Rabu, 19 Februari 2020
Suasana Gunung Tangkuban Parahu yang diambil pada tahun 1911. (Foto: Commons Wikimedia)
06 November 2019 20:14 WIB

Mengetahui Asal Mula Penamaan Tangkuban Parahu Lewat Toponimi

Toponimi merupakan ilmu yang mempelajari tentang asal mula nama tempat atau daerah
Bagikan :


Bandung, era.id – Setiap daerah memiliki nama-nama tempat yang khas dengan kondisi alam dan budaya setempat. Begitu juga di Bandung, Jawa Barat. Sebut saja Gunung Tangkuban Parahu, yang dalam bahasa Indonesia berarti perahu terbalik.

Ilmu yang mempelajari tentang asal-usul nama tempat atau daerah disebut toponimi. Toponimi Tangkuban Parahu, kata pakar geografi T Bachtiar, berasal dari selatan Bandung, bukan dari utara ataupun daerah Subang.

Untuk diketahui, gunung yang tersohor hingga mancanegara tersebut berada di antara Kabupaten Subang dan Kabupaten Bandung Barat. T Bachtiar bilang, gunung yang terkenal dengan legenda Sangkuriang dan Dayang Sumbi ini dari wilayah selatan Bandung terlihat seperti perahu terbalik atau tengkurap.

"Tangkuban Parahu dilihat dari selatan Bandung seperti tangkuban parahu (perahu terbalik). Pada zaman kolonial, gunung ini menjadi poros pembangunan. Misalnya Gedung Sate dibangun menghadap Gunung Tangkuban Parahu, juga gedung wali kota," terang T Bachtiar, dalam acara bedah buku Toponimi SUSUR Galur Nama Tempat di Jawa Barat, di sela Soemardja Book Fair di Kampus Institut Teknologi Bandung (ITB), Kamis (6/11/2019).


Baca Juga : Kembalinya 1.500 Objek Bersejarah dari Museum di Belanda


Diskusi buku Toponimi SUSUR Galur Nama Tempat di Jawa Barat, di ITB. (Iman Herdiana/era.id)

Gunung Tangkuban Parahu dari arah utara seperti Subang tidak akan terlihat seperti perahu terbalik. Karena itulah, gunung tersebut tidak mungkin dinamai warga Subang sebagai Tangkuban Parahu. Beda dengan dilihat dari Bandung di mana gunung tersebut persis seperti perahu terbalik.

Bachtiar menegaskan, penulisan gunung api aktif tersebut harus ditulis apa adanya, yakni dalam bahasa Sunda "Tangkuban Parahu", bukan "Tangkuban Perahu" atau "Tangkauban Prau". Sebab, nama Gunung Tangkuban Parahu sudah ditulis di peta sejarah dengan nama Gunung Tangkuban Parahu.

Menurut Bachtiar, gunung Tangkuban Parahu merupakan sisa gunung purba Sunda. Letusan gunung Sunda kemudian melahirkan gugusan gunung, salah satunya Gunung Tangkuban Parahu, kemudian Gunung Burangrang, Gunung Putri, Bukit Tunggul, dan lain-lain.

Selain itu, dia juga menyinggung mitos Sangkuriang dan Dayang Sumbi. Awalnya ia mengira mitos tersebut diciptakan kolonial Belanda. Namun setelah menelusuri literaturnya, mitos percintaan terlarang ibu dan anak itu sudah ada sejak perjalanan Bujangga Manik, seorang resi dari kerajaan Sunda (Pakuan-Padjadjaran) yang melakukan perjalanan mengelilingi Pulau Jawa-Bali.


Suasana Kawah Ratu Gunung Tangkuban Parahu yang diambil pada tahun 1860. (Foto: Commons Wikimedia)

Dalam perjalanannya, Bujangga Manik melewati bukit yang disebut Patenggeng. Dari situ ditemukan bahwa dongeng Sangkuriang sudah populer. "Mitos Sangkuriang sudah populer saat zaman Bujangga Manik," katanya.

Bujangga Manik merupakan penulis naskah Bujangga Manik yang menjadi koleksi Perpustakaan Bodleian, Oxford, Inggris. Naskah ini diperkirakan ditulis pada akhir abad ke-14, sebelum kedatangan Belanda ke Nusantara.
Bagikan :

Reporter : Iman Herdiana
Editor : Ahmad Sahroji
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU
megapolitan
19 Februari 2020 16:25 WIB

VIDEO: Dituduh Culik Anak, Wanita Ini Minta Bantuan Komnas PA

Dia mengaku mendapat wasiat dari mendiang ayah sang anak
Lifestyle
19 Februari 2020 16:03 WIB

Mantan Anggota One Directions Dirampok

Ia ditodong dengan pisau saat sedang berada di Hampstead, London
Ekonomi
19 Februari 2020 15:26 WIB

Gara-Gara Korona, Apple Rugi Rp400 Triliunan

Produksi mandek
Nasional
19 Februari 2020 15:15 WIB

Soal Ustaz Bangun Samudra: Jangan Mau Dibohongi Pakai 'Lulusan S3 Vatikan'

Warganet menyebut bahwa apa yang dilakukan Ustaz Bangun adalah penipuan
Internasional
19 Februari 2020 15:08 WIB

Cerita Penumpang Diamond Princess 14 Hari Dikarantina di Atas Kapal

Makan nasi kotak saat Valentine