Selasa, 19 Februari 2019
Ilustrasi (Twitter @SutopoPN)
11 Oktober 2018 20:16 WIB

Bantuan 15 Negara untuk Sulteng Sudah Diterima

Bantuan prioritas di antaranya transportasi udara, genset, tenda, dan water treatment
Bagikan :


Jakarta, era.id - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengatakan sudah menerima bantuan internasional dari 15 negara untuk penanganan masa tanggap darurat gempa Sulawesi Tengah (Sulteng).

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, bantuan tersebut berupa pengangkutan alat-alat untuk memenuhi kebutuhan para pengungsi.

"Bantuan yang diterima BNPB lewat Balikpapan dari 15 negara hingga kemarin, Rabu (10/10). Mengangkut alat-alat yang kita butuhkan dan sudah beroperasi sejak beberapa hari yang lalu, distribusi, dan sebagainya," ujar Sutopo di Graha BNPB, Jalan Pramuka, Jakarta Timur, Kamis (11/10/2018).

Sutopo menambahkan, tidak semua bantuan asing dapat diterima masuk ke wilayah Palu. Pemerintah Indonesia hanya membutuhkan empat macam bantuan, antara lain transportasi udara, genset, tenda, dan water treatment.


Baca Juga : Jepang Komitmen Hibah Pembangunan Jembatan di Palu


(Infografis/era.id)

"Di luar itu kita tidak butuh. Tenaga SAR, tenaga medis dan yang lainnya (tidak dibutuhkan)," ungkapnya.

Sutopo mengatakan, semua tawaran bantuan internasional maupun relawan asing harus dikoordinasikan dengan assesment dan disampaikan secara tertulis oleh kemenlu.

Baca Juga : BNPB: Korban Meninggal Gempa Sulteng Mencapai 2.045

"Itu dilakukan agar tujuan, peran, serta fungsi bantuannya jelas. Namun faktanya banyak yang tiba-tiba langsung masuk ke wilayah Palu, yang tidak ada koordinasi, tidak ada izin. Ya kita harus atur itu," tegasnya.


(Infografis/era.id)

Berikut bantuan internasional yang diterima BNPB lewat Balikpapan dari 15 negara:

1. Singapura: mengangkut genset, peralatan kesehatan, selimut, makanan.
2. India: mengangkut genset, peralatan kesehatan, air bersih.
3. Australia: mengangkut peralatan sanitasi, dapur umum, kantung tidur.
4. Malaysia: mengangkut makanan.
5. Selandia Baru: mengangkut genset dan air bersih.
6. Jepang: mengangkut sparepart pesawat.
7. Inggris: mengangkut genset, dan truk alat berat.
8. Swiss: mengangkut peralatan air bersih dan tenda keluarga.
9. Amerika Serikat: mengangkut genset dan alat berat.
10. Ukraina: mengangkut alat berat.
11. Korea Selatan: mengangkut tenda keluarga.
12. Perancis: mengangkut tenda, genset, dan peralatan air bersih.
13. Jerman: mengangkut genset.
14. Rusia: mengangkut Mobile Power Plant, water treatment, dan selimut.
15. Qatar: mengangkut peralatan kesehatan.
Bagikan :
Topik :

Reporter : Diah Ayu Wardani
Editor : Ahmad Sahroji
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU
Internasional
19 Februari 2019 15:45 WIB

Bebas Berkunjung Plus Mantai di St Kitts dan Nevis

Kini, WNI bebas berlibur ke St Kitts dan Nevis. Yuk cari tahu, ada apa saja di sana?
Internasional
19 Februari 2019 15:31 WIB

Palestina-Jordania Kecam Penutupan Masjid Al-Aqsa oleh Israel

Penutupan itu dilakukan Israel dengan menggunakan rantai dan gembok
Olahraga
19 Februari 2019 15:12 WIB

Mercedes Khawatir Terganggu Brexit

Soalnya, pabrik dan fasilitas operasi mesin Mercedes ada di Inggris
Suara-Milenials
19 Februari 2019 15:05 WIB

VIDEO: Jelang Pilres Pelajar di Jakarta Utara Rekam e-KTP

Pelaksanaan pencetakan e-KTP dilakukan bagi para pelajar SMA yang sudah berusia 17 tahun
Peristiwa
19 Februari 2019 14:56 WIB

BPN: Klaim Jokowi soal Jalan Desa Tak Sesuai Fakta

Patut dipertanyakan keabsahan dan validitasnya, katanya
POPULER
18 Februari 2019 14:22 WIB

Robben Sebut Anfield Stadion Terburuk

18 Februari 2019 07:25 WIB

Kita Semua Wajib Tanggung Jawab

21 Juli 2018 16:30 WIB

Asia Juga Punya Anak Muda 'Berbahaya'

PODCAST

LISTEN
15 Februari 2019 19:22 WIB

NGEPOD: Buzzer Baik, Memang Ada? (Part 1)


LISTEN
14 Februari 2019 17:09 WIB

PODCAST: Sendiri Tak Melulu Sepi


LISTEN
04 Februari 2019 19:22 WIB

NGEPOD: Merangkai Kata Mendulang Rezeki


LISTEN
01 Februari 2019 19:50 WIB

NGEPOD: Mendarat di Galaksi Palapa


LISTEN
30 Januari 2019 15:11 WIB

NGEPOD: 'Stand Up' untuk Ekonomi Kreatif

FITUR