Sabtu, 24 Agustus 2019
Prosesi penghormatan dan mencium Bendera Merah Putih. (Wardhany/era.id)
13 Agustus 2019 12:05 WIB

Eks Pemberontak Bacakan Ikrar Setia pada NKRI

Pembacaan ikrar itu dipimpin Sarjono Kartosuwiryo, putra pendiri DI/TII
Bagikan :


Jakarta, era.id - Eks Harokah Islam Indonesia, eks Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII), dan eks Negara Islam Indonesia (NII) membacakan ikrar setia paada Pancasila, Undang-Undang Dasar (UUD) 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika.

Pembacaan Ikrar ini disaksikan langsung oleh Menteri Koordinator (Menko) Politik, Hukum, dan HAM (Polhukam) Wiranto dan diikuti oleh 14 orang di Kantor Kemenko Polhukam, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Selasa (13/8/2019).

Pembacaan ikrar itu dipimpin Sarjono Kartosuwiryo, putra Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo, pemimpin Darul Islam/Tentara Islam Indonesia. Berikut bunyi ikrar tersebut.

Satu, berpegang teguh kepada Pancasila dan UUD 1945; Dua, setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika; Tiga, menjaga persatuan dalam masyarakat majemuk agar tercipta keharmonisan, toleransi, kerukunan, dan perdamaian untuk mencapai tujuan nasional.


Baca Juga : Debat Golongan Nasionalis dan Agamis dalam Merumuskan Pancasila

Empat, Menolak organisasi dan aktivitas yang bertentangan dengan Pancasila; dan lima, meningkatkan kesadaran bela negara dengan mengajak komponen masyarakat untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.


Setelah selesai pembacaan ikrar, acara dilanjutkan dengan penandatanganan perwakilan. Selanjutnya, 14 orang tersebut secara bergantian melakukan prosesi penghormatan dan mencium lambang negara yaitu bendera merah putih. 



Menurut Wiranto, pembacaan ikrar setia pada NKRI seperti ini merupakan acara yang sudah dinantikan. Tak hanya itu, mantan Panglima Abri ini imenilai hal semacam ini bisa menjadi tonggak sejarah.

"Telah kita saksikan bersama, mereka berikrar mencium merah putih sebagai simbol dan sadar bahwa satu-satunya ideologi adalah Pancasila dan menyadari wadah satu nusantara adalah NKRI," ungkap Wiranto.

Dia menegaskan, kesadaran yang dilakukan 14 orang ini harusnya bisa diikuti oleh semua pihak yang hingga saat ini masih menduakan ideologi Pancasila dan NKRI. "Berharap kesadaran ini tidak hanya berlaku di ruangan ini, tapi menyebar dan ditiru oleh yang lain, yang masih menduakan ideologi Pancasila," tegas Wiranto.

Menko Polhukam juga mengapresiasi Sarjono Kartosuwiryo, yang mengajak pendukung dan simpatisannya eks pemberontak untuk mengucapkan ikrar setia pada NKRI. "Dengan adanya ikrar sumpah setia tadi paling tidak mengurangi adanya ancaman-ancaman yang mengancam keutuhan bangsa," kata Wiranto.

Dampak buruk dari perpecahan

Setelah menyampaikan ikrarnya, Sarjono Kartosuwiryo yang mewakili eks pemberontak itu, menyebut dia telah melihat dan merasakan hal buruk akibat perpecahan. Menurut dia, orang-orang yang hingga saat ini masih melakukan perlawanan sebenarnya malah menimbulkan kerugian bagi keluarga mereka.

"Kalau bapaknya meninggal, anaknya jadi anak yatim, siapa yang mengurus? Kita yang ditinggalkan. Itu kan jadi masalah, pendidikannya. Itu kan, satu. Kalau seribu, aduh repot," ungkap Sarjono.

Sehingga, dia mengimbau kepada rekan-rekannya yang masih berjuang menegakkan ideologi lainnya selain ideologi Pancasila segera bersatu. 

Sebagai anak dari pendiri NII, Sarjono justru tak merasa dirinya telah berkhianat kepada pemikiran ayahnya. Sebab, perjuangan bisa dilakukan dengan berbagai cara mengkuti perkembangan zaman. Dia juga merasa tak pernah dijanjikan apapun oleh pemerintah.

"Enggak ada (janji). Kita membela negara. Mau janji, enggak janji, dibayar, enggak dibayar tapi saya perlu dengan negara ini," tegas Sarjono.

Dia sempat menyebut, perkiraan pengikut paham ayahnya itu, masih banyak. Meski tak ada data statistik, namun, Sarjono mengklaim masih ada 2 juta orang yang tergabung dalam gerakan Negara Islam Indonesia (NII). Sehingga, rencananya, dia akan mengajak pihak-pihak yang tergabung untuk berbincang. 

Sarjono bahkan bilang kehidupannya kini lebih enak dibandingkan kehidupannya dulu waktu masih dalam masa pelarian. "Makanan banyak di pinggir jalan tinggal milih yang mana. Daripada di hutan coba, makanan engga ada, dikejar-kejar, ya enak di sini," tutup dia.
Bagikan :

Reporter : Wardhany Tsa Tsia
Editor : Ahmad Sahroji
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU
Nasional
23 Agustus 2019 21:33 WIB

Kunjungi Festival Indonesia Maju, Megawati Nostalgia Saat Jadi Presiden

Acaranya masih ada sampai 25 Agustus, ke sana yuk mblo~
Nasional
23 Agustus 2019 21:01 WIB

OPM Diduga Tunggangi Kerusuhan di Papua

"OPM itu amat merugikan bagi masyarakat Papua itu sendiri"
Nusantara
23 Agustus 2019 20:17 WIB

Satu Anggota KKB Tewas dalam Kontak Senjata di Pasar Wamena

Polisi dan masyarakat juga ikut terluka~
megapolitan
23 Agustus 2019 19:11 WIB

Komisi Impian Tina Toon di DPRD

Tina Toon akan tempati DPRD DKI Jakarta. Apa yang ideal buat Tina?
Nasional
23 Agustus 2019 18:15 WIB

Banyak Masalah Kesenjangan di Papua yang Ditutupi

"Ada kesenjangan ekonomi, HAM, dan keamanan yang harus kita evaluasi"