Kamis, 09 Juli 2020
Ilustrasi (Ethan Parsa/Pixabay )
17 November 2019 08:41 WIB

Menelaah Mudarat Mengisap Rokok Elektrik

Rokok elektrik memiliki zat karsinogen dan racun yang bisa menyebabkan berbagai penyakit
Bagikan :


Jakarta, era.id - Keberadaan rokok elektrik telah menjadi tren baru di dunia perokokan. Rokok ini bahkan disebut minim mudarat ketimbang rokok tembakau. Padahal jika tahu kadungan yang bersemayam di dalamnya, kita bakal berpikir ulang untuk mengisap electronic cigarette (e-cigarette) itu.

Rokok elektrik memiliki zat karsinogen dan racun yang bisa menyebabkan berbagai penyakit seperti kanker, penyakit paru, gangguan kesehatan mulut, hingga tuberkulosis menurut berbagai penelitian.

Menurut data dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), rokok elektrik mengandung nikotin; karsinogen seperti propylene glycol, gliserol, dan formaldehid nitrosamin; bahan toksik seperti logam dan silikat; serta nanopartikel.

Rokok elektronik memiliki substansi yang bersifat karsinogenesis sehingga memiliki risiko perubahan sel dan mencetuskan timbulnya beberapa kanker tertentu seperti kanker paru, kanker mulut dan tenggorokan.


Baca Juga : Bakong Gayo, Tembakau Aceh yang Sering Dibilang Mirip Ganja

Selain itu, rokok elektronik juga berpotensi menimbulkan gangguan pada pencernaan, sistem imun, dan timbulnya trombosis, demikian seperti dikutip Antara.

PDPI menyebut rokok elektrik berdampak pada sistem paru dan pernapasan, seperti peningkatan peradangan atau inflamasi, kerusakan epitel dan sel, menurunkan sistem imun lokal paru dan saluran napas, peningkatan hipersensitif saluran napas, risiko asma dan emfisema.

Bahan beracun pada rokok elektrik seperti logam (heavy metals), silikat, nanopartikel dan particulate matter merangsang iritasi dan peradangan serta menimbulkan kerusakan sel.

Menurut Ketua PDPI dr Agus Dwi Susanto Sp.P(K), beberapa penelitian menunjukkan bahwa rokok elektrik membuat iritasi saluran napas, meningkatkan gejala pernapasan, risiko bronkitis, asma, dan infeksi paru.

Data dari Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI) menyebutkan bahwa dalam satu hirup rokok elektrik terdapat tujuh kali 1011 zat radikal yang bisa meningkatkan stres oksidatif dan memiliki efek pengubah status imun. Efek tersebut sama halnya dengan yang terdapat pada rokok konvensional.

Kandungan nikotin pada rokok elektronik dapat mengubah ekspresi beberapa gen yang dapat meningkatkan penempelan bakteri tuberkulosis. Kondisi tersebut meningkatkan risiko dua kali lipat terinfeksi TB dibandingkan bukan perokok. Rokok elektronik juga menimbulkan kecanduan bagi penggunanya dikarenakan nikotin cair yang ada di dalamnya.
Bagikan :
Topik :

Reporter : Ahmad Sahroji
Editor : Ahmad Sahroji
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU
Ekonomi
09 Juli 2020 11:43 WIB

Jokowi: Belanja Pemerintah Mampu Gerakkan Ekonomi

Penyerapan anggaran masih minim
 
Lifestyle
09 Juli 2020 11:30 WIB

Ini Alasan Ernest Putuskan Balik Lagi dengan Cokelat

Setelah enam tahun berpisah
Nasional
09 Juli 2020 11:15 WIB

Sama-Sama Punya Kadar Alkohol, Mengapa Tape Halal dan Bir Tidak Halal?

Ini jawaban ilmiahnya mengikut fatwa
Nasional
09 Juli 2020 10:54 WIB

PDIP Copot Rieke Diah Pitaloka dari Baleg, Apa Alasannya?

Anggota Komisi III DPR M. Nurdin gantikan Rieke