Senin, 22 Juli 2019
Patung Bundaran HI (Anto/era.id)
11 Juli 2019 13:01 WIB

KLHK: Kualitas Udara Jakarta Tak Cocok untuk Bayi dan Manula

Ayolah kawan, jaga udara yang kita hirup bersama
Bagikan :


Jakarta, era.id - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengeluarkan hasil pemantauan udara DKI Jakarta. Hasilnya, kualitas udara Jakarta masuk dalam katagori tidak sehat untuk bayi dan manula.

Hasil kategori ini berdasarkan data gabungan Air Quality Monitoring System (AQMS) KLHK dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. 

"Kualitas udara Jakarta berada pada konsentrasi 39,04 g/Nm3, atau pada kategori tidak sehat untuk kelompok sensitif (bayi dan manula)," ujar Menteri LHK, Siti Nurbaya dalam keterangan tertulis, Kamis (11/7/2019).

Meski tak cocok untuk kelompok sensitif, Siti bilang ada parameter pemantau kualitas udara lain. Baku Mutu Udara Ambien Nasional justru menyatakan kualitas udara Jakarta masih bagus dan sehat. Kualitas ini berada pada angka 65 g/Nm3. Sementara, jika dibandingkan dengan Standar WHO pada angka 25 g/Nm3, maka kualitas udara Jakarta masuk kategori sedang. 


Baca Juga : Berapa Biaya Jakarta Jadi Tuan Rumah Formula E?

Lebih lanjut, jika dirunut data tahun 2015 dan 2016, yang pada saat itu masih menggunakan hasil pengukuran manual melalui Evaluasi Kualitas Udara Perkotaan (EKUP), maka secara keseluruhan kualitas udara kota Jakarta masih bagus atau sehat karena masih di bawah ambang batas Baku Mutu Udara Ambien. 

Tetapi, kata Siti, jika dilihat per parameter dan per wilayah administrasi, maka udara kota Jakarta tidak dapat dikatakan makin membaik atau makin menurun, melainkan relatif konstan.

"Demikian pula bila kita menggunakan data Air Visual tahun 2017 yang dikelola oleh LSM berkedudukan di Beijing, China, maka kualitas udara kota Jakarta berdasarkan data rata-rata tahunan PM 2,5 berada pada urutan ke 160, yaitu pada angka 29,7 (g/Nm3 atau kategori sedang," jelas dia. 

Faktor yang memengaruhi kualitas udara ini mencakup persoalan yang juga sedang menguat di ruang publik. Contohnya, sampah yang mencemari laut dengan sekitar 80 persen berasal dari kegiatan di daratan. Contoh lainnya bersumber dari kegiatan di wilayah pesisir dan dari aliran sungai yang bermuara di pesisir dan laut. 

"Hasil survei pemantauan sampah laut oleh KLHK tahun 2017 dan 2018 di 18 Kabupaten/Kota, menunjukkan rata-rata timbulan sampah laut sebesar 106,38 gram per meter persegi," ungkap dia. 

Sisanya, sekitar 20 persen sumber pencemaran pesisir dan laut berasal dari lautan. Sampah plastik di lautan berasal dari sektor pelayaran dan perikanan. Sampah plastik di lautan yang berasal dari darat bersumber dari aliran sungai yang bermuara di laut dan kawasan pesisir, di mana wilayah pesisir Indonesia mencakup 50 persen areal daratan dengan tingkat populasi 70 persen. 

Bagikan :
Topik :

Reporter : Diah Ayu Wardani
Editor : Bagus Santosa
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU
Nasional
22 Juli 2019 18:40 WIB

Bos Go-Jek Nadiem Makarim Gabung ke PDIP?

Setelah mengganti logo, apakah gojek juga akan merubah warna seragamnya jadi merah?
Nasional
22 Juli 2019 17:24 WIB

VIDEO: SPG Cantik Jualan Hewan Qurban

Kalau yang jaga begini sih rela lama-lama di kandang sapi mblo~
Lifestyle
22 Juli 2019 17:24 WIB

Matt Groening Singgung Sekuel The Simpsons Movie di Comic-Con

Sang pencipta bersuara soal karya epiknya
Nasional
22 Juli 2019 16:30 WIB

PDIP Tolak Rencana Super Holding Bentukan Rini Soemarno

"Mereka yang berpikir membentuk super holding, harus belajar dari krisis ekonomi di AS"
Lifestyle
22 Juli 2019 16:18 WIB

Moskow Merayakan Konser Ed Sheeran Lewat Sebuah Patung

Sebuah perayaan...