Senin, 20 Agustus 2018
Ilustrasi (Pixabay)
16 Mei 2018 17:46 WIB

Seluk-beluk Rekrutmen Teroris di Indonesia

Nah lho, siapapun berpotensi jadi teroris
Bagikan :


Jakarta, era.id - Berkembang dan teroganisirnya kelompok teroris di Indonesia tak lepas dari proses rekrutmen yang apik. Pengamat terorisme, Haris Abu Ulya menyebut, kelompok teroris lebih mengutamakan rekrutmen dari lingkungan keluarga, rekan bisnis, dan hubungan persahabatan, ketimbang mencari orang asing.

Perekrutan diawali dengan penanaman ideologi kepada calon teroris melalui interaksi tatap muka. Belakangan penyebaran ideologi juga dilakukan melalui media sosial. Namun, hal itu jarang terjadi karena rentan terdeteksi.

"Kalau secara terbuka dengan model pertemuan dan pemberian kajian, mereka sudah tidak bisa melakukan itu lagi sekarang," kata Haris kepada era.id, Rabu (16/5/2018).

Haris menambahkan, dalam perekrutan anggota baru, organisasi teroris tidak memberi kelas antara orang berpendidikan dan tidak. Semua golongan bisa dibentuk menjadi teroris.


Baca Juga : BNPT: Buktikan Indonesia Mampu Menanggulangi Teroris

Baca Juga : Surat Ancaman Teroris yang Tewas di Mapolda Riau


(Infografis/era.id)

Terorisme yang terjadi saat ini, lanjut dia, memiliki perbedaan afiliasi--visi dan tujuan--dengan terorisme yang terjadi saat bom Bali tahun 2005. Pada 2005 lalu, kelompok teroris berafiliasi dengan kelompok Al-Qaeda di Irak, sedangkan saat ini lebih mengarah pada kelompok radikal ISIS di Suriah.

Baca Juga : Mengawal Kelanjutan Hidup Anak-anak Pelaku Teror

Haris menyebut, kelompok Al-Qaeda lebih menyasar pada Amerika Serikat (AS) sebagai musuh utama. Sedangkan ISIS memerangi semua kalangan, karena tujuannya adalah mendirikan negara Islam. Meski demikian, Haris membantah jika aksi terorisme berkaitan dengan agama tertentu.

Mengenai metode perekrutan, baik terorisme era Amrozi Cs--pelaku bom Bali--dengan kelompok teroris yang berkembang saat ini tidak memiliki perbedaan berarti.

"Perekrutan sama saja. Namanya gerakan bawah tanah perekrutannya sama, pendekatan personal, kawan, keluarga, dan lain-lain," ucap Haris.

Baca Juga : Ironi Pelibatan Satu Keluarga dalam Serangan Bom Surabaya


(Ilustrasi/era.id)

Baca Juga : Fakta yang Terungkap dari Bom Surabaya

Dalam melaksanakan perekrutan, organisasi teroris menjual gagasan dan argumentasi untuk menarik hati calon target. Jika targernya muslim, maka pendoktrinan akan mengambil ayat-ayat Alquran yang sudah mereka tafsirkan sesuka hati.

"Yang salah itu bukan ayatnya, tapi teks-teks yang sudah ditafsirkan untuk disusupi ke target," kata Haris.

Mengenai aksi bom bunuh diri yang terjadi di Surabaya dilakukan oleh Ketua JAD Surabaya, Haris meyakini tidak ada ketentuan jika senior dalam organisasi tersebut yang harus melakukan aksi bunuh diri. Pemilihan bomber atau pengantin (sebutan untuk bomber) tergantung tingkat keyakinan pengikut organisasi tersebut, bukan senioritas.
 
Bagikan :
Topik :

Reporter : Leo Dwi Jatmiko
Editor : Ahmad Sahroji
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU
Peristiwa
20 Agustus 2018 12:46 WIB

Tak Datang ke Bawaslu, Andi Arief ada di Bali

Dia siap hadir kalau pemeriksaannya dijadwal ulang
Nasional
20 Agustus 2018 12:42 WIB

Ketua Tim Kampanye Jokowi-Ma'ruf Masih Rahasia

Serius, nih? Pendaftaran tim kampanye tinggal satu jam lagi, lho!
Nasional
20 Agustus 2018 12:06 WIB

Ada Komunikasi Tak Sampai di Internal Prabowo-Sandiaga

Karena Prabowo berpesan jangan kritik Asian Games, eh malah ada yang ngkritik
Ekonomi
20 Agustus 2018 11:31 WIB

Pidato Ketua MPR Dikuliti Habis Sri Mulyani

44 persen utang, ada andil pemerintahan sebelumnya dan Zulkifli ada di kabinet  …
Peristiwa
20 Agustus 2018 10:21 WIB

Bawaslu Panggil Andi Arief Kasus Mahar Sandiaga

Dalam kasus ini ada tiga orang yang diperiksa hari ini, salah satunya Andi Arief