Kamis, 24 Januari 2019
Antigolput (Sumber: Istimewa)
17 Juni 2018 18:49 WIB

Menanti Perubahan Sumut dengan Tidak Golput

Lupakan pengalaman pahit 51.50 persen golput pada Pilgub Sumut 2013
Bagikan :


Jakarta, era.id - Pemilu sejatinya merupakan pesta demokrasi rakyat. Semua lapisan masyarakat yang sudah punya hak pilih akan berpartisipasi menentukan perubahan daerahnya ke arah yang lebih baik, dengan bergerak maju dan tidak mundur, apalagi jalan di tempat. 

Apa yang harus maju? Tidak lebih adalah pembangunan di segala bidang, dengan asas pemerataan dan berkeadilan, baik kesejahteraan, infrastruktur, ekonomi, hingga sumber daya manusia. Dimulai di tingkat paling dasar, yaitu moralitas, budi pekerti dan mentalitas.

Yang dibangun pun harus terukur, dikenal dengan nama indeks pembangunan manusia (IPM) atau human development index (HDI). Jadi rakyat perlu tahu, apa yang jalan di tempat, apa yang mangkrak. IPM menilai sejauh mana usia dan harapan hidup manusia; tingkat pendidikan dan standar hidup di suatu wilayah, ada di tingkat maju, berkembang atau terbelakang alias terduduk. 

Bagaimana dengan Provinsi Sumut? Data BPS 2017 via ipm.bps.go/id/data/nasional IPM Sumut berada di peringkat 12 nasional, dengan nilai 70.57. Untuk lima besar, DKI Jakarta di nomor urut satu (80.06), disusul DIY (78.89), Kaltim (75.12), Kepri (74.45) dan terakhir Bali (74.30). Artinya, Sumut harus menelan pil pahit, jauh terpuruk di posisi 12, di bawah Aceh dengan urutan ke-11. 


Baca Juga : Gubernur Baru Sulsel Janjikan Perizinan Simpel

Baca Juga : Alasan Kenapa Melakukan Korupsi


(Infografis/era.id)

Angka IPM jelas jadi acuan, karena tidak dipungkiri, Sumatera Utara adalah gerbang dan barometer ekonomi di bagian Barat Indonesia yang kaya akan sumber daya alam dan sumber daya manusia. Namun perangkat pemerintah selaku pemangku kepentingan tidak dapat menjalankan amanah rakyat dengan baik.

Apapun itu, pembangunan manusia menempatkan manusia sebagai tujuan akhir dari pembangunan, bukan alat dari pembangunan. Maka dari itu, United Nation Development Programme-UNDP, merumuskan tujuan pembangunan adalah menciptakan lingkungan yang memungkinkan rakyat untuk menikmati umur panjang, sehat dan menjalankan kehidupan yang produktif. 

Prof. Miriam Budiardjo (1923 - 2007), pakar ilmu politik Indonesia pernah mengatakan bahwa politik itu merupakan sebuah cara yang diusahakan untuk mencapai kehidupan yang baik. Benar gak ini? Bagi pembaca pemerhati politik dan sosial masyarakat, tidak terlalu sulit menjawab ini.

Baca Juga : Belum Ada Cahaya di Kasus Novel Baswedan

Politik Indonesia dalam satu dasawarsa terakhir, antara nafsu perubahan ke arah yang lebih baik, ternyata bagi sebagian kelompok di republik ini punya syahwat besar untuk berkuasa dengan cara-cara yang tidak layak, terlebih mempolitisasi semua cara untuk meraih kekuasaan. Bukan rahasia umum lagi jika pihak oposisi pemerintah, lebih dikenal dengan politik menghujat, daripada membangun politik gagasan dan solusi.

Jika kepala sudah berjalan lurus, bawahan belum bisa dijamin lurus, cermin dari banyaknya operasi tangkap tangan pejabat publik oleh KPK. Ingat adagium Lord Acton (1834 - 1902) "Power tends to corrup, but absolute power corrupts absolutely" (kekuasaan cenderung untuk disalahgunakan dan kekuasaan mutlak pasti disalahkangunakan). 


(Infografis/era.id)

Kembali ke Sumut, yang akan melaksanakan pesta demokrasi 27 Juni 2018, Indonesia Corruption Watch (ICW) melalui Koordinator Divisi Korupsi Politik, Donal Fariz, beberapa waktu lalu merilis data dalam sebuah Diskusi Publik "Sumut Darurat Korupsi". Sumatera Utara menduduki peringkat ketiga setelah Jawa Timur dan Jawa Barat sebagai daerah terbesar angka korupsinya. 

Di tahun 2017, total kerugian negara mencapai Rp286 miliar dari 40 kasus korupsi yang ditangani penegak hukum di Sumatera Utara. Menyikapi hal ini, masyarakat Sumut harus jeli melihat rekam jejak masing-masing paslon, tidak salah menentukan pemimpin untuk lima tahun ke depan, yang pada akhirnya berujung kasus korupsi dan mendekam di hotel prodeo. 

Dua periode gubernur Sumut lalu menjadi catatan kelam, masih di ingatan kita, antara eksekutif dan legislatif masih belum menjalankan fungsinya secara maximal (baca: kasus suap GPN, mantan Gubsu kepada sejumlah anggota dewan terkait pengesahan APBD 2014-2015 dan penolakan hak interplasi anggota dewan yang berujung korupsi massal)

Intinya, mari berani memilih pimpinan yang bersih, rekam jejak jelas, transparan dan profesional. Tidak saatnya lagi calon pemimpin itu coba-coba, tidak cakap dalam ilmu pemerintahan, yang hanya menebar retorika bermuatan utopia; bergerak dalam bayangan, yang pada akhirnya tidak mampu merealisasikan program-program yang elok di atas kertas. 

Baca Juga : Pilkada Sumut dan Persimpangan Primordialisme-Universalisme

Untuk pemilih pemula dan pemilih kelas menengah di Sumut, mari bangkit untuk memberikan pilihan terbaik bagi Sumut Hebat lima tahun ke depan. Lupakan pengalaman pahit 51.50 persen golput pada Pilgub Sumut 2013 lalu, yang mana tingkat partisipasi masyarakat hanya 48.50 persen dengan DPT sebanyak 10.310.972 jiwa. Analisa saya, masyarakat Sumut saat itu mulai jenuh, tidak ada publik figur mumpuni yang punya rekam jejak jelas, terbukti 2 para mantan gubernur terjerat kasus korupsi. 

Menjawab tantangan untuk Sumut Hebat, Djarot-Sihar hadir sebagai salah satu bagian dari demokrasi untuk perubahan ke arah yang lebih baik. Beda pilihan adalah warna demokrasi, raih kemenangan dengan cara terhormat, beradab, dan menjunjung tinggi kemanusiaan. Kemenangan masyarakat Sumatera Utara terhadap korupsi, intoleransi, diskriminasi akan didapatkan dengan cinta kasih, tanpa amarah, tanpa intimidasi.


(Infografis/era.id)

Untuk yang belum menentukan pilihan, mari buka mata hati dan pikiran untuk tidak Golput. Bersama ke TPS untuk salurkan suara Anda. Kata-kata Berthold Brecht (1898-1956), seorang penyair Jerman, dramawan, sutradara teater dan marxis, nasehatnya penting kita renungkan: "Buta yang terburuk adalah buta politik, dia tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahwa biaya hidup, harga kacang, harga ikan, harga tepung, biaya sewa, harga sepatu dan obat, semua tergantung pada keputusan politik. Orang yang buta politik begitu bodoh sehingga ia bangga dan membusungkan dadanya mengatakan bahwa ia membenci politik. Si dungu tidak tahu bahwa dari kebodohan politiknya lahir pelacur, anak terlantar dan pencuri terburuk dari semua pencuri, politisi buruk, rusaknya perusahaan nasional dan multinasional yang menguras kekayaan negeri."

Bagi mereka yang kerap bilang "Ngapain sih ribut, siapapun gubernurnya, presidennya, kita tetap begini aja, gaji begini aja, tetap nguli, miskin tambah miskin", hidup ini tidak sekerdil mencari uang buat makan, akan tapi kepedulian kita terhadap sesama, keadilan dan pemerataan. Jadi tidak usah dipungkiri, harga kebutuhan hidup, biaya transportasi, BBM, harga susu dan suku bunga bank bagi nasabah simpanan maupun kreditur, semuanya bergantung pada keputusan politik.

Bagi pemilih pemula, pemilih yang masih ragu atau bagi yang belum menentukan pilihan, siapapun pilihan anda, sudah ikut andil dalam semangat perubahan, wujud dan cermin dari setengah Sumatera Utara karena hanya dua pilihan konstestan di Pilkada Gubernur dan Wakil Gubernur kali ini. Mari menuju Sumut hebat, semua urusan mudah dan transparan. 

Darmawan
Pemerhati Sosial Politik, Lingkungan Hidup dan Perkebunan. Berdomisili di Medan.


Era ide adalah kumpulan tulisan dari para pemikir negeri ini. Kami mau era ide bisa memberikan pemahaman baru bagi pembaca media ini. Jika ada punya opini kamu tentang sebuah peristiwa atau kejadian, silakan kirim tulisan ke redaksi@era.id.
Bagikan :

Reporter : ERA.ID
Editor : Ahmad Sahroji
KOMENTAR
GRAFIS
BERITA TERBARU
Lifestyle
24 Januari 2019 19:33 WIB

Betapa Mulianya Seorang Roger Waters

Pendiri Pink Floyd ini mempertemukan seorang ibu dengan dua anaknya yang diculik
Nasional
24 Januari 2019 19:09 WIB

Kubu Prabowo Memaknai Salam Tiga Jari Ahok

Ini pertanda tidak ingin terlibat Pilpres 2019
Nasional
24 Januari 2019 18:44 WIB

Hottest Issue Malam, Kamis 24 Januari 2019

Ada berita tentang doa Ahoker, kemunculan Bripda Putri dan OTT Bupati Mesuji 
Olahraga
24 Januari 2019 18:21 WIB

Cedera Kaki Neymar Kambuh Lagi

Tuchel pun pusing tujuh keliling
Peristiwa
24 Januari 2019 17:53 WIB

Temui Kubu Jokowi, Dubes Asing Bantah Berpihak di Pilpres 2019

Enggak ada keberpihakan, ini demokrasi negara orang cuy