Selasa, 19 Februari 2019
Anies-Sandi (era.id)
31 Juli 2018 16:20 WIB

Mempertanyakan Kata Beautifikasi Anies-Sandi

Sesungguhnya, apa sih maksud dari kata beautifikasi?
Bagikan :


Jakarta, era.id - Ada yang berbeda dari wajah Jakarta saat ini. Banyak riasan yang dibuat Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di sudut-sudut kotanya. Alasannya, untuk mempercantik kota menyambut gelaran Asian Games 2018.

Tengok saja, dalam beberapa waktu terakhir Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Wakil Gubernur Sandiaga Uno yang gencar memerintahkan pasukannya untuk mengecat separator, tembok dan trotoar di jalan-jalan bernuansa Asian Games 2018.

Tak habis sampai di situ, Kali Sentiong atau yang sering disebut Kali Item, yang letaknya berada dekat Wisma Atlket Kemayoran, turut didandani untuk menutupi kusamnya wajah Jakarta di mata atlet yang akan berlaga di Ibu Kota ini.

Anies-Sandi ternyata punya istilah sendiri untuk menamakan polesan ruang publik dan perkampungan di Jakarta ini, beautifikasi namanya.


Baca Juga : Mari Sambut KBBI Braille Pertama di Indonesia

"Jadi, kita lakukan beautifikasi. Kampung-kampung di sana nanti diwarnai. tempat pengolahan sampah nanti juga dipindah. Memang ada ikhtiar untuk beautifikasi daerah situ karena seluruh atlet akan berada di sana," ucap Anies di Balai Kota, beberapa waktu lalu.

"Sekarang untuk beautifikasi Asian Games itu semuanya di-cover sama rumput atau tanaman," kata Sandi di tempat terpisah.

Apa itu beautifikasi?

Kalian merasa aneh saat mendengar atau membaca istilah beautifikasi? Sama, kami juga! Sesungguhnya, kosakata beautifikasi tidak dapat ditemukan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan itu benar adanya. Artinya, beautifikasi bukan merupakan bahasa Indonesia baku.

Kalau kita tebak-tebak, istilah beautifikasi adalah pencampuran bahasa Inggris kata 'beautify' yang asal diserap dalam bahasa Indonesia berarti 'mempercantik', dengan ditambahkan akhiran '-asi' yang biasa dipakai sebagai akhiran dari penyerapan istilah asing.

Terus, kenapa Anies-Sandi memakai istilah yang belum dibakukan sebagai ungkapan di ruang publik? Nah, Kepala Bidang Pengendalian dan Penghargaan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (BPPB) Maryanto yang kami mintai pendapatnya berkata, ada dua alasan istilah tersebut digunakan.

"Pertama, kita ini tidak terbiasa dengan pencarian kosakata yang kita miliki. Ini merupakan bentuk kemalasan untuk mencari tahu kosakata bahas Indonesia yang telah ada. Kedua, adalah keinginan mengambil istilah asing apa adanya (tanpa proses dengan sesuai sistem)," ungkap Maryanto kepada era.id, Selasa (31/7/2018).

Kata Maryanto, lontaran kedua pejabat daerah tersebut memang bukan suatu kesalahan berbahasa. Sebab, jika dinamakan kesalahan maka akan ada konsekuensi hukum yang berlaku.

"Yang mereka lakukan hanya ketidakelokan saja, karena ini berkaitan dengan etika pemimpin daerah. Padahal, perlu ada tanggung jawab moral sebagai pemimpin untuk membina bahasa yang perlu ditingkatkan," ujarnya.

Memang sih, masuknya sebuah kata dalam KBBI berasal dari penggunaan sebuah kosakata yang menyebar pada masyarakat. Jadi, ada kemungkinan bahwa beautifikasi akan masuk dalam KBBI. Tapi, bukan sekarang juga, perlu ada proses agar hal itu benar-benar terjadi.

Baca Juga : Syarat Kata Masuk KBBI

KBBI sebenarnya menampung masukan bila ada kata-kata baru yang ingin disahkan menjadi bahasa baku. Pada laman kbbi.kemendikbud.go.id bahkan diterangkan bahwa bahasa memiliki perkembangan sepanjang waktunya.

"Bahasa berkembang sepanjang waktu, dan kata yang sudah ada di dalam KBBI tidak boleh dihilangkan, namun lebih diberi label, misalnya arkais, tidak baku, percakapan, dan sebagainya," demikian tertulis dalam website Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), kbbi.kemendikbud.go.id.    

Sebenarnya, ada lima syarat yang harus dipenuhi oleh sebuah kata agar dapat dimasukkan ke dalam KBBI.

Pertama, sebuah kata harus sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. Misalnya, jika terdiri dari dua penggalan, kata itu harus memenuhi unsur 'Diterangkan-Menerangkan'. Kata yang penting harus disebutkan lebih dulu, sesudah itu baru kata yang memperjelas maknanya.

Kedua, kata tersebut harus eufonik alias sedap didengar. Untuk syarat ketiga hingga kelima adalah harus unik, berkonotasi positif dan berfrekuensi tinggi.


(Ilustrasi/era.id)

Pertimbangan

Dalam menyertakan kata baru dalam KBBI, Badan Bahasa mengangkat sejumlah hal untuk jadi pertimbangan. Misalnya, apakah kata tersebut dapat ditemukan di berbagai sumber atau tidak. Lalu, apakah kata tersebut dapat digunakan oleh berbagai kelompok atau tidak.

Pertimbangan lainnya, Badan Bahasa juga mempertimbangkan perkiraan, apakah kata tersebut sudah cukup lama beredar dan diprediksi dapat beredar dalam jangka waktu yang cukup lama pula atau kira-kira dapat dengan mudahnya dilupakan.

Selain itu, jika kata tersebut adalah nama, apakah sudah digunakan secara meluas atau sudah digunakan juga sebagai verba atau belum.

Menurut poin ketentuan lain yang diatur oleh Badan Bahasa, ada beberapa kriteria yang dapat menggagalkan proses penyertaan kata dalam KBBI. Yakni konsep sudah ada dalam bahasa Indonesia, terlalu rinci, tidak sedap didengar atau konsep malahan sudah ada dalam bahasa daerah lain --di Indonesia-- yang sudah masuk KBBI.

Jadi, sekaya-kayanya potensi bahasa di Indonesia, pemerintah tak serta merta memasukkan setiap kata ke dalam kitab komunikasi bangsa, KBBI. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, demi terjaganya kaidah berbahasa Indonesia yang baik.
Bagikan :

Reporter : Diah Ayu Wardani
Editor : Bagus Santosa
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU
Internasional
19 Februari 2019 15:45 WIB

Bebas Berkunjung Plus 'Mantai' di St Kitts dan Nevis

Kini, warga Indonesia bisa bebas berlibur ke St Kitts dan Nevis. Bagaimana kiesahnya?
Internasional
19 Februari 2019 15:31 WIB

Palestina-Jordania Kecam Penutupan Masjid Al-Aqsa oleh Israel

Penutupan itu dilakukan Israel dengan menggunakan rantai dan gembok
Olahraga
19 Februari 2019 15:12 WIB

Mercedes Khawatir Terganggu Brexit

Soalnya, pabrik dan fasilitas operasi mesin Mercedes ada di Inggris
Suara-Milenials
19 Februari 2019 15:05 WIB

VIDEO: Jelang Pilres Pelajar di Jakarta Utara Rekam e-KTP

Pelaksanaan pencetakan e-KTP dilakukan bagi para pelajar SMA yang sudah berusia 17 tahun
Peristiwa
19 Februari 2019 14:56 WIB

BPN: Klaim Jokowi soal Jalan Desa Tak Sesuai Fakta

Patut dipertanyakan keabsahan dan validitasnya, katanya
POPULER
18 Februari 2019 14:22 WIB

Robben Sebut Anfield Stadion Terburuk

18 Februari 2019 07:25 WIB

Kita Semua Wajib Tanggung Jawab

21 Juli 2018 16:30 WIB

Asia Juga Punya Anak Muda 'Berbahaya'

PODCAST

LISTEN
15 Februari 2019 19:22 WIB

NGEPOD: Buzzer Baik, Memang Ada? (Part 1)


LISTEN
14 Februari 2019 17:09 WIB

PODCAST: Sendiri Tak Melulu Sepi


LISTEN
04 Februari 2019 19:22 WIB

NGEPOD: Merangkai Kata Mendulang Rezeki


LISTEN
01 Februari 2019 19:50 WIB

NGEPOD: Mendarat di Galaksi Palapa


LISTEN
30 Januari 2019 15:11 WIB

NGEPOD: 'Stand Up' untuk Ekonomi Kreatif

FITUR