Rabu, 12 Desember 2018
Ilustrasi (Yudhistira/era.id)
09 November 2018 16:24 WIB

Hei Pemabuk! Ingat, Semua Cuma Sugesti

Apa betul air rebusan pembalut memabukkan? Atau cuma sugesti? Hayo, sadar
Bagikan :


Jakarta, era.id - Para pemabuk sering bilang, selalu ada cara untuk mabuk. Ketika minuman keras semacam anggur merah dan intisari dikenai cukai dan melonjak harganya berkali-kali lipat, minuman-minuman ilegal bermunculan. Fenomena lain yang lebih aneh lagi muncul, sensasi memabukkan dengan air rebusan pembalut wanita yang sejatinya telah lama ada.

Fenomena ini mencuat setelah Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Tengah mengumumkan temuan perilaku menyimpang anak-anak remaja di wilayah mereka yang doyan mengonsumsi air rebusan pembalut. Belum diketahui secara keilmuan bagaimana air rebusan pembalut dapat menimbulkan efek mabuk. Yang jelas, BNNP menyebut, air rebusan pembalut adalah alternatif yang diambil para pemabuk untuk menggantikan peran lem, pil koplo, dan sabu yang makin tak terjangkau harganya.

Hal ini dikonfirmasi Polres Kudus, Jawa Tengah. Menurut Kasatnarkoba, AKP Sukadi, para anak jalanan yang terciduk mengaku menjadikan air rebusan pembalut sebagai alternatif dari serbuk kristal metamfetamin --kandungan utama dari sabu. Konon, menurut pengakuan mereka, efeknya sama. Entahlah, bagaimana pula menjelaskannya karena kami tidak berniat menjajal cuma untuk sebuah tulisan yang akurat dan hidup.

"Hingga kini kami memang belum menemukan kasus anak jalanan meminum air rebusan pembalut untuk menimbulkan efek 'nge-fly' sebagai alternatif lain pemicu efek mirip memakai serbuk kristal metamfetamin," tutur Sukadi sebagaimana ditulis Antara, Jumat (9/11/2018).


Baca Juga : Kenapa Harus Iklan Blackpink?

Menurut Sukadi, Polres Kudus akan terus berkomunikasi dengan BNNP Jawa Tengah untuk mendalami temuan ini. Sukadi bilang, Kota Kudus dan sejumlah wilayah sekitarnya akan jadi fokus pendalaman. Apalagi tersiar kabar, Kudus jadi salah satu wilayah dengan jumlah pemabuk rebusan pembalut terbanyak. Dan soal efek yang disebut-sebut mirip metamfetamin ini, Polres Kudus juga akan segera memastikan lewat uji laboratorium.

Kebingungan otoritas

Meski para pemabuk bilang, air rebusan pembalut adalah alternatif dari konsumsi metamfetamin, BNN kesulitan menjerat mereka. Alasannya, pembalut enggak pernah jadi golongan narkotika.

"Kami tidak bisa menindak mereka, tindakan hukum tidak bisa karena barang yang digunakan legal dan bukan narkotika atau psikotropika," kata Kepala Bidang Pemberantasan BNNP Jawa Tengah, Ajun Komisaris Besar Suprinarto.

"Kami tidak bisa menindak mereka. Tindakan hukum tidak bisa karena barang yang digunakan legal dan bukan narkotika atau psikotropika," tambahnya.

Berhubung hukum enggak bisa berbuat banyak dalam hal ini, otoritas setempat sepakat menggencarkan edukasi kepada remaja di wilayah Jawa Tengah. Apalagi sejumlah ahli sudah mengungkap berbagai bahaya kesehatan yang mungkin muncul dari perilaku edan para pemabuk ini.

Menurut Deputi Bidang Pemberantasan BNN, Irjen Arman Depari, fakta ini enggak cuma ditemukan di Jawa Tengah. Di sejumlah wilayah di Jawa Barat hingga Ibu Kota, BNN menemukan fenomena serupa.

"Kami memang menerima informasi itu, memang tidak hanya di Jawa Tengah. Tapi di Jawa Barat dan sekitar Jakarta kita juga menemukan. Bahwa ada anak muda kita yang menggunakan kain pembalut wanita yang direbus, kemudian airnya diminum untuk bahan pengganti narkoba. Namun ini masih dalam pendalaman kita," tutur Arman sebagaimana ditulis detikcom.

Sementara itu, Forum Organisasi Kemasyarakatan Anti Narkoba (FOKAN) menyebut mabuk rebusan air pembalut sebagai bagian kecil dari gilanya fenomena 'coba-coba' di kalangan para pengguna narkoba. Soal pembalut, isu ini sejatinya sudah lama beredar, air rebusan pembalut mampu menghadirkan sensasi memabukkan. Dan siklus coba-coba macam ini, menurut FOKAN akan terus terjadi seiring meningkatnya kebutuhan akan narkoba.

"Ini sebenarnya macam-macam, mereka biasanya coba-coba misalnya obat ini obat ini mereka campurkan, lalu mereka mendapatkan reaksi yang bagaimana nggak ada, berarti itu termasuk yang mereka coba mereka dapat fly, berkhayal, mimpi, dan ini menjadi akhirnya dikonsumsi massal," tutur Presidium FOKAN, Jefri Tambayong, ditulis Islampos.

Lawan sugesti!

BNN sendiri enggak betul-betul meyakini pembalut mengandung zat-zat tersebut. Ada dugaan, kemungkinan pembalut dijadikan modus operandi para pengedar narkoba. Makanya, BNN terus mendalami temuan ini.

"Rasanya terlalu jauh (pembalut mengandung bahan narkoba). Saya tidak yakin. Mereka (produsen pembalut) enggak akan terima kalau ada bahan-bahan seperti obat penenang saat pembuatan. Tapi kemungkinan yang bisa terjadi, ada modus operandi penyelundupan (narkoba), supaya enggak ketahuan banget, direbus saja," kata ahli kimia farmasi BNN, Kombes Mufti Djusnir kepada Merdeka.

Kata Mufti, efek yang dirasakan para peminum air rebusan pembalut sejatinya belum tentu efek mabuk. Boleh jadi, para peminum air rebusan pembalut itu keracunan. Sebab, pembalut dipastikan mengandung antiseptik. Biar bagaimanapun, antiseptik jelas bersifat racun, racun yang bermanfaat sebagai pelindung dari mikroba dan infeksi. Nah, ketika dikonsumsi sebagai minuman, barangkali itu yang terjadi.

"Antiseptik itu tidak boleh masuk tubuh manusia karena mayoritas sifatnya racun ... Kita juga belum tahu efek dari konsumsi antiseptik itu, apakah pusing atau keracunan. Bisa jadi itu gejala yang dirasakan si peminum rebusan pembalut itu, keracunan bukan fly," tutur Mufti.

"Tapi itu baru analisa, perlu ada penelitian apakah kandungan daripada zat yang ada di pembalut itu apa bisa buat fly atau tidak, yang jelas, mereka terlalu sugesti, kemudian merasa oke," tambahnya.

Andai bukan keracunan, Mufti lebih meyakini efek yang ditimbulkan dari meminum air rebusan pembalut sebagai sugesti belaka. Mufti bilang, pada dasarnya sugesti memang selalu jadi perkara yang sangat memengaruhi perilaku pengguna narkoba, termasuk dalam kasus ini.

"Saya rasa lebih pada sugesti. Mereka para pecandu itu kan punya grup, dan ada diskusi misalnya barang nggak ada lagi. Lalu, dia mau pakai apa lagi? Nah mungkin di grup itu ada yang mencetuskan dengan rebusan itu, Nah sugesti seperti itu sangat kental untuk sesama penarkoba. Buktinya, biasanya pakai ganja terus kurang on, pakai sabu yang lebih on, belakangan merasa kurang, lalu pakai pil," kata Mufti.
Bagikan :
Topik :

Reporter : Yudhistira Dwi Putra
Editor : Yudhistira Dwi Putra
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU
Review
12 Desember 2018 08:49 WIB

Berapa Harga ROG Phone di Indonesia?

Harganya mencapai belasaan juta
Lifestyle
12 Desember 2018 07:46 WIB

VIDEO: One Direction Bakal Reuni Besar

Ada kemungkinan mereka reuni saat liburan Natal
Lifestyle
12 Desember 2018 07:05 WIB

Instagram Saring Komentar Otomatis dalam Bahasa Indonesia

Bye bye bully dan hate speech~~
Lifestyle
12 Desember 2018 06:27 WIB

Samsung Kembangkan Jaringan 5G untuk Mobil Terhubung

Kerja sama ini dilakukan dengan Otoritas Keselamatan Transportasi Korea (KOTSA)
Lifestyle
11 Desember 2018 21:21 WIB

Kenapa Harus Iklan Blackpink?

Haruskan muncul petisi, atau hanya sekedar nasihat yang tak diinginkan warganet?