Senin, 16 September 2019
Rangga SM*SH ikutan preloved barang-barang kesukaannya (Diah/era.id)
08 September 2019 17:45 WIB

Jual Barang Preloved, Kenapa Enggak?

Mungkin sayang, tapi daripada lemari kamu kelebihan muatan?
Bagikan :


Jakarta, era.id - Budaya konsumtif yang berkembang membuat sejumlah masyarakat gampang menghabiskan uang untuk belanja. Uang mereka bisa habis untuk mengikuti pergantian tren mode setiap waktunya.

Kalau sudah begini, semakin lama, barang-barang yang dibeli seperti pakaian, tas, sepatu, dan aksesori kian menumpuk dan memenuhi lemari di rumah. Akhirnya, muncullah ide menjual kembali barang tersebut atau dikenal dengan istilah preloved.

Hal ini diamini oleh publik figur Rangga Dewamoela. Anggota grup vokal pria SM*SH ini ikut dalam bazar penjualan barang preloved Flea Market Selebgram Invasion 3.0 di Mall of Indonesia. 

Rangga mengaku diajak oleh penggelar acara untuk ikut meramaikan bazar ini. Hobi belanja yang sudah melekat sejak zaman kuliah membuat dirinya menjual lagi barang belanjaannya itu, khususnya yang sudah tak terpakai.


Baca Juga : Singgah di Perpustakaan Erasmus Huis yang Bikin Betah


Suasana bazar preloved di Kelapa Gading (Diah/era.id)

Pekerjaan Rangga di dunia entertaint menuntut dia terus-terusan membeli pakaian dan aksesori baru untuk meningkatkan gaya penampilan di layar kaca. 

"Rata-rata satu pakaian bisa untuk 2 kali acara off air dan 1 kali on air. Akibatnya, tumpukan baju aku menjadi banyak banget di rumah. Salah satu cara untuk mengeluarkan baju-baju ini adalah dengan menjual lagi," kata Rangga saat ditemui era.id di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Pusat, Minggu (8/9/2019).

Menyoal barang preloved, timbul pertanyaan apakah si penjual tak sedih jika barang kesayangannya itu pindah tangan dan tak bisa dia pakai lagi di waktu mendatang? 

Dulu, presenter berusia 31 tahun ini berusaha mempertahankan barang-barangnya ini dan merawatnya. Apalagi, kebanyakan yang ia beli merupakan barang kelas atas. Namun, karena satu dan lain hal barang-barang ini dia jual.

"Awalnya dulu mikirnya sayang banget ya kalau dijual enggak bisa dipakai lagi. Tapi, makin aku tahan, makin enggak terpakai itu barang. Apalagi aku hobi liburan ke luar negeri yang sering banget belanja di sana. Untuk kebutuhan syuting kan aku juga mesti beli yang baru," tutur dia. 

"Terus ada beberapa juga yang udah enggak muat, lihat badan aku, semenjak SM*SH vakum, aku jadi gendut begini. Ujung-ujungnya beli baru lagi," lanjutnya. 


Barang-barang preloved milik Rangga (Diah/era.id)

Meskipun barang yang ia jual bermerek, Rangga tak membanderolnya dengan harga tinggi saat dijual. 

Seperti sepatu bermerek Puma yang ia beli seharga Rp2,5 juta pada tahun 2017 yang ia pakai beberapa kali. Sepatu itu dia jual seharga Rp500 ribu.

Lalu, kaus bermerek Gucci yang Rangga beli dengan harga Rp5,5 juta, ia jual seharga Rp1,5 juta. Padahal, kaus itu belum pernah ia pakai dan label harganya masih menempel. 

"Sejujurnya ini harganya jatuh banget. Karena gini, kalau jual barang yang sudah kita pakai terus jual yang enggak jauh sama harga asli, susah untungnya," kata dia. 

Untuk teknik marketing penjualan barang-barang ini, Rangga cukup mengunggahnya di akun instagram pribadi yang punya 1,1 juta follower. Hasilnya, barang preloved-nya jadi mudah terjual. 

Selama 2 hari terakhir, di bazar ini, barang preloved Rangga terjual sebanyak 70 persen dari stok yang dia bawa. Jika nanti masih ada yang belum terjual, barang preloved-nya bisa dia pakai, diberikan kepada rekan dan saudara, atau dijual di bazar lainnya.


Barang-barang preloved milik Rangga (Diah/era.id)

Saat ini, masyarakat semakin menerima barang-barang preloved, khususnya yang bermerek. Beberapa dari masyarakat menganggap membeli barang dengan nama brand besar merupakan sebuah investasi karena akan dicari dan kualitasnya memang tinggi. 

Ini pula yang membuat jual beli barang preloved menjadi bisnis yang menjanjikan. 

Berdasarkan data survei dari Carousell yang diterima era.id, 82 persen orang di Indonesia memiliki setidaknya 29 barang yang sudah tak terpakai di rumah. Jenisnya beragam namun paling besar adalah mainan, barang fesyen, gawai, serta buku-buku yang sudah tidak terpakai lagi. 

Kemudian, 8 dari 10 orang menyatakan bersedia untuk menjual kembali barang yang ia miliki. Alasannya, sekitar 30 persen menjual dengan alasan berat badan berubah, 25 persen karena sudah tua atau model lama, 13 persen karena sudah tidak tren lagi, serta 11 persen karena selera fesyen sudah berubah. 

Angka tersebut diperoleh melalui survei periode September 2017 di empat kota besar di Indonesia. Survei ini melibatkan 1.000 responden berumur 20-40 tahun.
Bagikan :
Topik :

Reporter : Diah Ayu Wardani
Editor : Bagus Santosa
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU
Nasional
15 September 2019 20:31 WIB

Wawancara: Masa Depan Perjuangan Habibie Center

Bagaimana Habibie Center melanjutkan perjuangan selepas kepergian Habibie?
Internasional
15 September 2019 19:44 WIB

Wabah Ebola Seret Menteri Kesehatan Kongo ke Penjara

Kini sang menteri harus bertanggung jawab atas perbuatannya
Nasional
15 September 2019 16:39 WIB

Habibie: Bapak Teknologi Penggila Diskusi

Wawancara kami dengan Wakil Ketua Habibie Center
Lifestyle
15 September 2019 14:49 WIB

VIDEO: Movie Update of the Week

Ada film Gemini Man dan SIN: Saat Kekasihmu adalah Kakakmu Sendiri
Lifestyle
15 September 2019 13:49 WIB

Berprakarya dengan Limbah Daur Ulang Styrofoam

Manfaatkan limbah plastik jadi karya seni~