Sabtu, 25 Januari 2020
Layar tangkap deepfake test Facebook (Wired)
06 September 2019 12:03 WIB

Jerat Deepfake dalam Manipulasi Informasi Video

Wajah jadi komoditas digital di era modern saat ini~
Bagikan :


Jakarta, era.id - Zaman modern dengan segala perkembangan teknologinya membuat privasi manusia jadi barang berharga. Tak lagi bicara soal data, tapi sidik jari bahkan rekam wajah bisa dimanfaatkan, di era dunia yang tak memiliki batasan ini.

Dan tantangan di tahun 2019 ini adalah popularitas Deepfake atau program pencipta video palsu. Singkatnya, piranti lunak ini menggunakan kecerdasan buatan yang bisa memanipulasi wajah seseorang.

Dengan hitung-hitungan alogaritma tertentu, Deepfake bisa mengubah wajah selebirti favorit kalian ke dalam cuplikan video porno. Deepfake juga mampu mengelabui orang banyak dengan menciptakan video palsu politikus yang semirip aslinya. 

Dalam opininya, editor The New York Times Susan Fowler menyatakan 2019 sebagai tahun kematian privasi. Privasi mati, jelas Fowler, karena orang tidak lagi punya kendali atas informasi digital mereka. Ponsel dapat dimonitor, begitu pula aplikasi yang mendapat izin untuk menggali data penggunanya.


Baca Juga : Montir Tamatan Kelas 3 SD Bikin dan Terbangkan Pesawat

"Kita menemukan bahwa Facebook membagikan pesan pribadi kita dengan pihak ketiga, lalu membiarkan pengembang menggunakan platform-nya untuk memanen dan mengeksploitasi data yang kita miliki demi memengaruhi proses elektoral. Data kita terus-menerus dikumpulkan, bocor, dieksploitasi, disalahgunakan, dan dijual," tulis Fowler.



Salah satu kemungkinan terburuk dari pengembangan deepfake adalah menciptakan disinformasi, di mana sebuah video viral dengan mudahnya direkayasa hanya bermodalkan laptop dan akses internet. Jangankan laptop, aplikasi semacam itu sudah bisa diakses melalui smartphone.

Sebut saja, FaceApp aplikasi yang sempat viral beberapa waktu lalu karena mampu mengubah wajah kalian menjadi tua. Menariknya penggunaan aplikasi ini sangat mudah seperti menambahkan filter wajah dalam foto kalian. Meski dianggap lucu dan unik, hal ini memicu kekhawatiran publik karena rekam wajah kalian bisa dimanfaatkan oleh pihak ketiga. 

Mengutip dari laman CNN Business, deepfake bisa diibaratkan sebagai profesional photoshop. Selain manipulasi gambar dan video, aplikasi ini masih memungkinkan untuk dikembangkan ke bidang pengeditan audio.

Prediksi Black Mirror

Deepfake, FaceApp, atau Zao merupakan aplikasi yang mampu 'menukar' wajah penggunanya mungkin masih akan terus berkembang ke arah yang tak terduga. Jika saat ini hanya dimanfaatkan untuk kesenangan sesaat atau konsumsi hiburan, tak menutup kemungkinan hal berbeda terjadi di masa yang akan datang.

Sejatinya fenomena face swapping, pernah muncul dalam salah satu epicode dari web series Netflix, Black Mirror. Dalam episode yang berjudul "Be Right Back", bisa dikatakan sebagai bentuk visualisasi dari pengembangan deepfake.

Bukan lagi dalam bentuk video, tapi sesosok robot yang berhasil menduplikasi wajah, tingkah laku, bahkan mimik dan kepribadian seseorang yang telah lama mati sekali pun. Walau pun belum sepenuhnya dapat bertingkah mirip manusia, tapi pengalaman yang dimunculkan bisa memberikan gambaran bagaimana transfer teknologi dalam bentuk yang berbeda dan baru bisa terjadi.

Film Black Mirror mungkin hanyalah visualisasi digital dari kekhawatiran manusia akan perkembangan teknologi. Bukan tanpa sebab, dengan teknologi semacam deepfake yang mampu 'menukar' wajah seseorang, bisa jadi masalah yang luar biasa. 

Penyanyi Taylor Swift, Amber Rose dan Caitlyn Jenner misalnya, pada tahun 2016, bentuk tubuh dan wajah mereka dimanipulasi dalam tubuh palsu yang digunakan dalam video klip dari lagu 'Famous' milik Kenye West. Tak perlulah kita membayangkan untuk membuat robot silikon yang pastinya merogoh kocek kantong.
 


Program face swaping sederhana semacam deepfake ini bahkan sudah hadir dan viral belakangan ini. Face2Face atau Zao yang populer itu hadir dalam aplikasi smartphone untuk menciptakan video palsu. 

Salah satu artis yang turut bersuara mengenai bahaya deepfake adalah Scarlett Johansson. Salah satu video palsu yang mengatasnamakan dirinya yang disebut sebagai rekaman bocor itu, sudah ditonton hampir lebih dari 1,5 juta kali di situs porno besar. 

Menurut Scarlet orang yang rentan seperti wanita, anak-anak dan manula harus lebih berhati-hati untuk melindungi identintas dan konten pribadi mereka. Menurutnya seberapa ketatpun institusi atau perusahaan besar seperti Google membuat kebijakan terkait keamanan data "Hal itu tidak akan pernah berubah," kata Scarlett dalam wawancaranya dengan The Washington Post 

Orang-orang berpikir bahwa dalam menggunakan internet, mereka telah dilindungi oleh kata sandi. Namun tak pernah menduga kalau hal-hal sederhana seperti rekam wajah, sidik jari juga menjadi komoditas digital yang bisa dimanfaatkan pihak mana pun. Keamanan digital menjadi perhatian serius bagi masyarakat di era digital saat ini.
Bagikan :
Topik :

Reporter : Ramdan Febrian Arifin
Editor : Aditya Fajar
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU
Nasional
24 Januari 2020 20:32 WIB

What's On Today, 24 Januari 2020

Podcast berita terkini yang disajikan dengan cara berbeda
Lifestyle
24 Januari 2020 20:05 WIB

DJ Wilda Ngaku Jadi Calon Ibu Tiri Gempi, Pansos atau Fakta?

DJ Wilda mengaku miliki hubungan spesial dengan Gading Marten
Nasional
24 Januari 2020 19:42 WIB

Cuma Urusan Harun Masiku, Kemenkumham Harus Bentuk Tim Khusus

Cuma persoalan Harun ada dimana
Nasional
24 Januari 2020 18:20 WIB

Moeldoko Minta Masyarakat Jangan Halu Soal Jiwasraya

Enggak ada hubungannya dengan Istana