Sabtu, 24 Agustus 2019
Bareskrim Mabes Polri menggelar konferensi pers terkait kasus Novel Baswedan. (Diah/era.id)
17 Juli 2019 20:37 WIB

Alasan Tim Teknis Pengusutan Kasus Novel Baswedan Dibentuk

Apa bedanya sama tim pencari fakta yang sudah dibentuk? Simak penjelasannya
Bagikan :


Jakarta, era.id - Setelah selesai dengan tugasnya selama enam bulan, tim pencari fakta (TPF) kasus penyiraman air keras terhadap penyidik KPK, Novel Baswedan menyerahkan hasil analisanya. 

Sekarang, kepolisian akan melanjutkan penanganan kasus dengan membentuk tim teknis yang dipimpin oleh Kepala Bareskrim Polri Komjen Pol Idham Aziz. 

Lalu apa perbedaan antara tim pencari fakta dan tim teknis dalam mengusut kasus Novel Baswedan? Kadiv Humas Polri Muhammad Iqbal menjelaskan bahwa tim baru ini akan bekerja lebih dalam, mengingat tim yang sebelumnya yakni TPF memiliki keterbatasan akses dalam mengungkap pelaku. 

"Perbedaannya adalah lapis kemampuan. Setelah menerima rekomendasi dan mempelajari hasil analis TPF, Kapolri memutuskan harus ada lapis kemampuan. Maka, Kabareskrim ditunjuk untuk memilih tim terbaiknya dan segera melakukan upaya pengungkapan kasus penyiraman Novel," kata Iqbal di Gedung Awaloedin Djamin Bareskrim Mabes Polri, di Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (17/7/2019). 


Baca Juga : Enam Kasus Diduga Memicu Penyiraman Air Keras Novel Baswedan

Tim teknis ini, kata Iqbal akan dipersiapkan selama satu minggu. Tim ini oleh divisi yang lebih spesifik karena melibatkan satgas yang sangat profesional seperti tim investigator, tim lapangan, INAFIS, bahkan Densus 88 turut diturunkan.



Iqbal menambahkan tim teknis akan bekerja secara tertutup. Namun, dirinya tidak mau memaparkan lebih jauh bagaimana teknis tim tersebut menerapkan silent operation nantinya. 

"Kami akan lakukan upaya-upaya tertutup. Kami tidak bisa sampaikan di sini, karena akan ganggu upaya-upaya polisi nanti. Apapun rekomendasinya, kami paham publik ingin Polri cepat menangani ini, tapi kami butuh alat bukti yang tidak terbantahkan," ungkap dia. 

Anggota TPF, Hendardi menyatakan, bukannya tim Polda Metro Jaya dan TPF yang sebelumnya menangani kasus ini tidak bekerja secara maksimal. 

Tapi, setelah menganalisis, memeriksa 74 saksi, mewawancarai 40 orang, mengecek 38 CCTV yang melibatkan kepolisian negara luar, juga memeriksa 114 toko bahan kimia, mereka menyimpulkan bahwa kasus ini bukanlah masalah pribadi, melainkan ada aktor intelektual yang menyuruh pelaku untuk menyiram Novel. 

Terdapat kemungkinan dari kasus yang ditangani Novel berpotensi menimbulkan balas dendam akibat adanya dugaan penggunaan kewenangan secara berlebihan atau excessive use of power. 

TPF merinci bahwa 5 kasus di antaranya terkait kasus korupsi yang ditangani Novel sebagai penyidik KPK. Sementara, satu kasus lainnya hanya terkait dengan Novel. 

Satu, kasus e-KTP, kedua kasus mantan ketua MK Achil Mochtar (kasus daging sapi), ketiga kasus Sekjen Mahkamah Agung, keempat kasus Bupati Buwol, kelima kasus Wisma Atlet. Kasus keenam tidak dalam penanganan KPK, tetapi memiliki potensi yakni kasus burung walet di Bengkulu. 

"Ini bukan kasus yang tiba-tiba dari langit. ini kasus yang sebagian saksi-saksinya sudah coba kami interview tapi tentu kami punya keterbatasan waktu. Kalau nanti tim selanjutnya bisa kembangakan lebih jauh, itu tentu saja kita harapkan," tutur Hendardi. 

Hal lainnya, TPF merasa tim teknis ini nantinya bisa mengungkap pelaku berdasarkan CCTV yang terpasang di sekitar kediaman Novel di Kelapa Gading, karena mereka memiliki kendala dalam menganalisis di bagian ini. 

"Salah satu yang kami rekomendasikan adalah gunakan data jejak elektronik. kami upayakan gunakan teknologi yang bisa mengakap itu, tapi sejauh ini belum maksimal. Seandainya saja kalau CCTV kemarin agak terang, mungkin kasus ini tidak berkepanjangan," jelasnya. 
Bagikan :
Topik :

Reporter : Diah Ayu Wardani
Editor : Ahmad Sahroji
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU
megapolitan
24 Agustus 2019 17:35 WIB

Efek Medsos, Sentra Buku di Pasar Kenari Kembali Ramai

Medsos menunjukkan keajaibannya~
Lifestyle
24 Agustus 2019 16:44 WIB

Ada Deal Baru Disney-Sony Buat Spider-Man

 habis kongkow bareng sama Mr. Stark~
Lifestyle
24 Agustus 2019 15:25 WIB

VIDEO: Movie Update of the Week

Ada Film Angel Has Fallen dan Scary Stories to Tell in the Dark
Nasional
24 Agustus 2019 14:24 WIB

Mimpi Besar Gubernur Kaltara di PLTA Sungai Kayan

Dengan pengalaman dan pengetahuan, Irianto menyebut proyek ini berdampak baik bagi negara
megapolitan
24 Agustus 2019 13:56 WIB

Hidden Spot Belanja Buku di Tengah Ingar Bingar Jakarta

Adanya di Pasar Kenari ya gaes~