Senin, 25 Maret 2019
Ilustrasi (Pixabay)
12 Maret 2019 17:45 WIB

Menyoal 'Kita' yang Malas Jalan Kaki

Kita, berarti aku, kamu, mereka, dan seluruh masyarakat di negara Indonesia tertjinta~
Bagikan :


Jakarta, era.id - Biasa, kamu semua pasti sering mengalami, sedang asyik-asyiknya nonton video di YouTube, eh tiba-tiba disela iklan. Tapi, bagaimana lagi. Siapa yang bisa melawan algoritma. Lagipula, eureka momen tulisan ini akhirnya pun muncul. Berkat iklan Toyota, kami tergugah melihat kenapa orang Indonesia malas jalan kaki.

Jadi, dalam iklan itu, terlihat seorang wanita memakai blazer berwarna silver sedang naik segway --alat transportasi roda dua-- di dalam sebuah gedung yang terlihat seperti mal. Adegan lihainya dia mengendarai segway melenggak lenggok mengitari mal, seolah ingin memperlihatkan begitu mudahnya menggunakan alat tersebut. 

Alat itu seolah menjanjikan kita solusi dari kelelahan diri ketika kita sedang jalan-jalan, belanja, atau sekadar window shopping di sebuah pusat perbelanjaan. Ya, singkat cerita, kami jadi berpikir: apa negara +62 ini jadinya enggak makin malas soal urusan jalan kaki kalau di dalam mal saja, kaki kita masih dimanjakan dengan alat macam itu?

Bukannya sok sehat, tapi malasnya seseorang untuk berjalan kaki bukan tidak mungkin menimbulkan kerugian untuk diri sendiri. Pasalnya, menurut penelitian dari Universitas Stanford, masyarakat Indonesia berada di urutan pertama untuk urusan kemalasan berjalan kaki.

Penelitian yang dipublikasikan di Journal Nature pada Juli 2017 itu dibuat dengan menggunakan data smartphone untuk melacak aktivitas fisik yang dilakukan lebih dari 700.000 orang di 111 negara. Sayangnya, Indonesia jadi negara paling malas dalam soal jalan kaki. Sementara, kebalikannya, yang paling aktif jalan kaki adalah negara China. 

Dari penelitian itu terungkap rata-rata masyarakat Indonesia jalan kaki hanya 3.513 langkah, atau sekitar 2,5 kilometer setiap harinya. Sementara China tercatat hampir dua kali lebih banyak rata-ratanya yang mencapai 6.189 langkah atau sekitar 4,8 kilometer setiap hari. 

Ini bukan gambar penulis kami, cuma ilustrasi dari Pixabay

Alasan-alasan Malas Jalan

Indonesia menjadi negara paling malas berjalan tentu bukan tanpa alasan. Secara empiris saja kita bisa menemukan sendiri alasan-alasan mengapa kita begitu malas jalan kaki, apalagi bagi orang yang tinggal di kota-kota besar dan padat penduduknya. 

Pertama, mulai dari pertama kali keluar rumah untuk bekerja atau pergi ke sekolah, dengan berkembangnya zaman yang serba online-online ini, mau enggak mau kita dimanjakan. Bayangkan, apa yang lebih praktis dari layanan ojek online masa kini? 

Namun, mereka yang lebih memilih untuk naik kendaraan pribadi ketimbang alat tranportasi publik juga punya alasan kuat. Pertama, ada kemungkinan gengsi yang bicara di sini. Kedua, kebiasaan enggak mau ribet, tentu saja. Ketiga, karena masyarakat Indonesia yang penyabar alias kuat bertahan dalam kemacetan yang mereka sebabkan sendiri. Terakhir, tentu saja karena akses transportasi publik yang masih terbatas.

Kemudian, alasan lain kenapa orang Indonesia malas jalan kaki adalah karena tempat jalannya --trotoar-- enggak ada. Karena seperti kita lihat di beberapa tempat, enggak sedikit trotoar yang dialihfungsi secara enggak tahu diri.


Baca Juga : Mengenal Wisata Edukasi di RS Mata Cicendo

Akibat Malas Jalan

Kurang rajinnya masyarakat Indonesia dalam soal jalan kaki, bukan tanpa akibat. Karena masih menurut penelitian yang dijelaskan di awal, rendahnya aktivitas jalan dapat meningkatkan risiko obesitas. 

Dari penelitian itu juga mengungkap jarak perbandingan orang yang aktif berjalan dengan orang yang tidak aktif berjalan, yang disebut sebagai "ketidakseimbangan aktivitas."  Hal tersebut penting untuk dikulik karena ada kaitannya dengan tingkat obesitas. Jadi, semakin jauh perbedaan orang yang aktif berjalan dengan yang tidak dalam satu negara, maka semakin tinggi tingkat obesitasnya. Begitu juga sebaliknya.

Pada persoalan obesitas, masyarakat Indonesia masih menunjukan rapor merah. Apabila melihat data penelitian kesehatan dasar Riskesdas tahun 2018 tingkat obesitas warga Indonesia masih tinggi. Data dari Kementerian Kesehatan itu menunjukan bahwa tingkat obesitas pada orang dewasa di Indonesia meningkat menjadi 21,8 persen. 

Prevalensi ini meningkat dari hasil Riskesdas 2013 yang menyebut bahwa angka obesitas di Indonesia hanya mencapai 14,8 persen. Obesitas sendiri mengacu pada kondisi di mana indeks massa tubuh diatas 27. Begitu juga dengan prevalensi berat badan berlebih dengan indeks massa tubuh antara 25 hingga 27, juga meningkat dari 11,5 persen di 2013 ke 13,6 persen di 2018.

Selain itu prevalensi obesitas sentral alias perut buncit di kalangan masyarakat Indonesia juga meningkat. Jika pada 2013 angka obesitas sentral hanya mencapai 26,6 persen, maka di 2018 ini jumlahnya meningkat menjadi 31 persen. Lagi-lagi daerah dengan prevalensi perut buncit tertinggi berada di Sulawesi Utara dan DKI Jakarta.

Penulis kami juga belum berkeluarga, jadi ini bukan gambar dia, cuma ilustrasi dari Pixabay

Bagikan :

Reporter : Ramdan Febrian Arifin
Editor : Yudhistira Dwi Putra
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU
Nasional
25 Maret 2019 17:13 WIB

Klarifikasi Isu PKI Kunci Jokowi Pengaruhi Swing Voters

Sebab swing voters adalah koentji~
Nasional
25 Maret 2019 16:46 WIB

VIDEO: Mahfud MD Datangi KPK Alasannya Mau Ngopi

Beneran nih cuma ngopi doang?
Lifestyle
25 Maret 2019 16:21 WIB

Eros Djarot Rilis Dua Single Bertema Politik

Terinspirasi kondisi panas menjelang pemilu dan korupsi berjamaah para elite politik
Nasional
25 Maret 2019 15:43 WIB

VIDEO: Presiden Jokowi Resmikan MRT Jakarta

Selain itu, dia juga meresmikan pembangunan MRT Jakarta fase kedua Bundaran HI sampai Kota
Lifestyle
25 Maret 2019 15:36 WIB

Ulasan Us-Alegori Mengagumkan dari Horor Bergaya Klasik

Watch the details, son!