Rabu, 22 Januari 2020
Aplikasi alat bantu pendengaran bagi tuna rungu, Hearme. (Instagram @hearme.official)
27 November 2019 15:05 WIB

Komunikasi Tanpa Batas dengan Sobat Tunarungu Lewat Aplikasi Hear Me

Aplikasi ini dikembangkan oleh empat mahasiswa Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB 
Bagikan :


Bandung, era.id - Bagi orang yang tidak terbiasa, berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat dengan sahabat tunarungu memang cukup menjadi tantangan, begitu juga sebaliknya. Hal itulah yang membuat empat mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) mengembangkan aplikasi alat bantu pendengaran bagi tunarungu yang diberi nama 'Hearme'.

Aplikasi Hearme diprakarsai oleh empat mahasiswa Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB (SBM-ITB) yaitu Athalia Mutiara Laksmi, Safirah Nur Shabrina, Octiafani Isna Ariani dan Nadya Sahara putri sejak 2019 lalu. Atas prestasi tersebut keempatnya diganjar hibah modal usaha sekitar Rp250 juta dalam ajang Diplomat Chalenge 2019.

Menurut Athalia Mutiara Laksmi, aplikasi Hearme membuat semua orang bisa berkomunikasi memakai bahasa isyarat dengan tunarungu begitu pun sebaliknya tunarungu juga mampu berkomunikasi dengan masyarakat luas.

Berangkat dari pengalaman mereka ketika memesan taksi online kemudian mendapati driver tunarungu yang dibantu anaknya berkomunikasi dengan penumpang. Driver tersebut sering dianggap tidak sopan oleh penumpang karena pendengarannya kurang maksimal.


Baca Juga : Aplikasi Kesehatan Mental Dapat Penghargaan Dari Google Play Store

"Sering kali driver dirating rendah karena dinilai enggak sopan dengan penumpang dan sering miss communication. Padahal di situ si penumpang enggak tahu kalau si driver tuli jadi sering susah komunikasi," kata Athalia, seperti dikutip Antara, Rabu (27/11/2019).
 


"Nah dari situ kita mikir gimana caranya buat mengatasi masalah itu. Akhirnya kita sering brainstorming yang akhirnya menghasilkan Hearme," tambahnya.

Perempuan yang akrab disapa itu mengaku kurang percaya diri saat awal pendirian startup tersebut. Sebab mereka tidak memiliki latar belakang pendidikan IT tapi ingin mengembangkan bisnis digital.

Akhirnya, mereka pun memilih jenis startup digital technology, karena sesuai dengan perkembangan zaman era 4.0 di mana semua aktivitas didominasi oleh teknologi. Mereka ingin menggunakan teknologi guna menyelesaikan suatu masalah.

Terlebih, dengan adanya teknologi juga semuanya bisa jadi praktis. Di samping itu, kini masyarakat juga sudah mulai terbiasa dengan kehadiran teknologi dalam kehidupan mereka. "Kita juga kuliah di SBM-ITB. Jadi kalau bisa bisnis kita berbasis IT," katanya.

Atha menilai, memasuki society 5.0. berbagai jenis bisnis harus berdampak sosial terhadap masyarakat maka dengan penerapan teknologi ini mereka akan menyediakan fasilitas yang ramah disabilitas sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia khususnya disabilitas. "Kita juga disini perannya sociopreneur," ujarnya.

Atha membagikan kunci suksesnya dalam meraih penghargaan dari ajang Diplomat Challenge 2019. Rumusnya adalah 3 P (Piawai, paham, dan persona) dalam mengembangkan startup-nya, hasilnya pun memukau dewan juri lewat presentasi depan publik dan dewan Komisioner.

"Alhamdulillah berkat 3P kita berhasil dalam ajang tersebut," ujar Atha.
Bagikan :
Topik :

Reporter : ERA.ID
Editor : Ahmad Sahroji
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU
Nusantara
22 Januari 2020 14:07 WIB

Disabilitas Netra Balik Lagi ke Wyata Guna

Happy ending story
Nasional
22 Januari 2020 13:47 WIB

Cerita PKS-Gerindra Setujui Dua Nama Cawagub Baru

Dua-duanya bakal jadi Wagub?
Ekonomi
22 Januari 2020 13:20 WIB

Triawan Munaf, Peter Gontha, dan Yenny Wahid Jadi Bos Garuda

Masuk di komisaris utama
Internasional
22 Januari 2020 13:15 WIB

Virus Korona Merenggut Nyawa Sembilan Orang di China

Virus itu cepat tersebar melalui saluran pernapasan
Olahraga
22 Januari 2020 12:48 WIB

Saat Guru Olahraga Dilatih Pelatih Basket dari NBA

Orang Jawa Barat suka basket