Jumat, 03 April 2020
Stensil karya Enny Arrow. (Foto: Istimewa)
12 Desember 2019 17:00 WIB

Misteri Enny Arrow dan 'Nenek Moyang' Konten Porno di Indonesia

Dahulu kala, orang menikmati konten porno dengan mengandalkan imajinasi lewat bacaan
Bagikan :


Jakarta, era.id - Jauh sebelum penikmat konten pornografi di Tanah Air mengenal VCD/DVD ataupun website blue film, dahulu kala orang-orang menikmati konten erotis itu dengan mengandalkan imajinasi lewat bacaan. Salah satu maestronya tak lain adalah Enny Arrow.

Cerita atau novel tersebut beredar pada era 1970-an. Bentuknya masih berupa buku saku yang dicetak dengan menggunakan kertas stensil. Itulah asal-usul kenapa tulisan bergenre erotis sering disebut cerita stensilan.

Karena masih dianggap tabu, penulis stensilan kebanyakan menggunakan nama palsu. Tak terkecuali Enny Arrow. Kendati demikian, saking khasnya gaya tulisan Enny Arrow orang-orang bisa membedakan mana tulisan asli dan palsu.

Seperti dilansir sejarahjakarta.com, dulu, untuk mendapatkan novel stensilan ada cara khusus. Biasanya penjual akan menawarkan kepada pembeli sambil berbisik dan menggunakan istilah yang telah diketahui bersama. 


Baca Juga : Situs Porno Sediakan Akun Premium Gratis untuk Korban COVID-19, Mau?

Jika minat sudah tertambat, pembeli langsung menawar. Setelah mufakat, penjual akan memasukan novel itu ke dalam bagian tengah buku komik atau majalah murahan dan menyerahkan kepada pembeli. Cara itu dilakukan sebab ada kekhawatiran buku jenis itu dilarang beredar oleh pihak kepolisian.

Siapa Enny Arrow?

Enny Arrow meraih puncak popularitasnya pada 1970-1980an. Kendati terkenal, namun itu hanyalah nama penanya saja, sosok aslinya tak diketahui hingga kini. Setiap stensilan mesum itu terbit, hanya dicantumkan nama Enny Arrow di sampulnya, yang bergambar perempuan dengan berbagai pose vulgar. Jangankan penulisnya, penerbitnya saja Penerbit Mawar tak tahu di mana alamatnya.

Ada versi yang bilang kalau Enny Arrow punya nama asli Enny Sukaesih Probowidagdo. Melansir tempo.co, Enny adalah perempuan yang lahir di Hambalang Bogor, Jawa Barat, pada 1924.

Dulunya Enny bekerja di toko usaha jahit "Arrow" di kawasan Kalimalang, Jakarta Timur. Entah bagaimana ceritanya, Enny kemudian menulis novel pertamanya berjudul Sendja Merah di Pelabuhan Djakarta pada 1965. Kemudian ia kabur ke Filipina dan Hong Kong serta tinggal di Seattle, Amerika Serikat, pada April 1967.

Di Amerika, Enny belajar penulisan kreatif gaya sastrawan dan peraih Hadiah Nobel John Steinbeck. Setelah menemukan gaya menulis Steinbeck, ia mencoba menulis untuk beberapa koran terkenal di Amerika. Salah satunya cerita berseri berjudul Mirror Mirror.

Sekembalinya ke Jakarta pada 1974, Enny bekerja sebagai copywriter di salah satu perusahaan asing. Setelah itu, ia kembali menulis. Kendati demikian, cerita itu belum jelas sumbernya dari mana. Cerita yang dikutip tempo itu juga dikutip Sunardian Wirodono dalam tulisannya "Enny Arrow, Pejuang, Pendidik, Generasi Bangsa" (2015).

Konten porno di era Hindia Belanda

Mundur lagi ke belakang, pada tahun 1940–1950an, para remaja mengenal cerita Chin Ping Mei yang berupa saduran, baik dari bahasa Inggris dan bahasa Cina. Cerita itu sempat diterjemahkan diam-diam ke dalam bahasa Belanda. Cerita tersebut terbilang berani menampilkan adegan yang dianggap tabu untuk dituliskan kala itu.

Selain Chin Ping Mei, ada juga Serial Les Hitam yang condong ke konten pornografi. Mungkin sebagian orang tua kita yang bukan dari keluarga puritan dapat ditanya tentang kedua cerita tersebut, siapa tahu mereka masih ingat. Kehadiran bacaan jenis itu sebenarnya merupakan suatu kenyataan. Namun, sebagian masyarakat yang anti-pornografi menafikan keberadaannya.

Kehadiran komik porno kala itu juga sempat dibabat oleh pihak kepolisian. Bahkan ada operasi pembakaran khusus untuknya. Adapun novel stensilan tetap bergerilya di laci sekolah, tas remaja, dan di emperan (trotoar).

Baru kemudian pada 1970-an berkembang bacaan populer dalam bentuk komik. Selain muncul komik yang baik, sebagian muncul juga komik nakal yang cenderung cabul dengan menampilkan berbagai gambar syur. Umumnya gambar cabul itu muncul di komik jenis percintaan remaja dan di sebagian cerita silat.

Komikus yang terkenal dengan gambar hotnya adalah Budianto dan Budiayin yang spesial membuat komik percintaan remaja. Adapun komik silat buatan Djair dan Tatang S juga sudah mengarah ke pornografi.
Bagikan :
Topik :

Reporter : Ramdan Febrian Arifin
Editor : Ahmad Sahroji
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU
Nasional
02 April 2020 21:07 WIB

2,6 Juta Pekerja Informal Bakal Dapat Bantuan

Paket sembako
 
Nasional
02 April 2020 21:01 WIB

What's On Today, 2 April 2020

Podcast berita Indonesia terkini yang disajikan dengan cara berbeda
Lifestyle
02 April 2020 20:56 WIB

Kisah Kasus Pembunuhan Keluarga Paling Tidak Masuk Akal di Korea

Ibu dan anak sulung membunuh si bungsu
Nusantara
02 April 2020 20:19 WIB

COVID-19 'Incar' Lansia di Jawa Barat

Mayoritas pasien di RSHS lansia
Nasional
02 April 2020 19:50 WIB

Terawan yang Akhirnya Nongol di Rapat DPR

Absen sekian lama