Kamis, 02 April 2020
Ilustrasi (Pixabay)
16 Februari 2020 09:30 WIB

Kenali Sifilis, Penyakit Kelamin yang Bisa Menular pada Bayi

Penyakit ini ditularkan saat anak dalam kandungan
Bagikan :


Jakarta, era.id - Sifilis tergolong penyakit infeksi menular seksual akibat bakteri Treponema Pallidium yang bisa menyebabkan kerusakan serius pada organ otak, sistem saraf, jantung hingga mengancam jiwa penderitanya.

Spesialis Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM), dr. Wresti Indriatmi dalam keterangan tertulisnya belum lama ini mengatakan, risiko tertular sifilis melalui satu hubungan seks dengan pasangan yang terinfeksi sekitar 3-10 persen.

Penyakit ini juga menular dari ibu hamil kepada bayi atau janin saat dalam kandungan atau ketika melewati jalan lahir yang terdapat lesi sifilis, atau menular melalui darah atau produk darah yang tercemar.

Gejala penyakit ini tergantung stadium penyakitnya. Secara umum, ada empat stadium sifilis, yakni primer, sekunder, laten dan tersier. Pada Sifilis primer, bakteri memperbanyak diri pada tempat inokulasi dan membentuk chancre (lesi pada kulit yang keras, tidak gatal, biasanya berdiameter antara 1 cm dan 2 cm).


Baca Juga : Alasan Mengapa Berjemur di Bawah Sinar Matahari Pagi Penting bagi Kesehatan

Pada Sifilis sekunder, sifilis menyebar ke kelenjar getah bening setempat, kemudian ke pembuluh darah. Pada Sifilis laten, penyakit itu sudah mulai mengenai banyak organ tubuh hingga akhirnya pada tingkatan tersier, terjadi infeksi atau inflamasi pembuluh darah dalam susunan syaraf pusat dan sistem kardiovaskular, atau membentuk lesi gumma.

"Jika infeksi tidak diobati akan merusak organ-organ tubuh seperti kebutaan, jantung, otak, saraf, pembuluh darah, tulang, kelumpuhan, dimensia, tuli, impotensi, hati bahkan
kematian," ungkap Wresti.

Menurut Wresti, tidak ada perbedaan yang terlalu signifikan pada gejala sifilis laki-laki atau perempuan. Namun, penderita laki-laki cenderung lebih banyak dibandingkan perempuan.

Mengenai pemeriksaan terhadap sifilis, dr. Anthony Handoko, SpKK, FINDSV dari Klinik Pramudia menjelaskan, ada empat tahapan yang biasa dilalui pasien, yakni pemeriksaan fisik pada selaput lendir dan kulit pada stadium primer dan sekunder.

Setelah itu, pemeriksaan Lab serologi darah (VDRL, TPHA) yang lazim digunakan untuk skrining awal dan lanjut, diiikuti pemeriksaan Dark-Field Microscopy dan pemeriksaan CSF/Carian Serebrospinal pada Neurosifilis.

"Jika sudah diketahui seseorang terkena Sifilis, maka perlu segera dilaksanakan tata laksana pengobatan Sifilis. Hingga saat ini bakteri Treponema Pallidum masih sensitif terhadap antibiotik Penisilin, sehingga obat pilihan utama terapi tetap dengan pemberian antibiotik golongan penisilin," kata Anthony.

Menurut dia, pemberian penisilin dapat melalui oral atau injeksi intramuskular dengan dosis yang berbeda-beda, tergantung stadium penyakit sifilis dan co-morbidititas (penyakit atau kondisi penyerta).
Bagikan :

Reporter : ERA.ID
Editor : Ahmad Sahroji
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU
Internasional
02 April 2020 08:33 WIB

Prancis Negara Keempat dengan Kematian Lampaui 4.000 akibat COVID-19

Untuk rekor satu ini semoga tidak dicontoh negara lain
Nasional
02 April 2020 08:24 WIB

Panjangnya Birokrasi Pembatasan Sosial Berskala Besar

Harus disetujui Menkes dengan segala pertimbangannya
 
Nasional
01 April 2020 22:19 WIB

What's On Today, 1 April 2020

Podcast berita Indonesia terkini yang disajikan dengan cara berbeda