Jumat, 13 Desember 2019
Ilustrasi (Photo Mix/Pixabay)
22 November 2019 17:05 WIB

Bisnis Fesyen yang Kini di Ujung Tanduk

Beberapa perusahaan bisnis fesyen di dunia pun terpaksa gulung tikar
Bagikan :


Ningbo, era.id - Sejak lima tahun terakhir, sejumlah perusahaan yang bergerak di bidang bisnis fesyen mengalami kesulitan. Beberapa perusahaan pun terpaksa menutup beberapa toko besar dan gerai mereka untuk dapat bertahan.

Indonesia termasuk salah satu negara yang mengalami dampak krisis tersebut, di mana salah satu bisnis ritel fesyen terbesar di Tanah Air, Matahari Department Store, juga menghadapi kesulitan yang sama. Matahari bahkan telah menutup sejumlah tokonya.

Bisnis fesyen di beberapa negara di dunia memang menghadapi kesulitan yang sama akibat pergeseran cara dan kebiasaan belanja konsumen ke arah online shopping (Belanja daring). Akibatnya, sejumlah bisnis fesyen di dunia pun terpaksa gulung tikar.

Parahnya, kebangkrutan bisnis itu bahkan dialami oleh perusahaan-perusahaan yang telah lama berdiri dan bergerak dalam bisnis mode, salah satunya retail fesyen asal Amerika Serikat, Forever 21 yang menyatakan bangkrut pada September 2019.


Baca Juga : Renungan Akhir Tahun Untuk Kamu yang Suka Beli Baju

Selain Forever 21, sejumlah perusahaan bisnis fesyen yang menyatakan kebangkrutan, antara lain Roberto Cavalli asal Italia pada April 2019, Sonia Rykiel asal Prancis pada Juli 2019, Diesel pada Maret 2019, Carven dan Nine West pada Mei 2018.


Salah satu toko Forever 21 di Oxford Street di London. (Foto: footwearnews.com)

Kebangkrutan yang dialami banyak bisnis fesyen di beberapa negara tersebut, seperti ritel asal AS Forever 21, menunjukkan bahwa cukup banyak perusahaan yang gagal bertahan untuk menggeser cara bisnis mereka ke arah online.

Namun, di antara kegagalan dan kebangkrutan itu, ada cukup banyak juga perusahaan yang bergerak di bidang bisnis fesyen yang masih dan terus bertahan, seperti beberapa perusahaan di China.

Atur ulang strategi

Salah satu perusahaan produsen pakaian asal China, Youngor Group, yang telah berdiri selama 40 tahun, mengaku sempat mengalami kesulitan dan bahkan harus menutup sejumlah gerainya sebelum akhirnya dapat terus bertahan dengan mengubah strategi bisnisnya.

"Youngor juga menutup beberapa gerai dan toko, namun kami juga membuka beberapa toko baru. Kami juga mengubah strategi bisnis karena sekarang ini cara dan pola belanja konsumen sudah berubah," kata Deputi Manajer Youngor Group Gaogang Hu, seperti dikutip Antara.

Hu menyebutkan sejumlah perubahan strategi bisnis yang dilakukan perusahaannya untuk dapat terus bertahan dalam bisnis fesyen. Salah satu langkah yang dilakukan perusahaan asal China ini adalah menutup sejumlah gerai kecilnya dan menggeser produk dan bisnis ke toko-toko yang lebih besar.

"Dulu kami punya banyak gerai kecil di pinggir jalan (road side shops), tetapi sekarang kami secara bertahap menggeser penjualan kami ke toko-toko di pusat perbelanjaan," ujar Hu.


Logo Youngor Group (Foto: app.fanfare.global)

Menurut dia, hal itu perlu dilakukan untuk tetap dapat melayani para konsumen yang masih berbelanja secara konvensional. Tidak hanya menutup sejumlah gerai atau toko kecilnya, Youngor juga berupaya memperluas area persebaran toko untuk menjangkau lebih banyak konsumen di tempat-tempat berbeda.

"Kami tidak cuma menutup toko, tetapi kami juga harus memperluas area toko-toko kami. Dalam lima tahun ke depan, kami akan mengurangi jumlah toko dari 3.000 menjadi 1.000 toko. Arah utama kami adalah mengurangi jumlah toko, namun memperluas area (persebaran) toko," kata Hu menjelaskan.

Selanjutnya, perusahaan tersebut pun mengubah strategi marketing untuk menyesuaikan diri dengan perubahan kebiasaan belanja konsumen. Untuk itu, Youngor menaruh perhatian besar untuk mengoordinasikan bisnis online dan offline.

"Youngor juga memasuki indutsri e-commerce, dan sekarang ini kami berupaya mengintegrasikan bisnis offline dan online kami," ucap Hu.

Dia menjelaskan bahwa perusahaannya juga mengubah cara berjualan, di mana konsumen bukan cuma mendapat produk dengan berbelanja langsung di toko, tetapi juga toko-toko Youngor dapat mengirimkan produknya ke konsumen yang telah memesan secara online.

"Sales person kami memiliki aplikasi spesial di ponsel mereka. Platform ini sangat bagus untuk konsumen karena mereka juga bisa memesan melalui aplikasi ini sehingga mereka dapat membeli sesuatu di malam hari. Dan juga penjual kami bisa mengirim produk melalui pos ke konsumen langsung dari toko, bukan gudang," ungkapnya.

Selain itu, untuk menarik lebih banyak konsumen dan pelanggan online, Hu mengatakan perusahaannya terus mempromosikan bisnis online-nya. "Kami memiliki banyak cara baru untuk mempromosikan bisnis online kami, termasuk melalui interaksi dengan pelanggan. Tujuan kami dalam meningkatkan interaksi adalah untuk menjaga pelanggan tetap dan menambah pelanggan baru, terutama kaum muda," ujar Hu.

Melakukan efisiensinsi

Selain menyesuasikan strategi bisnis dengan perubahan kebiasaan belanja konsumen ke arah online, perusahaan China itu juga melakukan langkah efisiensi biaya produksi. Gaogang Hu bilang, beberapa perusahaan produsen pakaian di China berupaya menekan biaya produksi melalui sistem produksi yang lebih baik dengan memanfaatkan teknologi.

"Kami mengubah moda produksi kami menjadi lebih cepat dan efisien dengan menggunakan teknologi canggih, di mana kami bisa memproduksi lima barang dalam satu menit," ungkapnya.

Misalnya, Youngor menggunakan teknologi mesin laser pemotong untuk memotong-motong pola untuk bahan pakaian di pabriknya. Untuk memotong pola dengan menggunakan tenaga manusia bisa memakan waktu dua hari, tetapi dengan mesin laser pemotong hal itu dapat dilakukan hanya dalam beberapa menit.

Selain itu, dengan memakai mesin berteknologi canggih, perusahaan juga dapat menekan biaya produksi --akibat terus meningkatnya upah tenaga kerja di China-- karena banyak mesin yang sudah diprogram untuk melakukan tugas-tugas yang biasanya dilakukan pekerja.


Ilustrasi (StockSnap/Pixabay) 

Beberapa perusahaan China memang memilih untuk memanfaatkan teknologi canggih untuk kegiatan produksi barang yang lebih efisien, salah satunya perusahaan Ci Xing, yang menggunakan sekaligus membuat mesin-mesin rajut yang dikomputerisasi (computerized flat knitting machines). Mesin itu menggunakan program komputer untuk dapat berfungsi merajut benang-benang hingga menjadi satu pakaian utuh tanpa jahitan tepi.

"Jadi mesin yang kami produksi dan gunakan itu fully automation machine. Mesin didesain untuk memproduksi pakaian langsung jadi utuh, tanpa harus melewati beberapa tahapan dengan mesin-mesin yang berbeda," ujar business receptionist Ci Xing, Zheng Yiqiu.

"Mesin dapat memproduksi bagian-bagian baju yang berbeda dalam satu waktu. Jadi, hanya membutuhkan waktu 1 menit 35 detik untuk memproduksi satu pakaian bahkan dengan warna-warna yang berbeda," lanjutnya.

Selain itu, menurut Zheng, perusahaannya juga membuat sekaligus menggunakan mesin yang dapat menyetrika dengan rapih pakaian yang akan dijual hanya dengan sekali semprotan uap.

"Jadi fungsinya seperti setrika uap sekali semprot tanpa harus memakai tenaga orang untuk menyetrika secara manual sehingga dapat mengurangi risiko kerusakan baju, seperti akibat benang tertarik dan jejak setrika panas yang dapat merusak bahan pakaian," jelasnya.

Berbagai upaya yang dilakukan beberapa perusahaan China dalam menjalankan bisnisnya itu menunjukkan bahwa dunia usaha harus dapat terus beradaptasi dan berinovasi untuk untuk dapat bertahan dan berhasil. 
Bagikan :
Topik :

Reporter : ERA.ID
Editor : Ahmad Sahroji
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU
Nasional
12 Desember 2019 21:58 WIB

What's On Today, 12 Desember 2019

Siapkan earphone kamu dan rasakan sensasi baru menikmati berita.
megapolitan
12 Desember 2019 21:05 WIB

Bandar Heroin Asal Pakistan Tewas Didor Polisi

Penembakan dilakukan karena pelaku berusaha melarikan diri dan merebut senjata polisi
Ekonomi
12 Desember 2019 20:18 WIB

Pertamina BUMN Paling 'Kencang' Setor Pemasukan Negara

Salah satu kasir paling besar ke Kementerian BUMN
Lifestyle
12 Desember 2019 20:07 WIB

Cek Toko Sebelah The Series Season 2 Segera Tayang

Pada musim kedua ini, CTS menampilkan pemain baru seperti Morgan dan Soleh Solihun
megapolitan
12 Desember 2019 19:28 WIB

Luthfi si Anak STM Didakwa Serang Polisi

Enggak terbalik pak?