Selasa, 25 Februari 2020
21 Januari 2020 11:47 WIB

Jelajah Smart Farming di Pelosok Bandung Barat

Penyiraman cukup dikendalikan lewat HP
Bagikan :


Bandung, era.id – Sebuah lahan pertanian di pelosok Kabupaten Bandung Barat disulap menjadi Smart Farming, yakni metode pertanian cerdas berbasis teknologi. Mulai dari pemupukan hingga penyiraman diatur menggunakan smartphone. Wajah pertanian pun terlihat keren dan kekinian.

Praktik mekanisasi pertanian itu diterapkan petani yang tergabung dalam komunitas Titah Bumi, di Kampung Cipetir (Sinarhati) RT/RW 02/05 Desa Pasirpogor Kecamatan Sindangkerta. Meski posisinya di pelosok kampung, namun lahan yang digarap komunitas pimpinan Mukmin Kusnendar itu memiliki jaringan listrik dan internet.

Akses menuju lahan pertanian masih berupa jalan setapak yang hanya bisa dilalui dengan cara jalan kaki. Posisi lahan menanjak karena konturnya perbukitan. Di bagian atas, Mukmin dan kawan-kawan mendirikan gubuk bambu yang cukup nyaman sebagai tempat melepas lelah.

Di beranda gubuk terpasang rak-rak berisi buku. Gubuk ini juga berfungsi sebagai Taman Baca Masyarakat (TBM). Jadi selain menerapkan konsep pertanian smart farming, komunitas ini juga mengajak masyarakat petani untuk mengenal budaya literasi.


Baca Juga : Melihat Petani Kaya di Mongolia yang Punya Omzet Rp5,9 Miliar

Tak jauh dari gubuk, terdapat dua petak kebun sayur yang menjadi percontohan penerapan konsep smart farming. Kebun pertama memakai instalasi springkle, yakni penyiraman dengan sistem mirip kincir mini. Di bagian kebun di tanam sejumlah pipa saluran air yang terhubung ke torn. Beberapa pipa mengacung dengan ujung terdapat springkle. Jika penyiraman dilakukan, air akan keluar dari springkle secara berputar.


Lahan sayur smart farming di Sindangkerta, Kabupaten Bandung Barat. (Iman Herdiana/era.id)

Di kebun kedua, dipasang instalasi spray. Setiap bagian atas pematang kebun dipasang pipa dan selang yang berfungsi mengeluarkan air seperti hujan. Sedangkan tanaman sayur yang ditaman di kedua kebun berupa tomat, pakcoy, dan sosin.

Instalasi-instalasi tersebut terhubung ke sistem coding yang tersambung internet. Lewat jaringan internet inilah, sistem terhubung ke smartphone milik Mukmin Kusnendar. "Sistem coding ini cara kerjanya, dari sini (handphone) kita bisa kontrol suhu, kelembapan udara, melakukan penyiraman sama pemupukan," terang Mukmin, saat ditemui era.id di lahan pertaniannya, awal Januari lalu.

Menurut Mukmin, pertanian smart farming diterapkan untuk meningkatkan efisiensi pertanian. Kendali pertanian bisa dilakukan dari jarak jauh. Begitu juga dalam penyiraman tanaman. "Penyiraman tidak lagi mengeluarkan tenaga yang lumayan," katanya.

Mukmin bilang, smart farming tergolong model pertanian dengan pendekatan baru di kampungnya. Selama ini, para petani Sindangkerta menjalankan pertanian model konvensional secara turun-temurun.

Komoditas yang ditanam Mukmin juga berbeda dengan komoditas yang ditanam para petani umumnya. Mukmin lebih mengandalkan sayuran, sedangkan petani sekitar lebih sering menanam padi.



Mukmin juga melakukan terobosan dalam pemanfaatan lahan. Sebelumnya, lahan tersebut masih berupa hutan bambu yang bagi warga sekitar dianggap tidak cocok untuk dijadikan lahan kebun atau sawah. Namun Mukmin yakin, hutan bambu tersebut bisa menjadi lahan produktif.

Maka ia dan komunitasnya melakukan pembabatan hutan bambu. "Lahan ini milik orang tua saya yang sayang kalau tidak dimanfaatkan. Akhirnya saya izin kepada orang tua untuk membuka lahan ini," tuturnya.

Ia membuka lahan mulai 2018. Di tahun yang sama, ia mendirikan komunitas Titah Bumi yang beranggotakan masyarakat petani. Komoditas pertama yang ditanam ialah cabai merah yang ditanam di lahan sekitar 3.000 meter persegi dengan hasil 4,7 ton.

Awal 2019, ia mengajukan pelatihan ke Balai Latihan Kerja (BLK) Lembang untuk mendapat skill smart farming. "Saya minta smart farming karena kalau saya ke sini dengan konsep biasa hampir semua juga bertani. Kenapa minta smart farming karena ini teknologi pertanian yang gabungkan antara smartphone dan pertanian. Itu menjadi daya tarik buat warga sekitar sini," katanya.

Ia ingin pertaniannya menarik minat masyarakat terutama generasi muda yang cenderung meninggalkan pertanian. Untuk itulah selain pertanian, ia mengembangkan taman baca dan daya tarik lainnya agar pertanian tak ditinggalkan.

Dari pelatihan, ia mendapat fasilitas smart farming seperti instalasi springkle dan spray yang diterapkan pada kebun sayurannya. Kini, Mukmin memiliki lahan 6.500 meter persegi. Tidak semua lahan dipasangi instalasi. Menurutnya, untuk saat ini smart farming lebih cocok diterapkan pada tanaman sayuran yang berumur pendek seperti pakcoy, tomat, pecay, dan lainnya.
Bagikan :
Topik :

Reporter : ERA.ID
Editor : Ahmad Sahroji
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU
megapolitan
25 Februari 2020 05:31 WIB

Jakarta Siaga Banjir Pagi Ini

Pintu…
Nasional
24 Februari 2020 22:02 WIB

What's On Today, 24 Februari 2020

Podcast berita Indonesia terkini yang disajikan dengan cara berbeda
Lifestyle
24 Februari 2020 21:03 WIB

Baek Yerin hingga Phum Viphurit Masuk Line Up 'Head in the Clouds'

Siapa yang gak sabar cepet-cepet tanggal 7 Maret 2020?
Nasional
24 Februari 2020 20:35 WIB

Asyiknya Prabowo-Menhan Uni Emirat Arab Lepas Elang Pemburu

Diplomasi pertahanan
Nusantara
24 Februari 2020 19:54 WIB

Penipu Princess Lolowah Menyamar Sebagai Pria

Ditangkap di Palembang