Senin, 09 Desember 2019
Relief di Hotel Inna Grand Bali Beach, Sanur (Wardhany/era.id)
10 Agustus 2019 09:52 WIB

Cerita PDIP tentang Bali dan Hotel Inna Grand

Banyak sejarah antara PDI Perjuangan dan Bali
Bagikan :


Bali, era.id - Sudah empat kali PDI Perjuangan melaksanakan kongres di Pulau Bali. Acara lima tahunan ini selalu dilaksanakan di Hotel Inna Grand Bali Beach, Sanur.

Kepada era.id, Ketua Steering Commitee Kongres V PDIP Djarot Saiful Hidayat mengatakan ada dua alasan lokasi ini dipilih, yaitu aspek historis dan kultural.

"Aspek historisnya yang pertama soal keberadaan hotel ini, dibangun dan diinisiasi oleh Bung Karno. Bung Karno waktu itu pandangannya jauh ke depan, yaitu Bali akan menjadi destinasi wisata dunia, bukan hanya domestik," kata Djarot di Lobby Hotel Inna Grand Bali Beach, Sabtu (10/8/2019).

Hotel yang dibangun tahun 1963 ini menjadi satu-satunya hotel di Bali yang punya sepuluh lantai. Hotel lain tak bisa karena terganjal Surat Keputusan Gubernur Kdh. Tk. 1 Bali, Tanggal 22 November 1971, No 13/Perbang 1614/II/a/1971 yang mengatur tinggi maksimal bangunan di pulau Dewata cuma bisa setinggi pohon kelapa atau 15 meter. 


Baca Juga : PDIP Dapat Penghargaan dari Pemerintah

Djarot menambahkan, banyak peninggalan bersejarah di hotel ini yang ada sejak Bung Karno masih hidup. Salah satunya adalah relief Indonesia Bangkit yang berada di sisi luar lobi hotel. Saat hotel ini terbakar pada 1993, relief ini tidak rusak.

"Itu ada relief Indonesia Bangkit. Itu luar biasa, Bung Karno gendong anak kecil dan ada rakyat untuk menunjukkan kekayaan alam kemudian SDM yang giat bekerja, ada pematung, petani, macam-macam. Itu adalah relief terpanjang," ungkapnya.


Relief di Hotel Inna Grand Bali Beach, Sanur (Wardhany/era.id)

Relief yang dibuat pematung Edhi Sunarso --meninggal tahun 2016 -- menceritakan sejarah bangsa. Sayangnya, relief yang dibuat oleh pematung andalan Bung Karno ini tak ada penjelasannya.

Selain itu, di hotel ini ada satu ruangan yang bernama Kamar Suci Soekarno. Djarot bilang, semasa hidup, Bung Karno seringkali ke kamar ini. Sekarang, kamar tersebut tak pernah disewakan. 

"Di sini ada satu kamar Bung Karno. Jadi kalau Bung Karno ke sini, pasti di kamar itu dan ketika hotel ini terbakar hebat tahun 1990-an, kamar itu tidak terbakar sama sekali, tertutup. Sehingga pihak hotel mengatakan ini kamar suci dan tak pernah disewakan. Relief itu juga tidak terbakar," ungkapnya.

Djarot menambahkan, Bali punya sejarah dengan PDI Perjuangan. Pascareformasi, PDI dan peristiwa Kudatuli (sebelum berubah nama) menggelar rapat besar hingga akhirnya mendeklarasikan diri sebagai PDI Perjuangan di pulau tersebut. Selain itu, PDI Perjuangan kagum dengan masyarakat Bali karena mereka selalu menjaga budayanya. 

"Budaya di sini sangat dirawat dan dijaga. Kalau lihat misal anak kecil, sejak kecil sudah ikut sanggar bisa menari, memahat. Di sini keberagaman dijaga," tuturnya.

Melihat kamar suci Bung Karno dari dekat

Penasaran dengan cerita Djarot, tim era.id mendatangi Front Office hotel ini untuk menanyakan keberadaan kamar suci tersebut. Diantar seorang petugas, kami pun mendatangi kamar 327 yang berada di lantai tiga.

"Sepatunya tolong dilepas ya sebelum masuk. Tapi, mohon tunggu karena ada yang sedang sembahyang di dalam," kata petugas itu sebelum mempersilakan kami masuk.

Berdiri di depan kamar itu, kami bisa mencium bau wangi dupa yang sangat kuat. Dupa ini biasa jadi alat sembahyang umat Hindu di Bali. Pintu kamar berwarna cokelat ini tampak berbeda dengan kamar lainnya. Ada logo bergambar bunga teratai di pintu kamar tersebut. 


Pintu Kamar Suci di Hotel Inna Grand Bali Beach, Sanur (Wardhany/era.id)

Tak berselang lama, tiga laki-laki keluar dari kamar itu. Mereka menggunakan udeng (kain penutup kepala khas Bali) dan sarung Bali. Setelah mereka keluar, kami pun masuk. Terdapat tulisan, 'maksimal empat orang' yang ditempel di pintu itu.

"Tidak mengambil foto ya, mbak. Di sini dilarang," kata petugas itu lagi.

Di dalam kamar itu, kami diperkenalkan oleh pengurusnya Anak Agung Okawati. Dia merupakan mantan pegawai hotel Inna Grand Bali Beach sebelum pensiun yang kemudian dipercaya mengurus kamar suci ini. 

Sekilas dilihat era.id, banyak sesajen sembahyang di kamar ini. Bau dupa pun makin menguat di dalam. Suasananya sunyi bahkan sempat membuat merinding.

Okawati yang menggunakan kebaya putih ini bercerita, kamar tersebut masih seperti aslinya seperti saat Bung Karno sering mendatangi kamar ini. Dua kasus berada di kamar ini ditutupi dengan bedcover berwarna putih. Dua kasur ini terdapat sajadah berwarna biru dan hijau.

Selain itu, terdapat lemari televisi yang terbuat dari kayu berwarna cokelat dan di atasnya terdapat dua tempat penyimpanan dari kaca berisi keris dan tongkat komando milik Bung Karno. "Tapi tiruan itu, bukan aslinya. Kalau yang asli dibawa," ujar Okawati.

Selain itu, terdapat juga banyak vas bunga dengan jumlah yang cukup banyak di atas meja tersebut. Ditengah dua kasur itu, terdapat meja kayu cokelat lengkap dengan lampu tidur dan telepon bergaya kuno yang tak pernah diubah.

Wallpaper yang terpasang di kamar hotel itu juga tampak menghitam. Dibagian ujung kamar tersebut juga ada dinding yang sedikit gosong tak bisa hilang meski dibersihkan. Kordennya pun tampak menghitam dan sobek di beberapa bagiannya.

"Ini dulu hotel terbakar tapi kamar ini saja yang tidak kena. Kasurnya, korden, mejanya semua selamat. Karpetnya juga, ini cuma dilapisi karpet baru saja. Padahal kebakarannya cukup besar," kata Oka.

"Tidak boleh dicat sama bapak (Soekarno). Lagipula nanti cagar budayanya hilang," imbuhnya.

Di dinding hotel ini juga tampak banyak foto Bung Karno. Foto-foto yang digantung itu tampak kusam. Tapi, pengakuan Okawati, foto-foto ini dibawa oleh para pengunjung bukan asli dari kamar ini. Tak hanya foto Bung Karno, ada juga foto Nyi Roro Kidul yang disebut-sebut sebagai penguasa laut dalam kepercayaan Kejawen.

Berdasarkan pengakuan Okawati, beberapa tokoh besar pernah datang ke kamar ini. Termasuk Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri. "Bu Mega biasanya datang jam 12 malam. Berdoa sebentar lalu pulang," ujarnya.

"Jadi kamar ini memang sekarang fungsinya buat persembahyangan saja. Tidak lagi disewakan," tutupnya.
Bagikan :
Topik :

Reporter : Wardhany Tsa Tsia
Editor : Bagus Santosa
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU
Lifestyle
08 Desember 2019 19:22 WIB

Mengapa Mahasiswa Mudah Depresi dan Rentan Bunuh Diri?

Mari simak penjelasannya lewat artikel ini
megapolitan
08 Desember 2019 18:41 WIB

Menapaki Jejak Kenangan di Lima Stasiun Ibu Kota

Kami ikut walking tour bertajuk 'Jelajah Stasiun Kereta Legendaris',…
Lifestyle
08 Desember 2019 17:07 WIB

VIDEO: Movie Update of the Week

Ada film Cats dan Dignitate
Nasional
08 Desember 2019 16:01 WIB

Kontingen Indonesia di Sea Games 2019 Penuhi Target Jokowi

Sebelumnya Jokowi menargetkan perolehan 60 medali emas pada ajang ini
Nusantara
08 Desember 2019 15:11 WIB

Alami Serangan Jantung, Pendaki Gunung Prau Meninggal Dunia

Pendaki tersebut diketahui berasal dari Depok, Jawa Barat