Senin, 16 September 2019
Rapat Tatib pemilihan wakil gubernur (Diah/era.id)
11 September 2019 08:10 WIB

Cari Wagub Pengganti Belum Kelar, Sudah Kasih Usulan Baru

Usulannya wagub bisa lebih dari satu orang~
Bagikan :


Jakarta, era.id - Ada saja usulan baru dari anggota DPRD DKI periode 2019-2024, pada awal kerjanya. Setelah keinginan mereka untuk mendapatkan fungsi yang lebih, kali ini mereka mengusulkan gagasan agar jabatan Wakil Gubernur DKI Jakarta diisi lebih dari satu orang.

Gagasan ini boleh dikatakan tidak dimasukkan dalam rapat Tata Tertib (tatib) anggota DPRD DKI dan pemilihan wakil gubernur. Namun Ketua DPRD DKI sementara, Pantas Nainggolan bilang usulan tersebut berasal dari beberapa anggota dewan dan akan coba ia sampaikan kepada Kementerian Dalam Negeri.

"Kemendagri kan notabenenya menjadi institusi di atas provinsi. Maka, usulan wakil gubernur lebih dari satu disampaikan ke situ," kata Pantas di Gedung DPRD DKI, Jakarta Pusat, Selasa (10/9).

Usulan coba-coba DPRD ini berangkat dari celah Jakarta sebagai Ibu Kota yang memiliki kekhususan untuk mengatur otonomi provinsinya sendiri dan diatur dalam UU Nomor 29 Tahun 2007 tentang Pemerintahan Provinsi Khusus Ibu Kota Jakarta sebagai Ibu Kota Negara Kesatuan Republik Indonesia. Celah inilah yang dikatakan anggota dewan untuk mengusulkan ide jabatan wagub Jakarta lebih dari satu orang.


Baca Juga : Rapat Tatib Memilih Pengganti Sandi Sudah Tiga Kali Batal

"Nah, dari situ muncul gagasan kami supaya Undang-Undang DKI itu direvisi. Revisinya menyangkut wakil gubernur dan termasuk juga kedudukan DPRD. Jika ada UU khusus, apa salahnya memuat pelaksanaannya secara khusus juga," jelas Pantas. 

Agar usulan itu bisa diwujudkan, maka DPRD DKI mesti merevisi Undang-undang Nomor 34 Tahun 1999 tentang Provinsi Daerah Khusus Ibukota Negara Republik Indonesia Jakarta. Sebab aturan yang berlaku saat ini, dengan satu orang wakil gubernur, berdasarkan pemilihan langsung kepala daerah.

Dan sudah barang tentu prosesnya tidak akan mudah, DPRD mesti meminta restu ke Kemendagri, untuk seterusnya bisa dibawa masuk dalam pembahasan revisi UU oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) bersama Presiden RI, dengan tujuan mendapat persetujuan bersama. 

"Ya, hal itu kita serahkan saja lah kepada pembuat UU. Mana yang menurut mereka lebih baik, yang lebih efektif, lebih efisien," ucap politikus PDIP tersebut. 

"Tapi perlu dipertimbangkan juga kekurangan dan kelebihan dari pemilihan langsung selama ini, perlu dipertimbangkan juga mana yang lebih besar manfaatnya, perlu dihitung juga," tambahnya. 

Belum lagi, proses pemilihan wagub yang masih mandek di tangan DPRD DKI hingga saat ini. Alih-alih memilih salah satu nama dari dua kandidat yang telah diusung fraksi PKS sebagai cawagub yaitu Agung Yulianto dan Ahmad Syaikhu. Draft tata tertib pemilihan yang telah disusun pansus dalam rapat pimpinan gabungan (rapimgab), tak kunjung selesai hingga masa tugas anggota dewan DKI 2014 - 2019 berakhir.


Ketua DPRD DKI sementara, Pantas Nainggolan

Berkaca dari Sutiyoso

Wacana jabatan wakil gubernur dapat diisi lebih dari satu orang, berangkat dari latar belakang sejarah Jakarta yang juga pernah memiliki beberapa orang wagub. Bahkan pada pemerintahan Sutiyoso, selama dua periode di tahun 1997 hingga 2002, Jakarta memiliki empat orang wakil gubernur.

Sehingga wajar bila ada jabatan wakil gubernur diisi lebih dari satu orang. Apalagi, dalam setahun terakhir Gubernur DKI Anies Baswedan bekerja sendirian tanpa adanya pendamping yang membantu pekerjaannya memimpin Jakarta. 

"Di dalam perjalanannya, sering juga gubernur menyampaikan keluhan-keluhan. Jadi, memang butuh wakil gubernur yang lebih dari satu," tutur Pantas. 

Tercatat pada pemerintahan Gubernur Sutiyoso memiliki empat orang wakil gubernur yang bekerja sesuai bidangnya masing-masing, yakni Abdul Kahfi (Bidang Pemerintahan), Boedihardjo Soekmadi (Bidang Pembangunan), Djailani (Bidang Kesejahteraan Masyarakat), dan Fauzie Alvi Yasin (Bidang Ekonomi Keuangan). 

Pada periode sebelumnya, jabatan wakil gubernur juga diisi lebih dari satu orang. Sebut saja pada masa pemerintahan Soemarno Sosroatmodjo (1965-1966), Tjokropranolo (1977-1982), R. Soeprapto (1984-1987), Wiyogo Atmodarminto (1987-1992), dan Soerjadi Soedirdja (1992-1997). 

"Kalau saya melihatnya lebih kepada perbandingan, waktu Sutiyoso itu wagub ada empat. Dulu, waktu banyak wagub itu fokus pada hal-hal tertentu. Menurut kita, lebih bagus lagi kalau kebih fokus," ungkapnya. 

Pengamat Politik dari Universitas Al Azhar, Ujang Komarudin melihat pesimis usulan jabatan wagub untuk diisi lebih dari satu orang bisa segera terwujud. Mengingat, ada jalan panjang yang harus dilewati dalam proses revisi Undang-Undang.

"Beratnya di DPRD itu adalah mengusulkan ke Kemendagri untuk bisa meneruskan ke dpr dan presiden sebagai revisi UU. Belum lagi tidak semua di DPR akan sepakat dengan hal itu. Butuh kompromi parpol dan itu membutuhkan waktu," kata Ujang saat dihubungi era.id. 

Apalagi, dalam beberapa tahun ke depan Jakarta akan melepas predikat istimewa Ibu Kota Indonesia karena dipindah ke Kalimantan Timur. Kemudian, masih ada Undang-Undang Pilkada yang menyatakan pemilihan gubernur dan wakilnya harus melalui pemilihan umum. 

"Kemungkinannya kecil. Apalagi, jika merevisi UU Ibu Kota enggak bisa berbenturan juga dengan UU Pilkada," pungkasnya. 
 
Bagikan :

Reporter : Diah Ayu Wardani
Editor : Aditya Fajar
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU
Nasional
15 September 2019 20:31 WIB

Wawancara: Masa Depan Perjuangan Habibie Center

Bagaimana Habibie Center melanjutkan perjuangan selepas kepergian Habibie?
Internasional
15 September 2019 19:44 WIB

Wabah Ebola Seret Menteri Kesehatan Kongo ke Penjara

Kini sang menteri harus bertanggung jawab atas perbuatannya
Nasional
15 September 2019 16:39 WIB

Habibie: Bapak Teknologi Penggila Diskusi

Wawancara kami dengan Wakil Ketua Habibie Center
Lifestyle
15 September 2019 14:49 WIB

VIDEO: Movie Update of the Week

Ada film Gemini Man dan SIN: Saat Kekasihmu adalah Kakakmu Sendiri
Lifestyle
15 September 2019 13:49 WIB

Berprakarya dengan Limbah Daur Ulang Styrofoam

Manfaatkan limbah plastik jadi karya seni~