Kamis, 24 Januari 2019
Ilustrasi (Pixabay)
16 Mei 2018 17:46 WIB

Seluk-beluk Rekrutmen Teroris di Indonesia

Nah lho, siapapun berpotensi jadi teroris
Bagikan :


Jakarta, era.id - Berkembang dan teroganisirnya kelompok teroris di Indonesia tak lepas dari proses rekrutmen yang apik. Pengamat terorisme, Haris Abu Ulya menyebut, kelompok teroris lebih mengutamakan rekrutmen dari lingkungan keluarga, rekan bisnis, dan hubungan persahabatan, ketimbang mencari orang asing.

Perekrutan diawali dengan penanaman ideologi kepada calon teroris melalui interaksi tatap muka. Belakangan penyebaran ideologi juga dilakukan melalui media sosial. Namun, hal itu jarang terjadi karena rentan terdeteksi.

"Kalau secara terbuka dengan model pertemuan dan pemberian kajian, mereka sudah tidak bisa melakukan itu lagi sekarang," kata Haris kepada era.id, Rabu (16/5/2018).

Haris menambahkan, dalam perekrutan anggota baru, organisasi teroris tidak memberi kelas antara orang berpendidikan dan tidak. Semua golongan bisa dibentuk menjadi teroris.


Baca Juga : Pembebasan Ba'asyir Disebut Fadli Zon Manuver Politik Jokowi

Baca Juga : Surat Ancaman Teroris yang Tewas di Mapolda Riau


(Infografis/era.id)

Terorisme yang terjadi saat ini, lanjut dia, memiliki perbedaan afiliasi--visi dan tujuan--dengan terorisme yang terjadi saat bom Bali tahun 2005. Pada 2005 lalu, kelompok teroris berafiliasi dengan kelompok Al-Qaeda di Irak, sedangkan saat ini lebih mengarah pada kelompok radikal ISIS di Suriah.

Baca Juga : Mengawal Kelanjutan Hidup Anak-anak Pelaku Teror

Haris menyebut, kelompok Al-Qaeda lebih menyasar pada Amerika Serikat (AS) sebagai musuh utama. Sedangkan ISIS memerangi semua kalangan, karena tujuannya adalah mendirikan negara Islam. Meski demikian, Haris membantah jika aksi terorisme berkaitan dengan agama tertentu.

Mengenai metode perekrutan, baik terorisme era Amrozi Cs--pelaku bom Bali--dengan kelompok teroris yang berkembang saat ini tidak memiliki perbedaan berarti.

"Perekrutan sama saja. Namanya gerakan bawah tanah perekrutannya sama, pendekatan personal, kawan, keluarga, dan lain-lain," ucap Haris.

Baca Juga : Ironi Pelibatan Satu Keluarga dalam Serangan Bom Surabaya


(Ilustrasi/era.id)

Baca Juga : Fakta yang Terungkap dari Bom Surabaya

Dalam melaksanakan perekrutan, organisasi teroris menjual gagasan dan argumentasi untuk menarik hati calon target. Jika targernya muslim, maka pendoktrinan akan mengambil ayat-ayat Alquran yang sudah mereka tafsirkan sesuka hati.

"Yang salah itu bukan ayatnya, tapi teks-teks yang sudah ditafsirkan untuk disusupi ke target," kata Haris.

Mengenai aksi bom bunuh diri yang terjadi di Surabaya dilakukan oleh Ketua JAD Surabaya, Haris meyakini tidak ada ketentuan jika senior dalam organisasi tersebut yang harus melakukan aksi bunuh diri. Pemilihan bomber atau pengantin (sebutan untuk bomber) tergantung tingkat keyakinan pengikut organisasi tersebut, bukan senioritas.
 
Bagikan :
Topik :

Reporter : Leo Dwi Jatmiko
Editor : Ahmad Sahroji
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU
Lifestyle
24 Januari 2019 19:33 WIB

Betapa Mulianya Seorang Roger Waters

Pendiri Pink Floyd ini mempertemukan seorang ibu dengan dua anaknya yang diculik
Nasional
24 Januari 2019 19:09 WIB

Kubu Prabowo Memaknai Salam Tiga Jari Ahok

Ini pertanda tidak ingin terlibat Pilpres 2019
Nasional
24 Januari 2019 18:44 WIB

Hottest Issue Malam, Kamis 24 Januari 2019

Ada berita tentang doa Ahoker, kemunculan Bripda Putri dan OTT Bupati Mesuji 
Olahraga
24 Januari 2019 18:21 WIB

Cedera Kaki Neymar Kambuh Lagi

Tuchel pun pusing tujuh keliling
Peristiwa
24 Januari 2019 17:53 WIB

Temui Kubu Jokowi, Dubes Asing Bantah Berpihak di Pilpres 2019

Enggak ada keberpihakan, ini demokrasi negara orang cuy