Senin, 16 Desember 2019
Ilustrasi (Ethan Parsa/Pixabay )
17 November 2019 08:41 WIB

Menelaah Mudarat Mengisap Rokok Elektrik

Rokok elektrik memiliki zat karsinogen dan racun yang bisa menyebabkan berbagai penyakit
Bagikan :


Jakarta, era.id - Keberadaan rokok elektrik telah menjadi tren baru di dunia perokokan. Rokok ini bahkan disebut minim mudarat ketimbang rokok tembakau. Padahal jika tahu kadungan yang bersemayam di dalamnya, kita bakal berpikir ulang untuk mengisap electronic cigarette (e-cigarette) itu.

Rokok elektrik memiliki zat karsinogen dan racun yang bisa menyebabkan berbagai penyakit seperti kanker, penyakit paru, gangguan kesehatan mulut, hingga tuberkulosis menurut berbagai penelitian.

Menurut data dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), rokok elektrik mengandung nikotin; karsinogen seperti propylene glycol, gliserol, dan formaldehid nitrosamin; bahan toksik seperti logam dan silikat; serta nanopartikel.

Rokok elektronik memiliki substansi yang bersifat karsinogenesis sehingga memiliki risiko perubahan sel dan mencetuskan timbulnya beberapa kanker tertentu seperti kanker paru, kanker mulut dan tenggorokan.


Baca Juga : Ikutan 'Lebaran' Petani Tembakau dan Menangkap Keresahan soal Naiknya Cukai Rokok

Selain itu, rokok elektronik juga berpotensi menimbulkan gangguan pada pencernaan, sistem imun, dan timbulnya trombosis, demikian seperti dikutip Antara.

PDPI menyebut rokok elektrik berdampak pada sistem paru dan pernapasan, seperti peningkatan peradangan atau inflamasi, kerusakan epitel dan sel, menurunkan sistem imun lokal paru dan saluran napas, peningkatan hipersensitif saluran napas, risiko asma dan emfisema.

Bahan beracun pada rokok elektrik seperti logam (heavy metals), silikat, nanopartikel dan particulate matter merangsang iritasi dan peradangan serta menimbulkan kerusakan sel.

Menurut Ketua PDPI dr Agus Dwi Susanto Sp.P(K), beberapa penelitian menunjukkan bahwa rokok elektrik membuat iritasi saluran napas, meningkatkan gejala pernapasan, risiko bronkitis, asma, dan infeksi paru.

Data dari Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI) menyebutkan bahwa dalam satu hirup rokok elektrik terdapat tujuh kali 1011 zat radikal yang bisa meningkatkan stres oksidatif dan memiliki efek pengubah status imun. Efek tersebut sama halnya dengan yang terdapat pada rokok konvensional.

Kandungan nikotin pada rokok elektronik dapat mengubah ekspresi beberapa gen yang dapat meningkatkan penempelan bakteri tuberkulosis. Kondisi tersebut meningkatkan risiko dua kali lipat terinfeksi TB dibandingkan bukan perokok. Rokok elektronik juga menimbulkan kecanduan bagi penggunanya dikarenakan nikotin cair yang ada di dalamnya.
Bagikan :
Topik :

Reporter : Ahmad Sahroji
Editor : Ahmad Sahroji
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU
Nasional
16 Desember 2019 09:04 WIB

Irjen Listyo Sigit Resmi Jabat Kabareskrim

Komjen Firli juga sudah berhenti dari Kabaharkam
Nusantara
16 Desember 2019 08:48 WIB

Nasib Anak Sekolah Korban Gusuran Tamansari Yang Tak Dipikirkan

Mana lagi di tengah semester
Nasional
16 Desember 2019 08:06 WIB

Gara-Gara Putung Rokok, Gudang Mabel di Jaktim Terbakar

Makanya kalo ngerokok jangan sembarang
megapolitan
16 Desember 2019 08:02 WIB

Pemprov DKI Jakarta Yang Makin 'Maksiat Friendly'

Kata FPI lho pak Anies..
Olahraga
16 Desember 2019 06:29 WIB

Akhir Damai Atlet Senam Pelatnas SEA Games dan Pelatih

Enggak bisa ikut SEA Games karena dituduh tidak perawan