Senin, 14 Oktober 2019
Mobil pangan umat milik Food Bank Indonesia (Wardhany/era.id)
09 Oktober 2019 11:57 WIB

Bank Sampah Pangan untuk Kemerdekaan Perut Kaum Papa

Habiskan makananmu dan jangan bersisa!
Bagikan :
Jakarta, era.id - Sampah makanan mungkin seringkali jadi isu yang terlewatkan oleh publik. Buktinya, beberapa di antara kita, pasti masih ada yang menyisakan makanannya di piring ataupun membelanjakan uang hingga ratusan ribu untuk bahan makanan. Ujungnya, bahan makanan itu tidak termasak dan membusuk di kulkas.

Padahal, sisa makanan atau food waste bisa menjadi salah satu faktor yang berkontribusi pada krisis iklim karena menciptakan gas metana yang merupakan gas rumah kaca yang lebih berdampak bagi perubahan iklim, dibanding gas karbon dioksida (CO2).

Menurut The Economist, di tahun 2016-2017 negara kita menjadi salah satu penghasil sampah makanan terbesar setelah Arab Saudi. Tercatat, 13 juta ton sampah makanan yang dihasilkan namun mirisnya masih banyak masyarakat yang ternyata sulit mendapatkan makanan.

Berangkat dari fakta tersebut, muncul ide pembentukan Foodbank Of Indonesia atau Bank Sampah Pangan Indonesia. Mereka ingin memerdekakan kaum papa dari kelaparan dengan memanfaat sisa dari kelebihan makanan dari masyarakat.


Papan nama FOI (Wardhany/era.id)

Tim era.id berkesempatan bertemu dengan Wida Septarina yang merupakan Presiden Yayasan Foodbank Of Indonesia (FOI) di markas mereka, di Jalan Abdul Majid Dalam, Cipete, Jakarta Selatan. Kami mendapatkan banyak cerita tentang pemanfaatan sisa makanan ini.

Wida, menyambut kami ramah saat kami tiba di rumah dengan dua lantai dan berkelir putih. Di ruang tengah lantai satu ini, ada tumpukan kardus berisi makanan yang telah disortir untuk didonasikan, serta tumpukan rak berisi susu bubuk. Sementara, sejumlah lukisan terpasang di tembok lantai tersebut. Lalu, ada meja yang dihiasi sejumlah penghargaan untuk organisasi ini. 

Kami mengobrol dengan Wida di lantai dua, di sebuah ruang yang biasanya digunakan untuk rapat. Dengan penuh semangat dan sesekali diikuti gerakan tangan, wanita yang juga bekerja sebagai dosen ini menceritakan awal organisasi ini dibentuk.

Gerakan ini berangkat dari kenyataan Indonesia adalah negara besar yang punya banyak potensi sumber daya alam tapi masih ada penduduknya yang kelaparan. Serta, kenyataan Indonesia sebagai negara penghasil sampah makanan terbesar kedua di dunia. 

"Saya bahkan lihat ada anak yang mengumpulkan tulang ayam sisa. Begitu tutup mall dia cari itu (makanan sisa). Ada di kota-kota, jadi dia cari dari (sisa) makanan fastfood. Dia cari dan dia makan. Itu kan pemandangan yang biasa kita lihat. Padahal kita sudah 74 tahun merdeka, tapi masih ada yang begitu. Itu kan menyedihkan," kata Wida sambil tersenyum miris, Selasa (8/10/2019).


Kardus donasi makanan FOI (Wardhany/era.id)

Dia mendirikan organisasi ini bersama beberapa temannya. Organisasi ini terbentuk pada 10 November 2015. Mereka bertugas untuk untuk membantu kaum papa mencukupi kebutuhan pangan mereka. 

Ada beberapa program yang FOI untuk membantu pangan masyarakat tidak mampu. Pertama, program Mentari Bangsaku yang fokusnya untuk anak Pendidikan Anak Usia Dini (Paud) dan SD. Program ini ada, karena berdasarkan hasil survei mereka di wilayah Jabodetabek ada 50 persen anak-anak yang tidak sarapan ketika berangkat ke sekolah.

"Perut kosong itu membuat orang enggak konsentrasi. ... Makanya kebayang anak-anak itu gimana. Apalagi saya seorang ibu, jadi merasa penting banget anak saya harus makan setiap pagi tapi kenapa mereka tidak," ujar dia.

Program ini dilakukan dengan membagikan makanan cara membagikan makanan ke sekolah-sekolah yang lingkungannya perlu dibantu. 

Selain itu, ada program Sayap dari Ibu. Program ini fokus membantu ibu dengan anak di usia balita. Sama dengan program sebelumnya, dengan menerapkan sistem makan bersama di satu tempat bersama para penerima bantuan, dengan harapan program ini bisa mengurangi angka stunting. 

Selanjutnya ada program pos pangan yang peruntukannya adalah mereka lansia yang tidak mampu. Terakhir, program RED atau Respon of Emergency Disaster.


Wida Septarina Presiden FOI (Wardhany/era.id)

Meski diniatkan untuk memberi bantuan pangan saat bencana, relawan FOI yang terjun di program RED turut membantu rehabilitasi bangunan yang rusak akibat bencana alam. Tim mereka seringkali turun saat terjadi bencana besar seperti saat gempa di Lombok dan Palu.

"Jadi tugas utama FOI adalah menjembatani pihak berkelebihan dengan yang kekurangan. Gimana caranya? Ini makanan kita dapatkan dari mana-mana, manufactured --pabrik produksi makanan--, pertanian, semisal orang berlebih kemudian disumbang untuk kita," jelas Wida.

Selama empat tahun berdiri, FOI tidak hanya bergerak di Jakarta tapi juga bergerak di beberapa wilayah lainnya seperti Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, dan Nusa Tenggara Barat.

Donasi sisa makanan

Makanan yang didistribusikan FOI didapat dari berbagai sumber. Semisal seperti acara pesta di hotel yang makanannya berlebih, dari supermarket, ataupun dari masyarakat yang memang memasak berlebihan kemudian tak mau makanannya terbuang sia-sia.

Ketika menerima donasi makanan dalam bentuk makanan jadi, tim relawan bakal melakukan pengecekan, apakah makanan ini layak untuk disumbangkan atau tidak. 

Siapapun yang ingin menyumbangkan kelebihan makanan atau bahan makanan bisa saja langsung dikirimkan ke markas FOI. Namun, jika tak ada kendaraan relawannya yang kemudian bakal mengambil makanan tersebut dari para donaturnya.

Kemudian, makanan yang diterima ini dibekukan supaya awet dan tidak berbau. Nantinya saat akan dibagikan lewat pos pangan, makanan yang sudah dibekukan ini bakal dicairkan dan diolah sedemikian rupa.

"Rasanya sama kok, saya sendiri coba makanan yang dari hotel yang kemudian dibekukan, dicairkan. Itu tidak mengurangi rasa atau kualitas dari rasa," kata dia.


Kardus donasi makanan FOI (Wardhany/era.id)

Sedangkan untuk makanan atau minuman yang belum siap saji, seperti yang berasal dari supermarket atau minimarket, biasanya makanan tersebut akan disortir untuk melihat tanggal kedaluwarsanya, kemudian dikelompokkan calon penerimanya.

Dari hasil penyortiran ini, Wida menerangkan, makanan yang tak bisa dimakan manusia akan diberikan ke peternak untuk dijadikan pakan. 

Karenanya, FOI memastikan makanan yang sampai ke mereka yang membutuhkan adalah makanan yang bergizi dan berkualitas.

Wida menambahkan, seluruh relawannya dibekali kemampuan melakukan pengecekan mutu makanan. Mereka juga mendapatkan pelatihan agar bisa membedakan makanan yang baik dan masih layak.

"Semua relawan sudah dilatih dengan training mengenali makanan. Salah satunya melakukan QC dengan makanan itu, dari bau, tekstur, rasa semua dicoba. Sebelum kita kasih, kita coba, kalau kita enggak mau makan, masa kita kasih ke orang. Karena kita belum punya metode lab yang bisa memadai," ujarnya sambil tersenyum.

Kebutuhan regulasi pengelolaan sisa makanan

Di sejumlah negara, urusan pengelolaan sisa makanan dibuatkan regulasinya. Jadi, setiap swalayan memberikan makanan lebihnya ke bank pangan. Regulasi ini yang di Indonesia belum ada.

"Kami sudah berkali-kali diundang buat jadi pembicara di Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) dan Kementerian Pertanian karena di sana ada satu divisi juga soal food waste. Tapi memang pemerintah belum punya visi ke sana karena memang ini butuh waktu dan tidak mudah untuk mengedukasi orang bahwa ini adalah hal yang perlu kita lakukan," imbuhnya.

Di beberapa negara Asia, program bank pangan seperti FOI mendapatkan perhatian dari pemerintah karena dianggap mampu mengurangi sisa makanan. Salah satu negara tetangga yang mulai menggalakkan bank pangan adalah Malaysia.

"Saya sudah ngobrol dengan beberapa pihak dari luar negeri seperti Kementerian Perdagangan Malaysia. Itu deputinya datang dan presentasi. Kemudian dia bilang, kalau di sana support pemerintahnya besar yang mengadakan malah pemerintahnya," ujar dia.

Karenanya, dia berharap Indonesia punya regulasi yang mengatur pengelolaan makanan agar makin banyak retail makanan yang mau memberikan produk yang tak layak jual namun masih bisa dimakan untuk diolah kembali.


Donasi makanan FOI (Wardhany/era.id)

Kurangi makanan bersisa

Sebelum menutup obrolan, Wida memberikan tips dan trik untuk mengurangi makanan sisa. Wida bilang, sebelum berbelanja kita harus mencatat makanan atau bahan makanan apa saja yang kita butuhkan. Jangan sampai, saat belanja kita hanya lapar mata dan makanan yang dibeli itu jadi terbuang.

"Kalau belanja ya bikin list, daftar, sehingga orang belanja yang diperlukan bukan yang dia lihat, dia beli. Kan ibu-ibu lihat ini itu ingin beli, lapar mata. Ujungnya, boleh tanya deh, berapa persen yang terbuang dari kulkasnya? Tidak termasak selama seminggu, tidak terolah akhirnya layu dia tak mau masak, dia buang," katanya.

Padahal, makanan yang layu ini masih bisa diolah selama tidak busuk. Dari pengalamannya, Wida sering membuat smoothies atau jus dari buah-buahan yang layu atau terlalu matang namun belum busuk.

"Sayur layu, dan buah layu saya sering, saya bikin smoothies enak juga kok," ujarnya.

Tak hanya sayur dan buah, nasi sisa kemarin pun bisa diolah lagi jadi makanan lain seperti nasi goreng. 

Di dalam keluarganya, Wida selalu mengajarkan anaknya untuk selalu menghabiskan makanan yang ada di piring makannya. Dia juga kerap kesal ketika melihat ada orang yang tak menghabiskan makanannya.

"Rasanya ingin saya bungkus saja. Saya bilang, untuk peliharaan di rumah. Tapi, ya enggak enak saja sama orang restorannya," cerita Wida sambil tertawa.

Selain itu, dia juga bilang, sisa makanan yang sudah membusuk bisa juga dijadikan sebagai pupuk kompos, terutama sisa buah-buahan. 

Karenanya, jika diolah dengan baik, tak akan ada makanan yang terbuang.

Dia sadar, sampah makanan bisa berbahaya bagi lingkungan karena gas metananya. Hanya saja, FOI belum fokus ke sana. Sebab, yang terpenting saat ini adalah edukasi bagi masyarakat agar jangan ada makanan yang tersisa di atas piring mereka. 

"Kita belum fokus ke sana karena kita memikirkan masyarakat yang butuh makan tadi. Jadi kita sambil jalan saja," tutupnya menyudahi pembicaraan.
Bagikan :
Topik :

Reporter : Wardhany Tsa Tsia
Editor : Bagus Santosa
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU
Internasional
14 Oktober 2019 12:05 WIB

Mal di Hong Kong Jadi Arena Bentrokan Aparat Vs Demonstran

Orang-orang yang sedang berbelanja berteriak-teriak ketakutan dan beberapa luka-luka
Lifestyle
14 Oktober 2019 11:35 WIB

Kebangkitan Club Eighties dalam Cahaya

Tetap dengan pop synthesizer yang dibalut gaya sound kekinian
Nasional
14 Oktober 2019 11:20 WIB

Upaya Mengawal Istri Kolonel Hendi dari UU ITE

Sebanyak 52 pengacara menyatakan siap mendampingi istri Hendi, Irma Zulkifli Nasution
Nasional
14 Oktober 2019 11:17 WIB

Demokrat-Gerindra Sudah Diajak Ngobrol Jokowi, PAN-PKS Kapan?

Siap jadi mitra dan oposisi
Internasional
14 Oktober 2019 11:07 WIB

Serangan Udara Turki ke Suriah Tewaskan 14 Orang

Lima orang di antaranya adalah warga sipil