. Dokter hewan yang berpraktik di klinik Cantik, Pondok Kopi, Jakarta Timur itu juga mengatakan hal yang sama.

"Kucing yang disteril itu memang lebih sehat, apalagi biasanya kucing betina yang tidak dikawinkan sering menderita penyakit pyometra. Penyakit ini rentan juga terjadi saat kucing betina kawin dengan kucing jantan yang membawa virus," jelasnya kepada era.id lewat sambungan telepon.

"Jadi adanya gerakan steril itu ya, bagus. Karena bisa mengurangi dampak penyakit, sekaligus mencegah overpopulasi," kata Fitri.

Mengenal istilah trap, neuter, dan release

Carolina menjelaskan, dalam acara 'Steril Bareng' ini mereka menggunakan cara TNR atau trap, neuter, dan Release. Cara ini biasa digunakan ketika steril dilakukan kepada kucing liar.

Trap merupakan proses penangkapan kucing yang berada di jalanan. Kepada kami, Carolina kemudian menceritakan kesulitannya. Menurut dia, kucing jalanan atau liar biasanya lebih sering curiga dengan orang yang mendekati mereka. Sehingga, pendekatan dengan pemberian makanan bakal dilakukan.

"Kesulitannya pas nangkap itu kucing suka curigaan terus mereka kabur. Jadi sebagian besar dari kita ini, kita sudah target mana nih kucing yang mau kita steril. Terus kita dekatin dengan cara kasih makan selama terus menerus sampai akhirnya kita tangkap," ungkapnya.

"Ada juga yang profesional tangkap kucingnya, triknya seperti apa jadi tidak usah pendekatan lagi," imbuh Carolina.

Sementara Neuter adah proses bagaimana kucing disteril oleh para dokter hewan. Di klinik ini, proses pengerjaan operasi steril dilakukan oleh dua dokter hewan dibantu tiga paramedik yang bertugas melakukan suntik bius, memasang tanda pada tubuh kucing, serta memakaikan kasa pada bekas operasi kucing.



Dilihat era.id, saat proses steril ini kucing memang dalam keadaan tidak sadar karena dibius terlebih dahulu. Tapi, yang lucu adalah saat proses bius dilakukan karena beberapa kucing berusaha melawan dengan mencakar ataupun mendesis kepada paramedik. Tak jarang juga ada yang berusaha menggigit.

Bahkan, ada juga kucing yang berusaha kabur saat dikeluarkan dari kandang karena panik hingga akhirnya paramedik menggunakan jaring untuk menangkap mereka sebelum menyuntikkan obat bius.

"Kalau yang berontak biasanya dia (kucingnya) panik. Panik atau enggaknya berdasarkan watak kucingnya saja," kata salah satu paramedik sambil menyuntikkan obat bius.

Meski dilakukan secara bersama-sama dalam jumlah besar, tapi kucing-kucing ini sudah dipastikan layak untuk disteril karena usianya sudah cukup dan kondisi kesehatan memadai. Misalnya kondisi kucing terlalu kurus, Carolina mengatakan, kucing-kucing ini akan dirawat terlebih dahulu hingga mencapai kondisi prima.

Setelah proses tersebut, yang terakhir adalah release atau melepaskan kembali ke wilayah kucing liar itu ditangkap. Tapi, Carolina mengatakan sebelum melepas biasanya kucing-kucing ini bakal dirawat selama lima hari oleh para penanggungjawabnya untuk masa penyembuhan pascaoperasi.

"Kita lepaskan di wilayah asal mereka supaya tidak bingung nantinya. Apalagi kucing ini kan hewan teritori. Kasihan kalau dilepas sembarangan," jelas Carolina.

Antusiasme masyarakat cukup besar

Untuk mengumpulkan modal steril gratis, Caroline pun membuka donasi lewat situs kitabisa.com/tnrkucing. Dia menyebut, saat ini jumlah sumbangan mencapai Rp28.021.572. Angka ini bahkan tak disangka oleh dirinya bersama teman-teman dari komunitas penggiat steril lainnya.

"Ini banyak banget yang antusias. Bisa dicek kita mulai sejak 26 Juli 2019 sampai sekarang itu sudah lebih dari Rp25 juta. Jadi orang-orang sudah mulai antusias," ungkap Carolina.

Dari total dana yang terkumpul ini, dia lantas menjelaskan rincian dananya. Satu kucing, kata dia butuh biaya sekitar Rp800 ribu untuk menjalankan proses steril. Ini sudah termasuk biaya transpor dan makan serta biaya tak terduga lainnya.

"Biaya ini juga buat tindakan gawat lainnya. Misalnya saat operasi steril, tiba-tiba kucing sesak nafas dan harus dibawa ke klinik. Nah, ini kita ambil dananya dari situ," jelasnya.



"Jadi kita enggak kerja sendiri, banyak yang mendukung dan kita appreciate itu," tambah Carolina.

Sebagai koordinator, ke depan, dia berharap bersama komunitas lainnya bisa melaksanakan kegiatan 'Steril Bareng' untuk kucing liar dengan cakupan wilayah yang lebih luas. Sehingga, tak akan ada lagi cerita kucing liar yang overpopulasi di wilayah manapun.

"Kalau bisa mencegah overpopulasi di semua tempat. Makanya kita ingin menjangkau semua wilayah, enggak hanya di kota besar tapi juga di kota kecil. Kalau dananya ada," tutupnya sambil tersenyum.
Bagikan :

Reporter : Wardhany Tsa Tsia
Editor : Ahmad Sahroji
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU
Internasional
08 Juli 2020 17:40 WIB

Amerika Tak Lagi Jadi Anggota WHO Mulai Tahun Depan

Jangan keluar masuk ya
Lifestyle
08 Juli 2020 17:05 WIB

Jude Law Ikuti Jejak Dustin Hoffman sebagai Kapten Hook

Film klasik Disney Peter Pan bakal kembali digarap ke versi live-action
Nasional
08 Juli 2020 16:37 WIB

Update COVID-19 Hari Ini: 68.079 Kasus Positif COVID-19 di 34 Provinsi

Bertambah 1.853 kasus baru
 
ide
08 Juli 2020 15:45 WIB

5 Sepeda Penting dalam Sejarah Gowes

Eyang buyutnya brompton